Nyaleg, Ketua PWI Minta Wartawan Mundur atau Nonaktif

KETUA PWI Pusat, Atal S Depari (kiri), saat menghadiri Safari Jurnalistik 2023 di Kota Mataram, Kamis (14/9/2023). Foto: ist

POSMERDEKA.COM, MATARAM – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Atal S Depari, menegaskan, pengurus dan anggota PWI yang terdaftar menjadi calon legislatif (caleg) pada Pemilu 2024 harus mengundurkan diri dari organisasi kewartawanan.

Aturan yang terkandung dalam AD/ART PWI harus dipatuhi, karena dalam rangka menjaga prinsip-prinsip kemerdekaan pers yang profesional dan bermartabat. “Jika seorang wartawan terdaftar sebagai caleg lantas tidak mengundurkan diri, maka ditakutkan akan berpengaruh pada netralitas wartawan,” tegas Atal di Mataram, Jumat (15/9/2023).

Bacaan Lainnya

Atal hadir di Kota Mataram dalam rangka menghadiri Safari Jurnalistik 2023 yang diselenggarakan PWI Pusat, di Hotel Santika, Kota Mataram. Atal mengingatkan kemerdekaan pers dalam rangka pemenuhan hak masyarakat untuk mendapat informasi yang netral, adil dan berkualitas, harus dijunjung penuh para wartawan.

Karena itu, PWI dan Dewan Pers sepakat mengimbau wartawan untuk melepas profesinya sebagai wartawan atau nonaktif, ketika menjadi caleg di Pemilu 2024. “Yang pasti, wartawan yang tergabung dalam PWI dibolehkan untuk jadi caleg atau tim sukses, tapi sesuai AD/PRT PWI harus mengundurkan diri,” terangnya.

Dia mengingatkan insan pers, khususnya yang bernaung di PWI NTB, untuk dapat mengawal pembangunan di wilayah setempat sesuai dengan fungsi dan tugas wartawan. Wartawan diminta tidak salah dalam memaknai kemerdekaan pers, sehingga berita yang dihasilkan tidak hanya tentang kasus semata, tapi menjaga kemitraan itu juga penting.

Baca juga :  Siap Berjuang Maksimal di Olimpiade, Kontingen Indonesia Bertolak ke Tokyo

Lebih lanjut dia minta agar pena wartawan harus tetap diasah. Artinya, setiap wartawan harus rutin mengeluarkan produk jurnalistik, sehingga dikenal, diakui, bahkan dipercaya aktivitas dirinya sebagai wartawan. Selain itu harus menjaga netralitas sebagai wartawan.

“Saya kenal banyak tokoh nasional, tapi saya enggak gampang menelepon mereka kecuali ada keperluan, misalnya untuk memastikan kehadiran Pak Wapres Ma’ruf Amin di Rakernas PWI di Bandung, yang kini tengah saya lakukan. Saya berkomunikasi dengan Staf Ahli Pak Wapres, ini saya lakukan sebagai wujud dalam menjaga netralitas,” pungkas Atal. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.