Tradisi Penjor Anten-Ngejot Tumpeng Masih Lestari di Gianyar

  • Whatsapp
NGEJOT tumpeng di salah satu rumah pasangan pengantin baru. Foto: ist
NGEJOT tumpeng di salah satu rumah pasangan pengantin baru. Foto: ist

GIANYAR – Masyarakat Gianyar masih menjalankan tradisi budaya yang berkembang sejak dahulu, salah satunya tradisi ngejot tumpeng saat hari raya Galungan. Meski tidak disebutkan dalam lontar, tapi budaya ini masih lestari sampai sekarang. Hal itu diungkapkan warga Gianyar, I Ketua Buda, Kamis (15/4/2021).

Setiap daerah, sebutnya, memiliki tradisi tersendiri setiap Hari Raya Galungan. Seperti di Gianyar, bila ada anggota keluarga yang melakukan pernikahan maka wajib membuat penjor anten. Biasanya penjor anten dibuat lebih mewah dari penjor biasa. Beda antara penjor anten dan penjor biasa adalah lamak-nya, karena penjor anten biasanya panjang lamak-nya lebih dari tiga meter. “Sekarang banyak yang buat penjor megah, tapi tetap bisa dibedakan antara penjor anten dan biasa,” jelasnya.

Bacaan Lainnya

Penjor anten ini juga dibuat dengan bergotong royong, biasanya oleh warga yang tinggal dekat pasangan pengantin tersebut. Penjor anten biasanya dihias lebih mewah, di samping juga ukurannya lebih besar dari penjor biasa. Selain sebagai tanda kalau ada anggota keluarga di rumah itu melaksanakan upacara perkawinan, juga sebagai tanda bagi warga banjar setempat untuk ngejot tumpeng. Banyaknya ngejot tumpeng dalam satu banjar bisa dihitung dari jumlahpenjor anten yang ada di wilayah banjar tersebut. 

Baca juga :  Jalur Independen Tak Laku di Denpasar

Pada saat Galungan, ulasnya, pasangan pengantin baru mendapat tumpeng Galungan dari masyarakat yang silih berganti datang ke rumah, terutama dari warga satu banjar. Tradisi ini oleh masyarakat dikenal dengan istilah ngejot tumpeng Galungan. “Hanya saja ada beberapa desa yang ngejot tumpeng tidak pada Galungan, tapi pada Umanis Galungan,” jelasnya.

Tradisi ini juga tidak ada di semua desa di Gianyar, ada beberapa desa yang tidak melaksanakan tradisi seperti ini. Walau tidak tercantum dalam suatu lontar, sambungnya, tapi merupakan suatu kebiasaan turun-temurun yang terus dijalani setiap Galungan. “Ngejot tumpeng lebih menekankan tradisi yang mengartikan sebagai ungkapan berbagi kebahagian,” lanjutnya.

Warga banjar yang datang membawa tumpeng berisi buah, jajan dan sampian tumpeng ini mendatangi rumah si pengantin, yang “diganti” dengan jajan uli dan tape. Selain warga banjar dan juga sanak keluarga, beberapa warga di luar banjar yang diundang juga membawa tumpeng. “Pada sore harinya, tumpeng-tumpeng yang diberikan masyarakat ini dilakukan prosesi natab oleh pasangan pengantin,” tandasnya. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.