MATARAM – Wakil Ketua DPRD NTB, Mori Hanafi, mengunjungi Lutfi Ramli (34), pedagang bakso cilok asal Lingkungan Karang Kateng, Kelurahan Punia, Kota Mataram, Kamis (29/7/2021). Sosok Lutfi belakangan viral di media sosial (medsos) gegara gaya dia berjualan dengan mengenakan jas hitam, dasi, celana, dan sepatu ala pejabat. Mori menemui Lutfi yang berjualan di Jalan Pelikan, Kota Mataram itu lantaran penasaran atas kiprahnya yang nyentrik.
“Saya penasaran, makanya saya cari informasi di mana Lutfi jualan dan akhirnya ketemu di Jalan Pelikan. Jujur saya kaget dan kagum atas gaya nyentriknya jualan mengenakan jas hitam dan baju rapi,” kata Mori sembari tersenyum.
Dia mengapresiasi kreativitas Lutfi yang memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 dalam berjualan. “Tadi saya ngobrol banyak dengan Pak Lutfi, dia curhat motornya masih kredit. Sempat dijanjikan motor listrik untuk jualan tapi enggak kesampaian. Akan kami suarakan (aspirasinya) ke depan,” tutur Mori yang memberi rezeki lebih untuk Lutfi.
Ditemui pejabat publik sekelas Mori tentu jadi kejutan buat Lutfi. Dia benar-benar tidak menyangka kreativitasnya cepat menyebar dan mendapat sorotan warganet. Kini banyak yang menghubungi dan mengajak berteman di medsos. Ditemui di rumahnya, dia berujar gayanya itu hanya bagian dari upaya agar bisa bertahan di tengah sulitnya situasi akibat pandemi.
”Awalnya sih karena kondisi pandemi ini, apalagi dengan PPKM Darurat, pedagang kecil seperti saya kesulitan sekali mendapat pelanggan,” kisahnya.
Selama pandemi, omzet jualannya turun drastis, karena semua aktivitas masyarakat dibatasi, termasuk pembeli cilok ikut berkurang. Karena itu dia mulai berpikir bagaimana caranya usaha ciloknya yang dijalani sejak 2014 kembali bergairah. Apalagi itu adalah mata pencarian utama, sampai dia bisa membangun rumah. Meski pernah bekerja di Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPBD) NTB, dia mendaku hasil jualan cilok masih lebih bagus.
Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, Lutfi banyak mendapat masukan dari kakak-kakaknya. Keluarga mendorongnya membuat terobosan baru supaya cilok dagangannya tetap laris. ”Akhirnya terpikir untuk (jualan) menggunakan jas, sepatu, kemudian pakai dasi,” tuturnya.
Inovasi tambahan, dia membuat branding ciloknya dengan sebutan “Cilok Pejabat, dari Rakyat untuk Rakyat”. Itu karena dia sehari-hari bekerja sebagai Kepala Lingkungan Karang Kateng. Untuk mewujudkan ide itu, Lutfi dibantu kakaknya, Nurul Hikmah, yang kebetulan mengelola Salon Geneh. Sebelum jualan keliling, dia didandani di salon kakak. Namun, saat kali pertama keluar jualan memakai jas itu dia sempat jadi bahan tertawaan karena terlihat aneh.
Saking anehnya, Habibah, kakaknya paling besar, sempat malu melihat adiknya berjualan memakai jas. Tapi Lutfi tetap menjalani, meski kadang terasa cukup gerah pakai jas dan dasi berjam-jam di pinggir jalan.
Usahanya tidak sia-sia. Setelah hampir semingggu berjualan, hasilnya mulai tampak. Dia mendapat sorotan banyak orang, dan banyak yang merekam karena dianggap unik. Sampai akhirnya salah satu video yang direkam warga Punia tersebar dan viral di medsos. ”Dengan dukungan keluarga dan kawan-kawan akhirnya cilok pejabat dari rakyat untuk rakyat ini viral,” katanya bangga.
Yang paling penting, ujar Lutfi, ciloknya kembali laris, bahkan lebih laris dari biasanya. Sebelum pakai jas, cilok yang laku biasanya hanya 50 mangkok atau setara 2 kg dalam sehari. Omzet itu menurun dratis selama pandemi, terutama sejak PPKM Darurat diberlakukan. Tapi sekarang dalam sehari dia bisa menghabiskan 3 kg bahan cilok, daging dan tepung.
”Dari segi rasa pelanggan tidak kecewa, bahkan pelanggan tidak pernah membeli 5 ribu, ada yang 30 ribu sampai 50 ribu,” tambahnya.
Lutfi biasa jualan di kawasan Jalan Airlangga, Kota Mataram, mulai pukul 17.30 Wita sampai pukul 21.00 Wita. Setelah keliling dia biasanya mangkal di depan toko Alfamart Airlangga menunggu pembeli. rul























