Bawaslu Bali Dorong Organisasi Mahasiswa Jaga Nalar Demokrasi

PESERTA dan narasumber foto bersama usai pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-VII Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bali, Sabtu (13/6/2026). Foto: ist
PESERTA dan narasumber foto bersama usai pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-VII Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bali, Sabtu (13/6/2026). Foto: ist

POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Dinamika demokrasi tidak hanya ditentukan proses elektoral semata, juga oleh kualitas partisipasi warga negara yang dibentuk sejak ruang-ruang intelektual, termasuk organisasi kemahasiswaan. Karena itu, peran organisasi mahasiswa sebagai laboratorium demokrasi yang hidup sangat signifikan. Demikian pandangan Kordiv Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas (P2H) Bawaslu Bali, Ketut Ariyani, usai menghadiri pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-VII Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bali, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Ariyani, forum-forum semacam ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga ruang refleksi terhadap arah dan kualitas demokrasi ke depan. Dia memandang organisasi mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membentuk tradisi berpikir kritis, etika berpolitik, serta kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai demokrasi. Organisasi mahasiswa bukan sekadar wadah berhimpun, tetapi ruang pembelajaran politik yang paling awal dan paling menentukan.

Read More

“Di sanalah nalar kritis diuji, integritas dibentuk, dan keberpihakan pada kepentingan publik mulai ditanamkan,” paparnya.

Lebih lanjut, dia menilai dalam situasi demokrasi yang kerap diwarnai pragmatisme politik, organisasi mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap menjaga idealisme. Menurutnya, kemunduran demokrasi sering kali berakar dari melemahnya budaya diskursus, dan minimnya keberanian untuk mengkritisi kekuasaan. Jika organisasi mahasiswa kehilangan daya kritisnya, maka demokrasi akan kehilangan salah satu penyangga utamanya.

“Karena itu, penting bagi organisasi untuk tetap menjadi ruang dialektika yang sehat, bukan sekadar reproduksi kepentingan,” pesannya mengingatkan.

Lebih jauh disampaikan, keberlanjutan demokrasi membutuhkan keterlibatan generasi muda yang tidak hanya aktif, juga memiliki literasi politik yang memadai. Dalam hal ini, organisasi mahasiswa diharap mampu menjadi jembatan antara idealisme akademik dan realitas sosial-politik di masyarakat. Kehadiran Bawaslu dalam forum tersebut, imbuhnya, merupakan bagian dari upaya memperkuat pengawasan partisipatif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas intelektual.

Sinergi antara penyelenggara pemilu dan organisasi masyarakat, diharap dapat terus diperkuat guna menjaga kualitas demokrasi yang substantif. “Demokrasi yang sehat tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang pembelajaran kolektif. Organisasi mahasiswa adalah salah satu fondasi penting dalam proses tersebut,” pungkasnya. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.