Covid-19 Jadi Alasan Pemilih di Denpasar Ogah ke TPS, Paslon Dinilai Kurang Menarik

  • Whatsapp
KETUA KPU Denpasar, I Wayan Arsajaya, saat membuka diseminasi hasil riset Pilkada Denpasar 2020. Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi tanggung jawab kolektif semua pihak. Foto: hen
KETUA KPU Denpasar, I Wayan Arsajaya, saat membuka diseminasi hasil riset Pilkada Denpasar 2020. Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi tanggung jawab kolektif semua pihak. Foto: hen

DENPASAR – Relatif rendahnya tingkat partisipasi masyarakat saat Pilkada Denpasar 2020 ternyata berkorelasi dengan kondisi pandemi Covid-19. Selain itu, hadirnya dua paslon yang berkontestasi juga dinilai kurang menarik minat pemilih untuk sampai ingin menggunakan hak pilihnya. Dua data tersebut tersaji dalam diseminasi hasil riset Pilkada Denpasar yang dirilis oleh KPU Denpasar, Senin (12/4/2021).

Ketua KPU Denpasar, I Wayan Arsajaya, mengakui tingkat partisipasi masyarakat Denpasar dalam Pilkada 2020 menempati urutan juru kunci. Jika dalam Pilkada 2015 mencapai 56 persen, justru menurun jadi 54 persen dalam Pilkada 2020. Dia meyakini hal itu ada latar belakang dan penyebab, karenanya menggandeng Universitas Warmadewa dan Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) untuk riset ilmiah serta evaluasi ke depan.

Bacaan Lainnya

Mencegah hal serupa terulang dalam hajatan politik berikutnya, Arsajaya mendorong semua pihak untuk mengkaji partisipasi kolektif. Mulai partisipasi masyarakat, peran serta pemerintah, keaktifan parpol dan paslon serta entitas lain yang berhubungan dengan calon dan keterpilihan.

“Meskipun rendah, partisipasi masyarakat tidak mengurangi makna keterpilihan pemenang. Anggaran Pilkada mengakomodir semua pemilih yang terdata, jadi ini antara opini pemborosan anggaran atau hak (politik) masyarakat tidak bisa diganggu. Kami ingin membangun tanggung jawab kolektif,” terangnya.

Baca juga :  Wawali Jaya Negara Mendem Pedagingan di Pura Maospahit Tonja

Akademisi Undiknas, Nyoman Subanda, mengapresiasi KPU yang ingin mengevaluasi apa pemantik rendahnya tingkat partisipasi masyarakat. Padahal KPU sudah mengerahkan segala upaya untuk sosialisasi untuk mengajak ke TPS. Dalam riset ini, Undiknas fokus ke media dengan pendekatan kualitatif.

“Responden sebanyak 1.020 orang di semua kecamatan yang sudah sah sebagai pemilih, dan kami melibatkan kaum milenial yang lebih aktif dengan khusus menyasar mahasiswa. Wawancara mendalam juga dilakukan dengan tokoh masyarakat dan parpol,” ulasnya.

Dari responden yang disurvei, 27 persen di antaranya tidak memakai hak pilihnya pada 9 Desember 2020 itu. Yang menarik adalah alasan mereka ogah datang ke TPS. Sebanyak 10 persen beralasan karena ada kegiatan penting seperti upacara agama atau di luar daerah, dan 10 persen karena tidak mendapat kartu pemilih. “Ada 20 persen beralasan karena paslon tidak menarik, dan 60 persen karena alasan Covid-19,” papar staf riset Undiknas

Mengenai sumber informasi terkait Pilkada, 65,3 persen responden mengaku mendapat dari media sosial (medsos), dan 37,9 persen melalui baliho. Karena medsos dirasa efektif, Undiknas merekomendasikan penggunaan medsos berlanjut pada pilkada selanjutnya agar pesan lebih cepat diterima publik. Selain generasi milenial, pesan di medsos juga diserap generasi X (di atas 40 tahun) dan generasi baby boomers (di atas 50 tahun) yang aktif bermedsos. Medsos berperan penting karena banyak keunggulan, termasuk menjadi pemberitaan itu sendiri.

Baca juga :  KONI Pusat Minta Pelatih Program Ulang Pembinaan Olahraga

Catatan lain dari riset ini, tingkat partisipasi dipengaruhi oleh tingkat pertemuan tatap muka yang minim dilakukan, karena adanya restriksi mencegah kerumunan akibat pandemi Covid-19. Kondisi itu pula menyebabkan komunikasi dan sosialisasi paslon hanya menyasar di lingkungan tim sukses saja. Publik Denpasar juga di atas 40 persen dapat mengerti pesan sosialisasi yang dilakukan KPU, parpol maupun tim sukses paslon. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.