Terapkan Prokes Ketat, SMA PGRI 2 Denpasar Sambut Kenormalan Baru

  • Whatsapp
WAKASEK Humas SMA PGRI 2 Denpasar, AA Ayu Seriati tampak mencuci tangan dengan sabun dan membilasnya di air yang mengalir. Foto: alt
WAKASEK Humas SMA PGRI 2 Denpasar, AA Ayu Seriati tampak mencuci tangan dengan sabun dan membilasnya di air yang mengalir. Foto: alt

DENPASAR – SMA PGRI 2 Denpasar sejak delapan bulan lalu, tepatnya pada Maret saat kasus Corona pertama ditemukan, telah membuat kebijakan bahwa siswa telah memulai belajar di rumah dengan sistem dalam jaringan (daring). Namun dengan adanya adaptasi kebiasaan baru, Kepala SMA PGRI 2 Denpasar, Komang Artha Saputra, telah menyiapkan sarana dan prasarana protokol kesehatan.

Seperti menyediakan wastafel tersebar di beberapa titik, hingga melakukan sterilisasi dengan penyemprotkan desinfektan seminggu sekali.

Bacaan Lainnya

“Menyambut adaptasi kenormalan baru, kami membentuk Satgas Covid-19 yang diketuai Waka Kesiswaan, bertugas setiap hari sesuai dengan protokol kesehatan. Pertama adalah cek suhu baik kepada siswa, guru ataupun tamu yang datang. Kedua memperingatkan cuci tangan dengan sabun di air mengalir. Ketiga, memakai masker. Jika memakai masker tentu tidak diperkenankan masuk sekolah. Selain itu, kami juga ada pendampingan dari Puskesmas,” kata Waka Kesiswaan  Ketut Mader didampingi Wakasek Humas AA Ayu Seriati, Selasa (10/11/2020).

Lanjut dia, setiap minggu dari desa juga datang ke sekolah ini untuk melakukan penyuluhan. “Jadi hingga hari ini siswa belum masuk. Namun karena ada pelantikan OSIS, sehingga hanya mereka yang dilantik saja yang masuk hari ini (kemarin-red). Jadi jika ada kegiatan tertentu baru kami mendatangkan siswa. Dan itu pun jumlahnya kami batasi, serta harus seizin orangtua,” imbuh Mader.

Baca juga :  Lampu Padam, Kariasa Dapati Rumah dan Dapur Ludes Terbakar

Sementara meringankan beban orantua siswa dalam pembelajaran daring ini, lanjut dia, selain bantuan dari pemerintah, pihak sekolah juga menurunkan bantuan pembelian kuota data. “Itu yang memang kurang dan kami rasakan sendiri. Tetapi, kami menyiasati itu dengan melakukan pertemuan virtual melalui aplikasi google meet. Nah disitu kami melakukan komunikasi dengan anak terkait bagaimana pembelajarannya, keadaan, hingga kesehatannya. Jadi setiap mata pelajaran (mapel) pasti ada pertemuan virtual,” beber Agung Seriati.

Pihaknya pun telah meminta para orang tua untuk melakukan pendampingan dalam proses pejaran jarak jauh ini. “Syukurnya sampai saat ini, siswa kami telah mengikuti pejaran jarak jauh secara online dengan baik. Artinya mereka masih mengikuti arahan guru dari sekolahnya,” tandasnya seraya mengatakan, total jumlah siswa dari kelas X, XI, dan XII sebanyak 623 siswa.  alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.