Ribut Soal Arak Bali

Oleh : Made Nariana

ARAK Bali sudh ada sebelum Anda semuanya lahir.  Arak dijadikan upacara penting di berbagai tempat  bersama berem. Tanpa arak upacara agama dianggap tidak tuntas. Ketisan (percikan) arak, dilakukan terakhir sebagai pamungkas sebelum pemangku atau sulinggih menutup mantra mereka. Itulah yang saya saksikan di setiap tempat.

Bacaan Lainnya

Melihat kondisi itu, betapa pentingnya arak bagi kita, khususnya di Bali. Bisa jadi juga bagi umat Hindu di seluruh nusantara.

Kini ada Gubernur, yang memberikan perhatian khusus kepada Arak buatan petani kita. Diterbitkan peraturan gubernur. Dibuatkan hari Arak. Dipromokan setiap saat kepada tamu dunia. Bahkan juga di Luar Negeri.  Bagi saya luar biasa!. Tidak ada di dunia seorang gubernur menjadi “marketing” suatu minuman, kecuali mereka mau memperhatikan produk lokalnya demi rakyat kecil.

Saya tidak menulis berapa nomor pergub dan nomor keputusan hari Arak Gubernur Bali. Itu tidak penting bagi rakyat kecil petani Arak. Namun petani sudah merasa terbantu. Kini arak Bali semakin menjadi perhatian. Pro dan kontra terhadap sebuah keputusan pemimpin, tetap akan menjadi promosi bagi produk itu. Seneng tidak seneng, sebuah kehidupan normal dalam masyarakat.

Baca juga :  MERDEKA BELAJAR DALAM PANDEMI COVID-19

Mereka yang kontra dipastikan orang politik yang mencari panggung politik. Numpang terkenal. Seolah-olah juga pengen membela rakyat kecil dengan mengecilkan kreativias lawannya.

Pisau tajam saja, kalau disalahgunakan bahaya bagi kehidupan. Apakah dengan demikian, ibu-ibu di dapur tidak memerlukan pisau? Arit atau sabit tajam juga bahaya bagi peternak sapi, kalau disalahgunakan. Apa dengan demikian, arit tidak diperlukan bagi peternak yang saban hari nyabit rumput?

Nah begitu juga minuman Arak. Jika diminum belerbihan, pasti juga membahayakan kehidupan kita sebagai manusia. Tergantung kita sendiri!.

Tapi di balik itu, saya hanya melihat Arak Bali harus diperkenalkan ke dunia, khususnya dalam dunia pariwisata. Dunia itu sering melakukan cocktail partay bagi tamunya menggunakan minuman luar negeri. Untuk di Bali, mengapa tidak menggunakan Arak yg sama nilainya dengan menimun-minuman sejenis dari Jepang, Korea, Eropah, Thailand dan lainnya?

Dari segi ekonomi, politik, social-budaya,  salah satunya rak memiliki nilai tertentu. Produk tersebut merupakan garapan rumah tangga atau IKM/UKM. Minuman lain sudah dibuatkan pabrik besar-besaran oleh para Pengusaha  dan Konglomerat. Mengapa petani kecil kita dibiarkan, padahal mereka memiliki potensi besar, khususnya di bidang dunia Arak?

Saya hanya melihat dari sudut pandang yang sempit. Barangkali  kalau dikaji secara ilmiah, para ilmuwan akan mendapatkan variabel yang lebih banyak.

Intinya, kalau soal Arak Bali menjadi pergulatan petani kita, mengapa mereka tidak dibantu dengan political will yang produktif?

Baca juga :  Implementasi Trilogi Pendidikan dalam Perkuliahan Online

Sebagai pemimpin, kita akan lebih dihargai. Daripada nyinyir atau malah mereka ditangkapi setiap saat dengan alasan melanggar aturan!. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.