Anomali Petani Cengkeh, Sugawa Korry Minta Harga Dinaikkan

  • Whatsapp
SUGAWA Korry. Foto: gus hendra
SUGAWA Korry. Foto: gus hendra

KEHIDUPAN para petani cengkeh sejauh ini masih terbilang kuat menghadapi badai pandemi Covid-19, sekurang-kurangnya sampai empat bulan ke depan. Ladang cengkeh juga masih memberi kehidupan bagi tenaga kerja dan pendapatan untuk masyarakat. Namun, jika kondisi harga cengkeh tidak ada penyesuaian, situasi itu diyakini tidak bertahan lama. Pandangan itu dilontarkan Wakil Ketua DPRD Bali, I Nyoman Sugawa Korry, belum lama berselang.

Menurut Sugawa, tidak banyak pihak, termasuk pemerintah, menyadari para petani cengkeh mampu memberi solusi dalam bentuk kesempatan kerja. Pun pendapatan kepada masyarakat tingkat bawah, paling tidak untuk periode empat bulan ke depan. Di Bali, terangnya, ada 52.413 kepala keluarga (KK) sebagai petani cengkeh. Dari jumlah tersebut, sekira 478.725 orang terlibat di dalamnya sebagai tenaga kerja pada saat musim panen.

Baca juga :  DPRD Bangli Setujui Ranperda LPJ APBD 2019 Jadi Perda

“Secara nasional ada 1.059.222 KK petani cengkeh dan sekitar 10 jutaan tenaga kerja terlibat di dalamnya. Bulan Juli ini mulai panen, dengan ongkos petik 5000 per kilogram . Per hari itu pendapatan mereka sekitar 150 ribu selama empat bulan ke depan, artinya ada sekian banyak orang terbantu oleh petani cengkeh,” ungkap Sugawa.

Persoalan yang terjadi, urainya, harga cengkeh saat ini terjun bebas di kisaran Rp 60.000/kg kering. Pada saat yang sama, jelasnya, para petani harus mengeluarkan ongkos petik dan proses pengeringan antara 45 persen sampai 50 persen dari kapasitas produksi. Hal ini, serunya, seakan anomali. “Sebab, petani cengkeh bisa membantu menyerap tenaga kerja, tapi di sisi lain itu terjadi karena ada pengorbanan para petani itu,” lugas Ketua DPD Partai Golkar Bali tersebut.

Baca juga :  Polda Bali Selidiki Dugaan Penimbunan Masker

Agar situasi ini tidak terus berlarut-larut, dia mengusulkan intervensi pemerintah dalam bentuk menaikkan harga cengkeh. Caranya, dengan merevisi Peraturan Menteri Keuangan No. 152/PMK.010/2019 dan mengembalikan ke Peraturan Menteri Keuangan No.146/PMK.010/2017 tentang tarif hasil tembakau. “Belum (ada perhatian pemerintah), dan mulai bulan Juli ini panen cengkeh dimulai,” pungkasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.