Pendapatan PD Swatantra dari Perkebunan Naik 128 Persen

  • Whatsapp
DIRUT PD Swatantra, Gede Bobi Suryanto. Foto: rik
DIRUT PD Swatantra, Gede Bobi Suryanto. Foto: rik

BULELENG – Pendapatan Perusahaan Daerah (PD) Swatantra milik Pemkab Buleleng pada sektor perkebunan pada 2020, mengalami peningkatan signifikan dibandingkan pada 2019. Peningkatan ini mencapai 128 persen, yang berasal dari pendapatan panen kebun kopi robusta dan cengkeh.

Direktur Utama (Dirut) PD Swatantra, Gede Bobi Suryanto, mengatakan, peningkatan pendapatan pada 2020 dari sektor perkebunan ini tidak lepas dari pengawasan yang ketat dari PD Swatantra terhadap pihak penggarap lahan perkebunan milik perusahaan pelat merah tersebut. ‘’Ini karena musimnya dan kontrol pada kebun yang ada. Kalau kontrol (pengawasan, red) tidak bagus, ya hasilnya tidak maksimal. Kontrol kami lakukan tidak saja saat panen, tapi pada saat pemeliharaan juga,’’ ungkap Boby Suryanto, Kamis (7/1/2021).

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data diperoleh, ada dua lahan kebun yang dikelola oleh PD Swatantara. Pertama, lahan di Desa Tajun seluas 47,210 hektar, pada 2020 telah menghasilkan pendapatan Rp98 juta lebih, berasal produksi kopi robusta 2.203 Kg dengan pendapatan Rp44 juta lebih dan untuk cengkeh menghasilkan 992 Kg dengan pendapatan Rp54 juta lebih.

Kedua, lahan aset Pemkab Buleleng seluas 40,230 hektar, pada tahun 2020 menghasilkan pendapatan sebesar Rp338 juta lebih, dari produksi kopi robusta 11.585 Kg dengan pendapatan Rp231 juta lebih dan untuk cengkeh menghasilkan 1.942 Kg dengan pendapatan Rp106 juta lebih.

Baca juga :  Update Covid-19 di Denpasar: Pasien Sembuh 11, Kasus Positif Bertambah 9 Orang

Sehingga total pendapatan kedua lahan tersebut pada 2020 yakni Rp437 juta lebih. Jika dibandingkan tahun 2019, pendapatan dari kedua lahan itu hanya Rp191 juta lebih, dari lahan di Desa Tajun produksi kopi robusta 2.353 Kg pendapatan Rp46 juta lebih serta produksi cengkeh 134 Kg pendapatan Rp9 juta lebih.

Kemudian lahan aset Pemkab Buleleng pada 2019 produksi kopi robusta 4.338 Kg dengan pendapatan sekitar Rp84 juta lebih serta produksi cengkeh 802,50 Kg dengan pendapatan sebesar Rp51 juta lebih.

‘’Pendapatan itu sudah dipotong biaya operasional, hanya pajak belum. Memang ada kenaikan 128 persen. Tapi sistem kami adalah bagi hasil dengan penggarap lahan dengan perhitungan. Jadi lahan tidak digarap oleh Swatantra, kami hanya mengontrol,’’ ungkap Boby Suryanto.

Boby Suryanto pun tak menampik, besaran pendapatan yang diterima bergantung setoran dari penggarap lahan setelah dihitung sistem bagi hasil. ‘’Jadi setoran menentukan dari masing-masing penggarap. Ya, karena ini setoran ke daerah, maka kami kontrol,’’ ujar Boby Suryanto.

Ke depan pengawasan terhadap pengelolaan lahan PD Swatantara oleh penggarap akan diperketat, sehingga pendapatan yang diterima lebih maksimal. ‘’Kami akan terus pantau, tidak saja saat panen. Kami cek ke lapangan setiap saat, mulai dari masa pemeliharaan sampai masa petik (panen, red),’’ pungkas Boby Suryanto. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.