BANGLI – Harga ikan mujair saat ini sebenarnya cukup menjanjikan, tapi kondisi tersebut tidak bisa dinikmati sepenuhnya oleh para peternak ikan di Banjar Toyabungkah Kintamani.
Peternak ikan mujair di Danau Batur, I Wayan Musik (45), Jumat (10/3/2023) menyebut naiknya harga pakan tidak dibarengi dengan naiknya harga ikan jenis nila. Persoalan yang yang dihadapi petani ikan, sebutnya, selain semburan belerang, juga naiknya harga pakan sejak akhir tahun 2022 lalu.
Kenaikan harga pakan secara bertahap dan kini sudah di kisaran Rp525 ribu per sak. Meski harga pakan ikan naik, harga ikan tetap stagnan di tingkat pengecer cuma Rp22 ribu sampai Rp25 ribu per kilo. “Biasanya hasil panen langsung diambil oleh para saudagar,” tuturnya.
Lebih jauh diungkapkan, dia memelihara ikan sebanyak 20 lubang, dan setiap lubang berisi 2.000 ekor. Untuk satu sak pakan dengan berat 50 kg, habis dalam waktu empat hari untuk kebutuhan pakan 10 lubang. Sementara dalam proses pemeliharaan dari bibit hingga bisa dipanen butuh waktu tujuh bulan.
“Masa pemeliharaan bergantung bibit juga. Kalau bibit yang ditebar bagus, kurun waktu tujuh bulan sudah bisa dipanen. Sebaliknya, kalau mutu bibit kurang bagus, proses pemeliharaan bisa lebih dari tujuh bulan,” terangnya.
Naiknya harga pakan, kata dia, berdampak kepada dia hanya bisa bertahan saja. Pendapatan yang masuk hanya bisa untuk menutup biaya produksi saja. “Hidup segan mati tak mau, itu yang tepat dialamatkan bagi peternak ikan di Danau Batur saat ini,” keluhnya.
Dia menilai sebenarnya prospek budidaya ikan mujair sangat menjanjikan, seiring konsumsi masyarakat yang makin tinggi, terutama oleh para pedagang lalapan. Peminatnya tak hanya di seputaran Bangli, tapi juga daerah luar seperti Klungkung, Gianyar, Denpasar dan Badung. Harganya pun cenderung stabil. “Biasanya para pembeli datang setiap dua hari sekali,” pungkasnya. gia























