MANGUPURA – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali XV 2022 sudah berlalu, namun kontingen Badung masih dibayang-bayangi dengan kegagalan tim sepakbola meraih medali emas. Sukses Gumi Keris mempertahankan juara umum untuk kesembilan kalinya, terasa hambar tanpa kalungan medali emas cabor paling bergengsi itu.
Bahkan Ketua Umum KONI Badung, Made Nariana mengaku sering kena sindir dari kontingen Denpasar yang sukses meraup emas sepakbola. ”Badung boleh bangga dengan gelar juara umum Porprov Bali XV, namun medali emas sepakbola milik Denpasar,” ucap Nariana blak-blakan saat rapat evaluasi dengan sejumlah Ketua Umum (Ketum) cabor, termasuk Askab PSSI Badung, Rabu (8/3/2023).
Berbanding terbalik dengan Porprov edisi sebelumnya (2019 di Tabanan), dimana gelar juara umum Kontingen Badung sangat pari purna karena dilengkapi dengan sekeping medali emas sepakbola. Nariana pun mengakui sepakbola memang cabor sangat bergengsi, bukan hanya di level Porprov tapi hingga PON, SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade.
Sekretaris KONI Badung Made Sutama yang mendampingi Nariana saat rapat tersebut, mengakui bahwa tim sepakbola Badung memang kalah kualitas dengan Denpasar yang merebut emas. Sutama juga menjadi saksi kekalahan Badung dengan skor 1-3 atas Denpasar pada final sepakbola Porprov Bali XV.
”Padahal kita bermain di kandang sendiri, seharusnya peluang menang bisa lebih besar, terlebih suporter kita juga lebih banyak. Tapi itu tidak cukup, karena kualitas tim kita memang kalah dari Denpasar,” ucap Sutama yang juga mantan pemain bola saat masih muda. ”Padahal saat Porprov 2019 di tempat netral (di Tabanan), Badung bisa sebagai juara dengan mengalahkan Denpasar di final,” imbuhnya.
Karena itu, baik Nariana maupun Sutama minta Askab PSSI Badung segera berbenah, terutama dalam hal regenerasi pemain maupun pelatih untuk menatap Porprov Bali 2025. Bahkan, keduanya juga sepakat perlu dilakukan reshufle pengurus, terutama yang tidak aktif atau hanya papan nama.
”Tolong mulai sekarang disiapkan, karena mencetak atlet (pemain) tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ujar Sutama, seraya menambahkan, pergatian pengurus yang tidak aktif adalah hal yang lumrah dilakukan. ”Di jajaran KONI Badung saja sudah beberapa kali dilakukan reshufle,” imbuhnya.
Perubahan Regulasi
Menyikapi arahan KONI Badung, Ketua Umum Askab PSSI Badung, Nyoman Graha Wicaksana menyebut beberapa kendala yang dihadapi sehingga tim sepakbola Badung gagal menyumbang emaspada Porprov Bali XV.
Yang paling utama dan sangat krusial adalah adanya perubahan regulasi secara mendadak yang dikeluarkan Asprov PSSI Bali, terutama menyangkut usia pemain. ”Kami bukan mencari-cari alasan pembenar, untuk menutupi kegagalan meraih emas. Tapi memang kenyataan seperti itu,” ungkapnya.
Dijelaskan Graha, awalnya soal usia pemain sudah disepakati kelahiran 2021. Tetapi saat tim sudah terbentuk, ada perubahan usia pemain menjadi usia kelahiran 2002. Dengan perubahan itu, Graha mengaku kehilangan 10 pemain andalan karena usianya lebih. ”Ke-10 pemain itu adalah sisa skuad saat meraih medali emas di Porprov 2019,” imbuhnya.
Perubahan regulasi membuat Askab PSSI Badung kelimpungan, berpacu dengan waktu mencari pemain pengganti yang kelebihan usia. Sekalipun dapat, tetapi kualitasnya pas-pasan. Selain itu, Askab juga tak ada kegiatan (kompetisi) medio 2020-2021 karena dampak covid-19 sehingga menyulitkan melakukan seleksi internal.
Bukan hanya itu, diakui Graha bahwa di internal tim sepakbola Badung juga kurang kondusif. Ada sejumlah pemain yang belum berbuat apa-apa untuk tim, sudah berani menuntut terlalu tinggi. Ke depannya, Hal ini tidak boleh terjadi dalam menghadapi even apa pun.
”Kami memang sudah berusaha, tetapi tetap gagal meraih emas. Beach soccer juga gagal meraih emas dan kembali dikalahkan Denpasar. Beruntung muka kami diselamatkan tim futsal yang akhirnya bisa meraup emas yang mengalahkan Denpasar di final,” urai Graha.
Untuk menatap Porprov 2025, Graha mohon dukungan KONI Badung agar dibantu menyelenggarakan kegiatan (kompetisi) secara rutin. ”Kompetisi tersebut akan dijadikan wadah untuk seleksi pemain-pemain Badung yang berkualitas,” ucap Graha yang juga anggota DPRD Badung itu.
Terkait pelatih, Graha menjelaskan, Askab PSSI Badung tetap memakai jasa pelatih Nyoman Sujata. Pelatih senior asal Jimbaran itu dipertahankan, dengan pertimbangan dia sukses mengantarkan Badung meraih medali emas di Porprov 2019. ”Tapi untuk Porprov 2025, kami belum putuskan siapa pelatih sepakbola Badung,” pungkasnya. yes























