POSMERDEKA.COM, MAKASSAR – Makassar adalah kota yang dikenal dengan pluralisme masyarakatnya, dengan penduduk yang berasal dari berbagai suku, agama, dan budaya. Kota ini memiliki sejarah yang kaya, dengan pengaruh dari berbagai kelompok etnis dan agama yang berbeda.
Sekretaris Kesbangpol Kota Makassar, Ibrahim Chaidar Said, mengatakan, pluralisme ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk budaya, kuliner, dan tempat wisata di Kota Makassar. Inilah terus dipegang oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Makassar, untuk terus merawat pluralisme di Kota Daeng.
Menurutnya, FPK hadir turut ambil bagian dari upaya negara dalam menjaga keberagaman, maka pembauran harus didorong. Jadi sangat tepat jika Mendagri mengeluarkan aturan itu.
“Pembentukan FKP ini berdasarkan Permendagri Nomor 34 Tahun 2006, dilaksanakan dalam rangka menjaga kerukunan antar warga dari berbagai etnis di kota Makassar,” ujar Ibrahim Chaidar Said, saat menerima kunjungan kerja Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Denpasar ke FPK Kota Makassar, Selasa (27/5/2025).
Ia mengatakan FPK merupakan forum yang sangat dibutuhkan di tengah heterogenitas suku dan ras dalam berbagai hal. FPK di Kota Makassar, sebut dia, saat ini sudah dibentuk sampai tingkat kecamatan dan kelurahan.
FPK kecamatan dan kelurahan ini memfasilitasi kerja sama antara FPK dengan instansi terkait, serta menjalin dialog dengan pemuka adat, suku, dan masyarakat untuk menyelenggarakan sosialisasi kebijakan terkait pembangunan kebangsaan. “Sejak zaman dulu Kota Makassar menjadi kota transit yang ramai dikunjungi pendatang dari barat ke timur, begitupun juga sebaliknya. Mereka datang dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia, sehingga Makassar dibangun dari perbedaan suku, ras dan lainnya. Inilah yang menguatkan kita, bersatu dalam perbedaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan FPK lahir dari berbagai kumpulan perbedaan suku, dan organisasi kedaerahan di Makassar. “Dalam praktiknya hampir semua suku dan agama yang ada di Makassar berbaur dalam FPK yang menjadi simbol kebersamaan tanpa melihat mayoritas dan minoritas, tidak ada putera daerah semuanya satu simbol yakni satu Makassar,” ujarnya.
Karenanya Ibrahim Chaidar Said berharap, forum ini dapat menjadi pioner dalam menciptakan keselarasan dan harmonisasi di tengah keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. “Dari Makassar perdamaian itu kita bangun. Makassar menjadi satu dalam keanekaragaman,” terang Ibrahim Chaidar Said.
Sekretaris Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Denpasar (Kesbangpol) Kota Denpasar, Nyoman Oka Saljana, mengatakan, kunjungan kerja ke Kota Makassar, telah memberikan banyak masukan positif. Sebagai mana tujuan FPK Kota Denpasar hadir dan melakukan studi tiru ke FPK Kota Makassar adalah untuk belajar jika ada potensi konflik di daerah, maka dapat mengatasinya.
“Kota Makassar memiliki pengalaman dalam mengantisipasi potensi konflik, FPK Kota Denpasar perlu belajar bagaimana menjaga kondusifitas masyarakat antara penduduk lokal dan pendatang” imbuh.
Selain itu, FPK Kota Makassar sudah sampai ke tingkat kelurahan dan ini mungkin dapat menjadi pemacu untuk FPK di Kota Denpasar untuk ke depan pembauran itu dilakukan sampai tingkat bawah sehingga kegiatan pembauran kebangsaan ini lebih terlihat dan dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan.
Ketua FPK Denpasar, I Made Arka; menyebut, pihaknya telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pembinaan Pembauran Kebangsaan, seperti, Parade Budaya Nusantara, melakukan sosialisasi wawasan kebangsaan di berbagai kalangan, seperti pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, serta peran aktif anggota FPK dalam menangkal paham-paham radikalisme dan intoleransi.
Kerukunan dalam kehidupan setiap hari, lanjut Made Arka, tercipta secara alami dan telah ada sejak dahulu. Ia menegaskan, pada prinsipnya, Denpasar dan Bali pada umumnya, mempertahankan budaya dengan diikat agama Hindu. Selain itu juga, budaya selalu diterapkan di tengah masyarakat sebagai implementasi kehidupan sehari-hari.
Dalam menjalin persatuan, ia menyebut penyaman dengan penganut agama lain. Misalnya, dengan menyebut nyama Selam (Islam), Kristen, Budha. Dimana di dalamnya mengedepankan dan membumikan spirit Vasudeva Kutumbakam yang artinya kita semua bersaudara. Dengan demikian akan selalu mengedepankan rasa persatuan dan persaudaraan. tra
























