Pergelaran Seni “Lingga Acala”, Kisah Pemutaran Gunung Mandara, Pesankan Pelestarian Alam

  • Whatsapp
SESOLAHAN Sanggar Seni Maha Widya Natya dalam acara Bulan Bahasa Bali 2021 yang ditayangkan Channel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. foto: ist

DENPASAR – Pada zaman dahulu di Tanah Jawa dikisahkan tidak pernah hentinya ada gempa yang mengguncang. Semua berawal dari tidak adanya Gunung atau Giri Mandara sebagai penyeimbang alam.

Hal tersebut mengakibatkan Dewa Mahakarana mengutus para Dewa, Resieng Langit, Suranggana, Widyadara, Gandara agar segera menuju Jambu Dwipa mengambil bagian dari Gunung Mahameru untuk diletakkan di Tanah Jawa dengan tujuan agar tenteram dan sejahtera.

Bacaan Lainnya

Pada saat memutar Gunung Mahameru, tanpa disangka para Dewata kehilangan kekuatan serta meminum air yang keluar dari gunung tersebut. Air tersebut bernama kalakuta yang bisa mengakibatkan seseorang kehilangan nyawa. Sadar akan kondisi tersebut, Dewa Parameswara segera mengusap dan meminum air tersebut. Itulah yang menyebabkan beliau disebut Dewa Nila Kanta.

Karena berhasil menyadarkan pikirannya, lantas Dewa Parameswara menyupat atau mengubah tirta kalakuta itu menjadi tirta amertha siwamba. Tirta amertha itulah akhirnya menghidupkan kembali para Dewata sehingga kembali seperti sediakala.

Itulah persembahan Sanggar Seni Maha Widya Natya yang melibatkan 35 penari, penabuh, dan kru lainnya dalam acara Bulan Bahasa Bali 2021 yang ditayangkan Channel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Sabtu (6/2/2021) lalu pukul 19.00 Wita.

Baca juga :  Update Covid-19 di Denpasar: Total Sembuh 675 Orang, 339 Dirawat

Sesolahan (pergelaran) yang mengangkat judul “Lingga Acala” mengambil cerita pemutaran Mandara Giri (Gunung Mandara) sebagai bentuk penjabaran dari tema perhelatan Bulan Bahasa Bali, yakni “Wana Kerthi”. Karena itu, tempat pengambilan gambar semuanya di alam, seperti di batu alam daerah Batuyang, dan beberapa tempat di Guwang, Gianyar, Bali.

Pergelaran seni sastra ini lebih pada pemajuan multimedia, namun unsur tradisi seperti vokal (tembang), gerak tari dan musik menjadi fokus dalam penggarapannya. Semua unsur seni itu tidak berdiri sendiri, melainkan mengeksplorasi alam sehingga ada makna-makna positif yang disajikan.

Pesan moral khususnya menjaga alam lestari menjadi inti dari sesolahan tersebut, sehingga setiap gerak, busana, property, dan tempat sangat mendukung. Begitu juga dengan musik, tak hanya menjadi ilustrasi, melainkan benar-benar memberikan jiwa terhadap setiap gerak dan mampu memberi warna setiap adegan.

Nada-nada gender dan alunan tembang klasik sebagai musikiringannya terasa menyatu dengan alam. Para penari bergerak seakan menyatu dengan alam. Mereka menari di lumpur, air dan juga di kori agung.

“Konsep garapan ini adalah pemajuan multimedia dengan mengangkat cerita pemutaran Mandara Giri. Unsur vokal dan gerak tari semuanya mengekplorasi alam sehingga sesuai dengan tema Bulan Bahasa Bali, Wana Kerthi,” tutur seniman Ketut Rudita atau yang akrab disapa Sokir, yang menggarap pertunjukan tersebut. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.