Membujuk Selly, Menggoda Rai Mantra: Perjuangan Simbolik Golkar di Pilkada Denpasar

  • Whatsapp

PILKADA 2020 di Bali diramaikan dengan kencangnya isu IA Selly Fajarini Mantra, istri Walikota IB Rai Dharmawijaya Mantra, akan digaet partai koalisi dimotori Golkar untuk melawan IGN Jaya Negara yang diusung PDIP di Denpasar. Manuver itu, sebelum laga resmi dimulai, terlihat sebagai bentuk pergulatan mencari figur yang layak dijadikan ikon dalam perjuangan simbolik di pentas politik.

Walikota Rai Mantra dua kali terpilih di Denpasar tahun 2010 dan 2015 dengan diperjuangkan PDIP. Tahun 2005 dia mengampu Wakil Walikota mendampingi AA Puspayoga, dan “naik kelas” menjadi Walikota tahun 2008 karena Puspayoga menjabat Wakil Gubernur Bali. Karena itu popularitas Selly tidak terlepas, jika bukan malah satu-satunya, berkat keringat dan darah PDIP kala pilkada.

Secara politik, sosok Selly memang sangat menggiurkan untuk dijadikan penantang simbol PDIP Denpasar, Jaya Negara. Popularitas, ekseptabilitas, dan (kemungkinan) elektabilitas Selly sangat tinggi, karena dikenal publik Denpasar sejak tahun 2005. Di sini anomali terjadi, karena sosok yang diampu dan dibesarkan PDIP itu justru berpeluang menjadi penantang PDIP.

Baca juga :  Dituding Tak Independen, Bawaslu Tantang JPPR Bersama Awasi Pilkada

Selly memiliki nilai khusus karena sebagai istri Rai Mantra. Peran Rai Mantra tidak terbatas mempopulerkan Selly, tapi juga menjadi penanggung jawab sekaligus benteng bagi Selly. Jadi, ketika ngotot ingin mengusung Sellly, sesungguhnya Golkar dan koalisi sedang menggoda Rai Mantra untuk dimintai dukungan. Sebaliknya, bila ada serangan ke Selly, itu sesungguhnya ditujukan ke Rai Mantra.

Ketika ada yang bertanya bagaimana sesungguhnya pendirian Selly menghadapi godaan Golkar, sama saja bertanya bagaimana keinginan Rai Mantra. Pernyataan Ketua DPD Golkar Denpasar, Wayan Mariyana Wandhira, bahwa dalam politik yang dinamis tidak ada istilah pengkhianatan, menandakan bagaimana seriusnya Golkar menggoda. Pesan itu bernada menggiring sekaligus membujuk Rai Mantra tak usah khawatir dicap pengkhianat oleh siapapun, sekiranya dia bersedia merestui sang istri dilamar Golkar.

Kisah mirip terjadi ketika ada isu pencalonan Ani Yudhoyono menjelang Pilpres 2014. Namanya diletupkan sejumlah elite, terutama internal Partai Demokrat, karena SBY sudah dua periode dan tidak bisa dicalonkan kembali. Ani sangat populer karena 10 tahun mendampingi SBY, dan memberi warna pemerintahan dengan pelbagai kegiatan sosial.

Baca juga :  74 Tahun Bhayangkara dan Tantangan Pilkada 2020 di Masa Corona

SBY sadar pemunculan nama itu sebagai testing on the water sekaligus jebakan politik, dan menegaskan istrinya tidak akan dicalonkan atau mencalonkan diri. Isu ini segera berlalu usai SBY mengeluarkan pernyataan. Hal berbeda terjadi di Denpasar, karena Golkar tetap gencar merayu Selly dengan iming-iming hasil survei menjanjikan.

Mengapa Golkar begitu ngebet? Pertama, simbol. Golkar mencari sosok untuk dijadikan perjuangan simbolik menandingi Jaya Negara. Ada empat modal kekuasaan menurut Pierre Bourdieu yakni modal ekonomi, modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. Selly sebagai representasi positif Rai Mantra jelas memiliki semua modal itu, terutama modal simbolik. Perjuangan Golkar dan koalisi melawan PDIP dengan modal simbolik yang kuat, akan lebih menjanjikan kemenangan jika memiliki sosok bermodal simbolik juga seperti Selly.

Kedua, pragmatisme popularitas. Teratur diekspos media dalam kegiatan sosial sebagai istri Walikota, membantu konstruksi sosial dan institusionalisasi citra positif Selly yang seakan tanpa jarak dengan masyarakat. Pun membangun persepsi logis di khalayak karena dilakukan berulang-ulang. Melalui media, disengaja atau tidak, Selly sedang mencitrakan diri sebagai sosok tidak ambisius dan nrimo dengan suami. Kalau sudah populer, langkah selanjutnya lebih ringan.

Baca juga :  Pasien Positif Covid-19 di Bali Bertambah Jadi 9 Orang

Ketiga, peta dukungan Selly terlalu berharga untuk dilewatkan. Mengaku tidak akan mencalonkan atau dicalonkan, tapi dengan masifnya menjaring “peminat” ketokohan lewat platform media sosial, jelas dia punya gerbong fans sendiri. Jaringan penggemar Selly itu belum tahu apakah dibawa mendukung Jaya Negara, yang dibilang sebagai idola Selly, ataukah malah disalurkan ke pihak koalisi?

Penting digarisbawahi, terlepas faktor historis dengan PDIP, harus diakui hak konstitusional Selly sepenuhnya jika kelak dia menerima lamaran Golkar, entah sebagai calon Walikota atau Wakil Walikota. Tidak ada aturan yang dilanggar andai dia inkonsisten apa dikatakan sekarang, kecuali soal moral dan fatsun politik belaka. Kisah Rai Mantra yang “dimanjakan”PDIP tapi justru melawan Wayan Koster dalam Pilgub Bali 2018, layak menjadi catatan sendiri soal nilai konsistensi.  

Selama ini masyarakat nyaris tidak bersuara dalam proses kandidasi politik, karena semua bergulat di ranah elite sebagai pemain utama. Tetapi, karena pilkada juga medium menghadirkan pemimpin terlegitimasi dengan tingginya partisipasi pemilih, pemilihan calon patut memperhitungkan sosok menarik untuk ditandingkan. Tidak asal comot demi syahwat kekuasaan, melainkan juga mengusung nilai-nilai ideologis yang berdampak pada wawasan dan pemahaman politik publik. Satu di antaranya berkompetisi dengan tetap mengedepankan fatsun politik. Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.