74 Tahun Bhayangkara dan Tantangan Pilkada 2020 di Masa Corona

  • Whatsapp
KAPOLDA Petrus Golose menyalurkan bantuan paket sembako kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 di Denpasar, Jumat (26/6/2020) serangkaian HUT ke-74 Bhayangkara. Foto: Ist
KAPOLDA Petrus Golose menyalurkan bantuan paket sembako kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 di Denpasar, Jumat (26/6/2020) serangkaian HUT ke-74 Bhayangkara. Foto: Ist

TUA-tua kelapa, makin tua makin berguna. 1 Juli 2020, genap 74 tahun korps Bhayangkara berusia dengan banyak jejak dan dinamika bercerita. Selaksa tantangan mengiringi, kerja keras Polri melindungi bangsa agar lolos ujian pandemi niscaya paling dinanti.

Sejak pandemi Covid-19 alias Corona diumumkan sebagai bencana nasional pada awal Maret lalu, tetiba bertambah beban dan tanggung jawab polisi selain sebagai aparat keamanan. Membantu distribusi bahan pokok dan makanan untuk warga yang terdampak adalah satu di antaranya, termasuk yang dijalankan Polda Bali dengan jajaran polres. Puluhan ribu paket sembako dan makanan, hasil gotong royong polisi maupun sumbangan pihak ketiga, disalurkan ke masyarakat. Ini bermakna simbolik bahwa polisi berempati dan memiliki rasa krisis terhadap kesusahan masyarakat, tidak sekadar hidup dalam ruang sempit bernama penegakan hukum belaka.

Kapolda Irjen Petrus Reinhard Golose juga memberi “kado” kepada jurnalis saat peresmian press room Polda, berupa tes cepat Corona gratis. Perhatian ini mudah ditangkap sebagai bentuk perhatian Polri atas kesehatan jurnalis, sekaligus harapan agar informasi kredibel tetap disuplai media ke publik di tengah tsunami informasi di dunia maya.

Baca juga :  Membumikan Politik di Mata Generasi Internet

Suntikan moral polisi kala pandemi bermutasi menjadi teror mental masyarakat, dihadirkan dengan disinfeksi jalanan, terlepas belakangan upaya itu dicibir tidak bermanfaat membunuh virus di aspal. Kapolda sampai menggandeng Unud membuat disinfektan dan penyanitasi tangan berbahan dasar arak untuk dibagikan ke masyarakat, ketika bahan baku alkohol mahal dan langka di pasaran. Kesampingkan dulu seperti apa hasilnya, satu hal terlihat yakni perjuangan itu demi memberi kepercayaan dan harapan bahwa negara, melalui polisi, hadir membantu mengatasi masalah masyarakat.

Kilas balik ke 2019, Polda Bali dinobatkan sebagai Polda terbaik di Indonesia dengan indeks kepercayaan 92,81 persen dan indeks kepuasan 88,53 berdasar hasil survei MarkPlus Insign. Survei melibatkan 29.250 responden acak di wilayah hukum 34 polda dan 461 polres se-Indonesia. Akademisi cum pengajar di Lemdiklat Polri, Hermawan Sulistyo, menyebut ukuran keberhasilan polisi bukan dari seberapa banyak kasus diungkap (koersif) tapi juga pencegahan (preventif) dan penangkalan (preemtif).

Baca juga :  Puluhan Napi Rutan Gianyar Terima Asimilasi

Salah satu elemen yang mendongkrak kepuasan publik di Bali adalah tiarapnya aksi premanisme dan bentrok ormas, yang sebelum era Petrus Golose acap terjadi. Impotensi premanisme termasuk konteks pencegahan dan penangkalan dimaksud. Sayang, ada satu yang terlihat masih kurang di Polda Bali dan jajaran: pengungkapan kasus korupsi!

Kini, tantangan ke depan adalah menjamin kelancaran tahapan dan pelaksanaan Pilkada 2020 di enam kabupaten/kota di Bali. Dengan segala keterbatasan, Polda harus mengampu beban baru, mulai menjaga pemulihan ekonomi sampai kondusivitas politik melalui pilkada. Sebab, seperti dikatakan Mendagri Tito Karnavian, kesuksesan pilkada turut menjadi penentu keselamatan ekonomi nasional, dengan hadirnya para kepala daerah legitimated yang akan menjalankan kebijakan publik untuk rakyat. Jika gagal pilkada, daerah akan dipimpin seorang pelaksana tugas kepala daerah yang kewenangan dan kinerjanya layak diragukan.

Baca juga :  Sesak Nafas, Bule Australia Meninggal di Kamar Kos

Membincang Pilkada, Ketua KPU Bali, I Dewa Agung Lidartawan, berharap polisi mengawal mulai TPS sampai deteksi kejahatan urusan siber. Dia minta polisi mengenakan APD di TPS sebagai antisipasi jika ada pemilih berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid-19, pun ingin polisi mengetatkan protokol kesehatan di TPS dengan mencegah kerumunan. “Karena sekarang kampanye virtual, semoga polisi bisa mengawasi jangan sampai ada kampanye hitam di media sosial,” harapnya.

Sementara Ketua Komisi I DPRD Bali, Nyoman Adnyana, berpesan Polri merawat profesionalisme, karena masyarakat akan menilai produk kinerja polisi. “Jangan membuat perilaku yang memberi stigma buruk, sehingga marwah dan wibawa Polri dihormati masyarakat. Lakukan terbaik, dan saya optimis Polri mampu memberi terbaik untuk masyarakat,” tegasnya.

Selamat HUT ke-74 dan selamat menuntaskan dharma baktimu, wahai Bhayangkara. Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.