Pilihan Tepat Kuliah di UPMI, Konsen Terhadap Mutu Berbasis Legalitas

  • Whatsapp
REKTOR UPMI Dr. Suarta didampingi WR III, Dr. I Wayan Citrawan saat memberikan keterangan kepada awak media. foto: alt

DENPASAR – Pandemi Covid-19 mempercepat peralihan dari dunia konvensional menuju digitalisasi. Berbagai kegiatan sebisa mungkin kini dilakukan dalam jaringan untuk mencegah terjadinya klaster baru. Salah satunya ospek mahasiswa baru (maba) Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) dilakukan secara hybrid.

Hanya beberapa maba yang mengikuti ospek secara offline di Auditorium Redha Gunawan UPMI, sedangkan sisanya mengikuti secara virtual dari rumah masing-masing. Tampak sebelum memasuki kampus, para mahasiswa menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin. Wajib memakai masker dan juga mencuci tangan. Mereka juga terlihat menjaga jarak antar individu.

Bacaan Lainnya

Rektor UPMI, Dr. I Made Suarta menyampaikan, ospek berlangsung secara hybrid dari 14-17 September 2021 yang diikuti 214 mahasiswa baru dari Bali, NTT, Lampung, dan Papua. “Ospek ini intinya adalah adaptasi pengenalan lingkungan kampus, sehingga tidak asing dengan situasi dan kondisi, kenal dengan sesama mahasiswa, termasuk para dosen,” ungkap Suarta di Kampus UPMI, Rabu (15/9/2021).

Suarta juga mengungkapkan, pandemi ini juga berdampak terhadap jumlah penerimaan mahasiswa baru. Yakni turun 40 persen dari tahun akademik sebelumnya, karena faktor ekonomi. ‘’Mereka kesulitan membayar karena orangtuanya dirumahkan. Padahal anak-anak berkeinginan kuliah,’’ jelasnya.

Baca juga :  Vaksinasi Covid-19 di Denpasar Capai 80,90 Persen

Menyikapi hal itu, pihaknya membuat kebijakan menurunkan biaya kuliah, sehingga misi UPMI yakni mencerdaskan kehidupan anak bangsa bisa berjalan. Dan itu, kata dia, direspon positif, sehingga terjadi peningkatan maba.

‘’Beasiswa juga kami tawarkan. Hanya saja persyaratannya yang cukup sulit, salah satunya harus memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP). Jika ingin merata, saya harap persyaratan mendapatkan beasiswa itu dipermudah. Apalagi syarat untuk mendapatkan beasiswa itu berbasis akreditasi,’’ harapnya.

Ketua Yayasan IKIP PGRI Bali, IGB Arthanegara, menambahkan, ospek yang berlangsung hybrid ini lebih efisien. “Mari kita ambil hikmahnya. Kalau dulu ospek penekanannya lebih ke arah masa perkenalan yang digembleng seniornya. Tapi kalau sekarang seperti disampaikan Ketua LLDIKTI yakni bagaimana mempersiapkan mahasiswa agar setelah lulus nanti siap bertanding, bersanding, dan bersaing,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan, kehidupan kampus di UPMI sendiri multikultural. Tidak membeda-bedakan suku, ras dan agama. ‘’Ini sudah kami ciptakan di kampus kami. Terdapat beberapa perkumpulan non Hindu. Ini kami terapkan kepada mahasiswa maupun para dosennya dengan catatan tidak berpolitik praktis,’’ tegasnya.

Sebelumnya, Ketua LLDIKTI Wilayah VIII Prof. I Nengah Dasi Astawa juga memberikan wejangan kepada mahasiswa baru, yakni menjadi anak didik yang sudah dewasa. ‘’Melanjutkan perkuliahan di UPMI adalah pilihan tepat. Karena, konsen terhadap mutu yang berbasis legalitas. Selain itu, UPMI juga telah membuktikan diri melahirkan alumni yang telah bekerja di berbagai sektor, sehingga menjelma menjadi favorit tidak hanya di Bali saja, melainkan di seluruh Indonesia,’’ ucapnya menandaskan. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.