MATARAM – “Perseteruan” antara sesama kader Gerindra di NTB, Mori Hanafi versus Bambang Kristiono, berlanjut kembali. Bedanya, episode tersebut tidak lagi dilakukan di gedung Udayana (sebutan kantor DPRD NTB), melainkan di arena sepakbola.
Setelah mencopot Mori Hanafi dari kursi Wakil Ketua DPRD NTB, Bambang Kristiono (HBK) yang juga pemilik Lombok FC (LFC) mengkritik langkah Asprov PSSI NTB yang memberlakukan tiket bagi penonton Liga 3 NTB.
Mori yang menjabat Ketua Asprov PSSI NTB, tidak tinggal diam. Mori terkesan pasang badan menantang HBK, yang termasuk unsur Ketua DPP Gerindra, terkait kebijakan Asprov PSSI tersebut.
Menurut Mori, Minggu (7/8/2022), publik perlu tahu skema dan dasar pengambilan kebijakan tiket penonton. Sebab, Asprov PSSI NTB menetapkan tiket Liga 3, yakni kelas VIP dijual Rp500 ribu, dan tiket kelas biasa dijual Rp15 ribu untuk setiap pertandingan. Tiket VIP sampai Rp500 ribu, jelasnya, tidak untuk sekali pertandingan, melainkan untuk 100 hari pertandingan.
“Jadi, kalau dibagi per hari, hanya 5 ribu. Kebijakan itu semuanya telah kami sosialisasikan tahap demi tahapannya, termasuk saat technical meeting (rapat teknis) dengan semua pengurus klub Liga 3, salah satunya klub yang dimiliki Pak HBK,” seru Mori.
Dia menyebut telah mempersiapkan venue GOR 17 Desember di Kota Mataram agar nyaman ditempati pemain dan penonton sebelum bergulirnya Liga 3 NTB. “Sudah duduk di bangku bagus, tidak duduk di bawah. Hitung-hitung biaya ini untuk sewa bangku juga,” tegasnya.
Soal tiket reguler dibandrol Rp15 ribu, Mori membandingkan nilai tersebut tidak lebih besar dari biaya parkir masuk Mal Epicentrum. Terlebih pemasukan dari tiket juga untuk mengganti biaya operasional pertandingan yang tidak sedikit nilainya selama gelaran Liga 3 Asprov PSSI NTB. “Ingat, bayar 15 ribu ini hampir sama dengan bayar parkir di Epicentrum,” sindirnya.
Jika angka Rp15 ribu ini dipandang masih berat di ongkos, sambungnya, Asprov PSSI NTB sudah melakukan kerja sama dengan Lombok TV untuk siaran langsung, dan bisa diakses di Youtube secara gratis. Terobosan Asprov itu guna memudahkan para menonton menyaksikan tim kesenangannya berlaga.
Lombok FC yang ikut dalam rapat teknis dengan semua pengurus Liga 3, ulasnya, mestinya menyampaikan nota keberatan saat sosialisasi dilakukan. Sayang, saat itu Lombok FC bungkam. Karena itu, Mori perlu meluruskan pernyataan HBK yang mengkritik kinerja Asprov PSSI NTB terkait harga tiket. Termasuk kuota sebanyak 20 orang per pertandingan.
Mori menegaskan dia dan pengurus PSSI NTB bukan antikritik, justru sangat siap menerima masukan apa pun. Yang tidak disukai adalah ngomong tidak setuju yang diumbar di luar kesempatan resmi.
“Kami punya bukti enggak ada protes atau keberatan yang disampaikan pihak klub, termasuk Lombok FC. Semua menerima masing-masing klub kami jatah 20 orang per pertandingan, semua setuju,” paparnya blak-blakan.
Dengan bergulirnya Liga 3 PSSI NTB yang kini memiliki sponsor utama Bank NTB Syariah, hal itu dinilai upaya yang baik dalam pengelolaan sepakbola di NTB. Mengingat, lanjut Mori, dirinya berkomitmen dalam kepengurusannya tata kelola keuangan harus terbuka dan transparan.
Kata dia, industri sepakbola akan bisa maju di sebuah daerah, ketika semua pengurusnya tidak melakukan praktik memperkaya diri untuk mengejar standar nasional.
Dia mengklaim di era kepengurusannya, ada subsidi klub sebesar Rp 20 juta selama mengikuti ajang Liga 3 PSSI NTB. Ini jelas bukti industri sepakbola NTB menuju ke arah yang jauh lebih baik.
“Makanya saya aneh aja, Asprov PSSI NTB sudah mulai bersih-bersih dan berbenah, kok ada yang enggak mau diajak menuju industri olahraga yang profesional itu,” ketusnya menggerutu. rul
























