Rochineng Ciptakan Lagu “Aswatama”

POLITISI PDIP, Dr. I Ketut Rochineng. Foto: ist
POLITISI PDIP, Dr. I Ketut Rochineng. Foto: ist

DENPASAR – Politisi PDIP, Dr. I Ketut Rochineng, tak hanya piawai berolah vokal, tapi juga menjadi pencipta lagu andal. Penyanyi Album “Bali Shanti” dan “Nyujuh Ipian” itu kini merilis tembang berjudul “Aswatama”. Idenya terinspirasi dari penggalan kisah Mahabharata, yang dinilai sangat kontekstual dengan situasi kekinian di masyarakat, terutama dalam konteks berbagi tentang pola asuh anak demi masa depan mereka.

Lagu berdurasi 4 menit 52 detik itu diciptakan sekaligus dinyanyikan di sela-sela kesibukannya. Lagu tersebut digubah hanya dalam waktu satu jam, berbekal gitar bolong usai menonton film Mahabharata.

Read More

Menurut Rochineng, Minggu (17/1), cinta dan kasih sayang wajib diberikan orangtua kepada anak, tapi tak boleh berlebihan. Itulah yang disebut cinta buta, karena akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan sang buah hati. Salah satu contohnya adalah Aswatama, putra Guru Drona.

“Tali pertemanan Aswatama dengan Duryodana menyeret Dronacarya ke medan perang, semata-mata untuk melindungi anaknya dari senjata musuh. Kasih sayang buta akhirnya membuat Drona terbunuh,” ulas anggota Komisi I DPRD Bali itu.

Niki wenten cerita munggah ring Mahabharata guru besar indik kanuragan. Wastan ipun Sang Guru Drona. Sayang kaliwat sayang, tresna kalintang tresna kalimbakang ring pianak ipun, Kesatria Sang Aswatama. Sekadi ring slokane tresna sing mabatas makardi tresna buta ngantos mati,” begitu penggalan lirik lagu politisi asal Desa Patemon, Seririt, Buleleng itu.

Inspirasi Rochineng muncul merespons sosok Aswatama, panglima andalan Korawa dalam perang Bharatayuda. Ide itu dihubungkan dengan wejangan Krishna saat ayah Aswatama, Guru Drona, bertempur melawan Arjuna. Drona memiliki kesaktian luar biasa dan tidak bisa dikalahkan.

Sadar bahwa kelemahan Guru Drona satu-satunya adalah Aswatama, Krishna menyuruh Bima membunuh seekor gajah bernama Aswatama. Bima berteriak setelah berhasil membunuh gajah Aswatama. “Mendengar bahwa Aswatama mati, Drona bertanya kepada Yudistira, kesatria yang ia ketahui tak pernah berbohong. Yudistira pun menyatakan bahwa Aswatama mati, tetapi bukan Aswatama putra Drona. Yudistira mengucapkan kalimat seutuhnya dan sejelas mungkin, tetapi kata terakhir tersamarkan oleh suara genderang dan terompet bertalu-talu,” urainya.

Mendengar bahwa Aswatama mati, sambungnya, Drona langsung lemas dan tidak melanjutkan pertempuran. Dia duduk dalam posisi asanas; melepas kekuatannya. Melihat Drona tak bersemangat, Drestadyumna, panglima Pandawa bergegas mengambil pedang kemudian memenggal leher Drona.

Lewat lagu, penyanyi dengan nama panggung Rocky N itu ingin mengingatkan kasih sayang yang berlebihan pada anak tidaklah baik. Seperti halnya Guru Drona yang mengabaikan hati nuraninya dengan berdiri sebagai panglima tempur Hastinapura setelah gagal menasihati Aswatama. “Kasih sayang buta akhirnya membuat Drona terbunuh,” lugas mantan birokrat yang pada awal tahun 2021 membagikan 1,5 ton beras kepada para sopir angkot di Buleleng itu. “Cinta buta dan berlebihan akan mengakibatkan anak kita berjalan di atas ketidakbenaran seperti Aswatama,” tandasnya. nan

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.