DENPASAR – Berkah alam datang silih berganti dalam kehidupan I Ketut Rochineng. Mendalami ilmu spiritual sejak 1979, lima pengawal dari alam gaib bersahabat dengan Rocky N, begitu dia akrab disapa,
Kerap mendapat panggilan gaib dari Pura Dalem Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Buleleng, dia mengaku menerima paica (anugerah) dari pura itu disaksikan Kades Petemon dan Jro Mangku Dalem. Kini, anggota Fraksi PDIP DPRD Bali itu meresmikan Perguruan Kebathinan “Gunung Wisesa” di rumahnya, Jalan Buana Taman No. 5 Padangsambian, Denpasar Barat, Minggu (7/8/2022).
Rochineng berkata tulus membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mendalami ilmu kebatinan, dan menyatakan ini Gunung Wisesa merupakan sarana dia melestarikan warisan leluhur.
“Ilmu atau ajaran ini ada lama sekali, sekitar tahun 1950, yang dikembangkan Maha Guru Pekak Gunung dari Banjar Celagi Gendong, Pemecutan, Denpasar. Ajaran ini merupakan perpaduan ilmu asli Bali dan Jawa Majapahit,” jelas Ketua Dewan Pimpinan Kerohanian Pusat Perguruan Pencak Silat (PPS) Kertha Wisesa ini.
Lebih jauh disampaikan, yang menamatkan diri dari perguruan ini bisa dihitung dengan jari, tapi mereka sudah banyak yang berpulang. Yang tersisa tinggal dua orang, salah satunya Rochineng.
“Mumpung saya masih diberikan kesehatan di usai 64 tahun ini, saya ingin membangkitkan lagi ajaran ini, sehingga nanti ada generasi berikutnya yang meneruskannya,” tutur Ketua Umum FORKI Bali periode 2012-2022 tersebut.
Dengan diresmikannya Perguruan Kebathinan Gunung Wisesa ini, Rocky N sekali lagi menegaskan niat tulus untuk ngayah mempertahankan ajaran suci leluhur. Salah satu wujud komitmen adalah menerima sisya atau murid tanpa biaya. Pendaftarannya gratis, termasuk sarana dan prasarana penunjang latihan juga disiapkan cuma-cuma.
“Yang paling penting ada ketulusan dalam diri, dan kesejatian untuk mengikuti ajaran ini. Tantangannya sangat besar, sehingga dibutuhkan ketekunan, keyakinan, dan ketulusan batin,” terangnya.
Diakuinya, dalam proses pembelajaran nanti pasti ada kendala-kendala maupun rintangan, baik fisik maupun nonfisik yang dialami peserta. Sebab, dalam ajaran ini ada materi tentang pemahaman dan pengenalan terhadap diri sendiri sebelum meningkat memahami Sang Maha Pencipta.
Bagi Rochineng, sangat banyak manfaat yang diperoleh jika mempelajari ajaran ini dengan sungguh-sungguh. “Tak hanya baik untuk diri sendiri maupun keluarga, juga baik untuk orang lain,” ucapnya. Sebelum diresmikan, Perguruan Kebathinan Gunung Wisesa ini sudah memiliki puluhan murid. Mereka bahkan sudah ada yang dilantik.
Selain dulu sebagai birokrat dan kini legislator, Rochineng juga dikenal sebagai penyanyi Bali. Tak hanya mampu berkomunikasi dengan Jero Ratun Gamang di Pura Puncak Batu Kursi, Pemuteran, Buleleng, melainkan juga dengan makhluk gaib lintas pulau.
Dia menambahkan, Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta yang dibangun di antara pesanggrahan milik Sultan Hamengkubuwono VII dan dibiarkan tak terawat sejak tahun 1930-an, terkenal angker. Di hotel dengan satu kamar dikosongkan, “kamar biru”, yang konon disediakan khusus untuk Nyi Roro Kidul.
Rochineng mengklaim bertemu makhluk gaib bertubuh besar dengan dua tanduk di kepala menghadap ke depan. “Kami kenalan, namanya Ki Ageng Ronggojoyo. Saya juga memperkenalkan diri. Sampai saat ini kami masih kontak komunikasi jarak jauh. Rombongan DPRD Bali sering menginap di sana kalau kunjungan kerja,” tutupnya. nan
























