POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr. AA Ayu Agung Candrawati, M.Kes, menyampaikan, Kota Denpasar masih mencatat angka penemuan kasus baru HIV/AIDS yang cukup tinggi setiap tahunnya. ‘’Rata-rata terdapat 800–900 temuan kasus baru per tahun, dengan kelompok usia remaja dan produktif menjadi yang paling banyak terpapar,’’ kata Candrawati, Senin (1/12/2025).
Candrawati menyampaikan itu saat peringatan Hari AIDS Sedunia di SMP PGRI 2 Denpasar. Peringatan Hari AIDS Sedunia 2025 mengangkat tema “Bergerak Bersama, Bersuara: Ayo Kolaborasi” di lingkungan SMP PGRI 2 Denpasar. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama SMP PGRI 2 Denpasar, AHF Indonesia, dan Yayasan Kerti Praja, serta didukung oleh Pemerintah Kota Denpasar. Dalam kesempatan tersebut juga hadir Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama.
Candrawati mengungkapkan, sejak tahun 1987 hingga November 2025, total akumulasi kasus HIV/AIDS di Denpasar mencapai 17.028 kasus. Dari jumlah tersebut, 9.824 orang tercatat berstatus HIV dan 7.254 kasus telah berkembang menjadi AIDS. “Golongan tertinggi yang terpapar ada pada usia 20–29 tahun, yakni sekitar 38 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan, fakta tersebut perlu menjadi perhatian serius karena masa inkubasi virus HIV berkisar 5–10 tahun. Artinya, banyak penderita kemungkinan sudah terinfeksi sejak usia lebih muda. “Kalau mereka terdeteksi di usia 20 tahun, bisa jadi mereka sudah terinfeksi sejak usia 15 tahun atau bahkan saat masih remaja,” jelasnya.
Melihat tingginya angka kasus baru, pemerintah menempatkan upaya pencegahan sejak usia sekolah sebagai prioritas utama. Edukasi, sosialisasi, dan promosi kesehatan diperkuat untuk mencegah penularan di kalangan pelajar dan mahasiswa. “Dengan temuan 800–900 kasus baru per tahun, target nasional tetap diarahkan menuju three zero tahun 2030, yakni nol infeksi baru, nol kematian terkait AIDS, dan nol diskriminasi,” kata Candrawati.
Selain pencegahan, ia menekankan pentingnya kepatuhan pengobatan bagi mereka yang sudah terinfeksi. Pengobatan teratur terbukti dapat menekan jumlah virus sehingga mencegah penularan sekaligus menurunkan risiko kematian. “Tantangan lain yang harus kita lawan bersama adalah stigma dan diskriminasi. Untuk mencapai three zero, peran semua pihak mutlak diperlukan,” tandasnya.
Ketua Yayasan Kerthi Praja, dr. Desak Made Putri Pidari, menyebutkan, secara kumulatif kasus HIV/AIDS di Bali mencapai 33.073 kasus sejak tahun 1987 hingga September 2025. Dari seluruh kabupaten/kota, Denpasar tercatat sebagai wilayah dengan jumlah tertinggi. Menurutnya, rendahnya pemahaman masyarakat tentang penularan, gejala, dan pencegahan HIV/AIDS masih menjadi kendala utama. Kondisi itu membuat sebagian masyarakat enggan melakukan pemeriksaan dini di fasilitas kesehatan.
“Stigma terhadap ODHA maupun ODHIV masih terjadi dan menjadi penghambat akses layanan,” jelasnya.
Padahal, lanjut Desak, layanan konseling VCT dan pengobatan HIV di Denpasar sudah cukup banyak tersedia. Namun untuk menjangkau kelompok terdampak, petugas lapangan terus diterjunkan, disertai edukasi kepada tenaga kesehatan guna memastikan pelayanan bebas diskriminasi. “Ketika mereka merasa nyaman dan tidak didiskriminasi, maka ODHA akan mau mengakses layanan dan menjalani pengobatan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa perilaku seksual berisiko masih terjadi dan belum sepenuhnya menjadi kesadaran bersama, sehingga diperlukan edukasi berkelanjutan di seluruh lapisan masyarakat.
Sementara itu, Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Ayu Sri Wahyuni, menyampaikan pentingnya pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS bagi para siswa. Ia menekankan bahwa melalui tema “Bergerak Bersama, Bersuara: Ayo Kolaborasi”, sekolah ingin mengajak siswa untuk tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga berani bersuara dan menyebarkan informasi yang benar kepada lingkungan sekitar.
Peringatan Hari AIDS Sedunia di SMP PGRI 2 Denpasar juga dimeriahkan hiburan bernuansa edukatif. Anggota Girls Act Indonesia tampil membawakan performance yang penuh semangat dan pesan positif. Penampilan ini menunjukkan bahwa anak muda juga dapat menjadi agen perubahan dalam upaya pencegahan HIV/AIDS.
Acara hiburan kemudian dilanjutkan dengan penampilan dance siswa SMP PGRI 2 Denpasar dan tari tradisi seperti genjek. Sebagai inti dari peringatan ini, diselenggarakan sesi edukasi dan pengingat (reminder) tentang pencegahan penularan HIV/AIDS oleh narasumber.
Dalam sesi ini, siswa diberikan informasi mengenai cara penularan HIV, cara pencegahan, pentingnya tes, dan sikap yang tepat terhadap orang dengan HIV/AIDS. Sesi ini menguatkan kembali makna tema “Bergerak Bersama, Bersuara: Ayo Kolaborasi”, bahwa semua pihak perlu bergerak bersama, berani bersuara, dan saling bekerja sama untuk mengurangi stigma serta mencegah penyebaran HIV/AIDS. tra























