Setelah Setahun Daring, Siswa di Gianyar Semringah Diberlakukan PTM

  • Whatsapp
SISWA SMPN 1 Gianyar pulang setelah mengikuti PTM di sekolah. foto: adi

GIANYAR – Suasana berbeda nampak dalam pekan ini dalam dunia pendidikan di Kabupaten Gianyar, Bali. Para siswa semringah diantar-jemput orangtuanya, karena Gianyar sudah diberlakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai Senin (22/3/2021). Suasana seperti itu tidak pernah ditemui lagi sejak pandemi Covid-19, Maret 2020 lalu.

Salah satu siswa SMPN 1 Gianyar, Paramitha Putri, mengaku senang dengan diberlakukannya PTM, karena bisa berinteraksi langsung dengan guru dan teman-temannya. “Selama ini, saya hanya berhubungan dengan teman-teman lewat WA (Whatsapp) saja,” dakunya.

Bacaan Lainnya

Selain itu, dia mengaku bosan belajar dengan sistem daring. Kini dia bisa bertemu langsung dengan teman sekolah dan guru, meski hanya dua jam saja sehari. Siswi asal Kota Gianyar ini berharap secepatnya sekolah bisa buka normal seperti dulu lagi.

Hal sama diungkapkan salah satu siswa SD di Gianyar, Komang Wahyu. Dua jam di sekolah dirasa cukup mengobati rindunya dengan suasana sekolah. Pemberlakuan PTM juga dapat mengikis kejenuhannya selama setahun terakhir belajar di rumah.

“Saya senang bisa bertemu dengan teman sekolah, walaupun tidak bisa bermain seperti dulu. Kalau belajar daring, kadang-kadang sulit dimengerti, berbeda dengan PTM. Kalau sekarang bisa bertemu guru, jadi lebih mudah memahami pelajaran,” kisahnya.

Baca juga :  PAC Hanura Mengwi Siap Ciptakan Pilkada Damai dan Sehat

Diberlakukannya PTM juga mendapat sambutan baik dari orangtua siswa. Mereka sangat senang anaknya bisa sekolah seperti dulu lagi, walaupun terbatas dua jam saja. Mereka berharap secepatnya anak-anaknya bisa sekolah normal.

Nyoman Darmawan yang anaknya sekolah di SDN 2 Gianyar mengaku sangat mendukung diberlakukannya PTM. Selama belajar daring, dia mengakui kesulitan mengarahkan anaknya. “Kalau belajar daring, anak saya cenderung main gim atau nonton Youtube,” jelasnya.

Selain itu, selama belajar daring, dia sulit membatasi anaknya memakai gawai. Kalau dilarang main gawai, sang anak pasti beralasan lagi belajar daring. “Jadi sangat sulit untuk membatasinya. Dengan PTM ini, mudah-mudahan saya bisa membatasi anak bermain HP,” lugasnya.

Darmawan sangat berharap sekolah bisa dibuka normal meski harus dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Karena, menurutnya, dengan belajar di sekolah, selain bisa berinteraksi langsung dengan guru, siswa juga akan lebih mudah memahami pelajaran. Kalau mereka tidak mengerti, akan bisa bertanya langsung kepada gurunya. Dalam daring pun bisa, tapi tidak ada interaksi guru dan siswa.

Opini senada disuarakan Wayan Suparta, yang anaknya duduk di kelas VII atau kelas 1 SMP. Kata dia, anaknya bertemu dengan teman sekelasnya hanya beberapa kali saja. Itupun saat pembagian kelas dan pengambilan buku pelajaran, setelahnya nyaris tidak pernah ketemu.

Karena itu, anaknya tidak tahu siapa saja teman sekelasnya, apalagi teman satu sekolah. “Saya sangat bersyukur PTM bisa diterapkan di Gianyar, walaupun harus dengan prokes yang ketat,” pujinya.

Baca juga :  Pedagang Pelataran Pasar Kumbasari Denpasar Diatur Jarak

Dengan penerapan PTM ini, ia mengaku anaknya mulai kenal dengan teman sekelas, walaupun baru separuhnya. Karena dengan penerapan PTM 50 persen, setiap kelas dibagi dua sesi.

“Sudah hampir satu bulan anak saya sekolah di SMP, tapi baru kenal teman beberapa orang. Itu juga teman satu sekolah saat SD,” tuturnya seraya berharap PTM bisa diterapkan secara penuh. “Paling tidak pada tahun ajaran baru mendatang, PTM bisa diterapkan secara penuh,” pungkasnya. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.