Manfaatkan Platform Digital untuk Transparansi Kebijakan, Gaya Komunikasi Wandhira Dinilai Jadi Pembeda

  • Whatsapp
Kadek Dwita dan Sumarjaya Linggih.
Kadek Dwita dan Sumarjaya Linggih.

DENPASAR – Menayangkan rapat kerja dengan eksekutif melalui siaran langsung media sosial Facebook oleh Wakil Ketua DPRD Denpasar, I Wayan Mariyana Wandhira, dinilai sebagai bentuk pemanfaatan platform digital dalam ruang politik. Gaya komunikasi politik ini, selain bentuk inovasi baru, juga dapat menjadi branda dan pembeda dibanding politisi lainnya. Pandangan itu diutarakan akademisi FISIP Universitas Udayana, Kadek Dwita Apriani, Selasa (20/4/2021).

Menurut Dwita, sejatinya pemanfaatan platform digital dalam politik memang tidak terbatas pada saat kampanye saja. Misalnya untuk menyampaikan visi-misi paslon ketika Pilkada 2020 lalu secara virtual. Jika jeli dan piawai memanfaatkan, dia menilai media digital dapat digunakan untuk akselerasi transparansi publik.

Bacaan Lainnya

“Bagus jika ada wakil rakyat yang mulai mengoptimalkan pemanfaatan media sosial untuk transparansi dan pertanggungjawaban kepada konstituennya. Pada saat yang sama, konstituen juga menjadi lebih mudah memantau kinerja wakilnya pada saat membahas suatu kebijakan publik,” terang doktor ilmu politik lulusan FISIP Universitas Indonesia itu.

Pilihan komunikasi polisik Wandhira “memamerkan” bagaimana suasana rapat kerja bersama pemerintah itu, terangnya, termasuk dalam kategori keberanian transparansi. Untuk dapat seperti itu, Dwita melihat sekurang-kurangnya ada tiga syarat. Pertama, pemahaman digital; kedua, keterbukaan untuk mau transparan; dan ketiga, jam terbang dari politisi itu sendiri. Jika politisi yang baru masuk parlemen, dia pesimis mereka akan langsung berani untuk memakai gaya seperti Wandhira itu.

Baca juga :  Pangdam IX/Udayana Serahkan Penghargaan Kepada 28 Pendonor Plasma Konvalesen

“Kalau yang baru itu minimal masih mikir-mikir mau bicara apa saat rapat, masa yang begitu mau ditayangkan langsung? Kan bisa malu sendiri nanti,” ucap Dwita berkelakar.

Sebagai bentuk terobosan di Bali, dia memandang sebaiknya gaya komunikasi semacam itu perlu didorong untuk diimitasi politisi lain. Argumennya, karena memang spirit utama yang ditawarkan adalah transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi nyata. Meski begitu, dia tidak memungkiri spirit transparansi itu belum jaminan juga memberi kepercayaan kepada calon konstituen untuk memilih politisi yang bersangkutan.

“Kalau soal jaminan, ngga ada yang berani menjamin (spirit transparansi) itu cukup untuk menjaring calon konstituen. Tapi paling tidak ada upaya lebih yang menjadi pembeda antara politisi itu daripada politisi lain,” pungkasnya.

Di kesempatan terpisah, Korwil DPP Partai Golkar untuk Bali, NTB dan NTT, I Gde Sumarjaya Linggih, juga memuji gaya komunikasi politik Wandhira tersebut. “Sangat bagus, dia sudah memulai, berarti di depan daripada orang lain,” puji politisi yang akrab disapa Demer itu saat dimintai tanggapan.

Dalam era mendatang, ulasnya, tidak ada lagi ruang yang tertutup, karena semua orang punya kamera. Bahkan rapat tertutup saja bisa bocor, apalagi rapat yang sengaja dijalankan terbuka. Agar tidak terjadi bias pemaknaan, ucapnya, sebaiknya rapat kerja memang disebarkan ke seluruh rakyat meski publik hanya sebatas menonton, karena memang bukan penentu kebijakan.

Baca juga :  Pelatnas Cipayung 2021, PBSI Panggil 87 Atlet Termasuk Satu Pemain Asal Bali

“Apalagi apa yang dilakukan Wandhira itu kan untuk menentukan kebijakan di Denpasar, jadi memang perlu diketahui publik. Acapkali pembuatan kebijakan itu tidak didengar masyarakat, bagaimana pertarungan gagasan dalam rapat bisa menelurkan kebijakan. Kalau terbuka lewat medsos seperti itu, publik bisa memberi masukan lewat media sosial mereka jika ada kebijakan yang kurang pas,” papar Wakil Ketua Komisi VI DPR RI tersebut menandaskan. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.