Pilkada Bukan “Tik-Tok”, Calon Harus Berani Tampil Sejak Dini

  • Whatsapp
DIREKTUR M-16, Bambang Mei Finarwanto; didampingi Kepala Divisi Litbang M-16 , M. Zainul Pahmi (kiri) saat memberikan keterangan ke wartawan. Foto: rul
DIREKTUR M-16, Bambang Mei Finarwanto; didampingi Kepala Divisi Litbang M-16 , M. Zainul Pahmi (kiri) saat memberikan keterangan ke wartawan. Foto: rul

MATARAM – Dalam hitungan waktu biasa, Pilkada Serentak tahun 2024 memang masih cukup lama. Namun, dalam hitungan investasi sosial untuk menggerakkan mesin politik, ini adalah waktu yang singkat. Lembaga Kajian Sosial dan Politik NTB, M-16, menilai pertengahan hingga akhir 2021 merupakan saat yang tepat bagi para calon yang berminat maju dalam kontestasi Pilkada 2024, untuk mulai memunculkan jati diri ke publik.

“Berdasarkan kajian kami dan berkaca dari pilkada-pilkada yang lalu, calon yang berniat maju memang harus mulai dari sekarang. Sebab, Pilkada ini bukan Tik-Tok yang bisa instan, sehingga calon harus berani tampil sejak dini,” ucap Direktur M-16, Bambang Mei Finarwanto; didampingi Kepala Divisi Litbang M-16 , M. Zainul Pahmi, Kamis (8/7/2021).

Bacaan Lainnya

Ia menyebut pesta demokrasi lima tahunan, baik di tingkat Provinsi maupun kabupaten dan kota di NTB tahun 2024 mendatang, harus disiapkan dari sekarang. Hal itu terutama bagi calon-calon yang tingkat popularitasnya belum maksimal, atau masih tergolong pendatang baru di dunia politik. Menurut Bambang, dengan mulai muncul dan tampil dalam kegiatan-kegiatan publik, maupun melalui media massa, maka tingkat kedikenalan akan semakin terbuka.

Baca juga :  Penjualan LEVI'S Palsu Secara Online Marak di Medsos

Di sisi lain, lanjut dia, calon pemilih juga punya hak untuk tahu dan mengenal siapa saja dan bagaimana kapasitas maupun rekam jejak calon pemimpin daerah mereka. Itu alasan investasi sosial harus mulai ditanam, misalnya dengan menghadiri kegiatan kemasyarakatan, atau membuat kegiatan yang merepresentasikan visi dan misi mereka ke depan.

“Publikasi media juga sangat penting, baik media mainstream maupun medsos. Hal ini juga sebagai penghargaan ke publik yang berhak tahu siapa calon pemimpin mereka,” urai Bambang.

Berkaca dari Pilkada sebelumnya, jelas Bambang, umumnya para calon muncul pada saat waktu sudah sangat mepet. Akhirnya publik tidak benar-benar paham dan mengerti apa visi dan misi para calon yang ada. Kesan yang muncul justru pencitraan semata, karena dianggap tidak memiliki investasi sosial dan politik sebelumnya.

Para calon, terutama nonpetahana, dengan demikian harus mulai muncul jika memang serius maju dalam PIlkada 2024. “Kalau petahana, kami pikir publik sudah mengenal, dan kinerjanya juga sudah bisa diukur. Nah, bagi calon pendatang baru ini butuh effort (usaha) yang ekstra,” tegasnya.

Dia mencontohkan di tingkat nasional, Pilpres 2024 pun sudah mulai dirancang sejak dini. Sejumlah nama muncul seperti Anies Baswedan, Puan Maharani maupun Gubernur NTB, Zulkieflimansyah. Itu bukan hal kebetulan dan tanpa proses.

Di NTB, sosok anggota DPR RI, Bambang Kristiono yang populer disapa HBK juga patut diperhitungkan. HBK dinilai sebagai politisi sekaligus pemimpin konsisten. Sejak kampanye di Lombok hingga terpilih sebagai anggota DPR RI, dia selalu berkegiatan di konstituennya.

Baca juga :  Gede Pasek Suardika Keblinger Pahami Denda Administratif dan Denda Pidana

M. Zainul Pahmi menambahkan, para calon yang berniat maju dalam Pilkada 2024 bisa belajar dari cara HBK meraup simpati masyarakat. Pahmi melanjutkan, baik Pilgub maupun Pilkada di kabupaten/kota nanti, setiap calon harus mulai berani tampil. Dia mengingatkan fenomena “yang penting rakyat senang” yang pernah populer oleh tokoh pemuda NTB, Subuhhunuri atau Bung Nuri, beberapa tahun silam. “Jadi memang harus mulai dari sekarang untuk menuju 2024,” tandasnya. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.