Langgar Perda, Pengelola Hotel Bongkar Lobi Mepet Pura

  • Whatsapp
PIHAK Hotel Kappa Di Seres membongkar lobi yang sebelumnya melanggar radius kesucian pura. Foto: Ist

GIANYAR – Pengelola Hotel Kappa Di Seres di Banjar Tanggayuda, Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud membongkar bangunan yang mepet pura sejak beberapa hari lalu. Hal itu dilaksanakan karena bangunan dekat pura itu termasuk pelanggaran perda.

Humas Hotel Kappa Di Seres, I Ketut Nurata, Senin (20/12/2021) mengungkapkan, awal mula pembangunan lobi yang disebut berjarak mepet pura itu berawal dari rekomendasi Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG). Mereka memberi pihaknya batas pembangunan yang berdampingan dengan tempat suci minimal 10 meter hingga 15 meter, dan pihak hotel menyanggupi.

Bacaan Lainnya

Dalam perjalanan pembangunan lobi tersebut, antara pihak hotel dengan krama dan prajuru Pura Subak Malung memiliki hubungan dan komunikasi baik. Dalam beberapa pertemuan, jelasnya, dia diminta tidak ada jarak cukup lebar antara pura dan lobi hotel. Bahkan pihak pura diklaim minta agar pembangunan lobi didekatkan lagi.

Akhirnya, kata Nurata, disepakati jarak antara lobi dan pura hanya empat meter. “Pada saat itu saya sudah sampaikan bahwa jarak minimal untuk pura ini 10 meter. Namun, diminta pengempon agar lebih dekat, yaitu empat meter, yang penting tidak dempet dengan pura,” urainya tanpa merinci waktu pertemuan dimaksud.

Baca juga :  Jadi Tempat Simulasi Vaksinasi Covid-19, Puskesmas Abiansemal I Terus Bersiap Diri

Nurata memaparkan, kesepakatan tersebut dilakukan dalam rapat, dan krama serta prajuru Pura Subak Malung menandatangani kesepakatan. Dia juga memiliki dokumentasi tahapan-tahapan tersebut. “Video pengukuran saat itu juga ada, dan saat itu juga sudah ditandatangani pengempon pura dan prajuru pura. Sudah saya kirim ke Dinas Perizinan Gianyar,” ungkapnya.

Karena merasa melalui jalan prosedural itu, maka dia terkejut begitu mendapati adanya protes terkait jarak antara lobi dan pura tersebut. “Waktu ada isu mepet pura itu, saya rapat lagi dengan krama subak. Krama subak mengatakan tidak yang melaporkan itu ke DPRD Gianyar,” imbuhnya bernada heran.

Meski pihak subak menyatakan tidak keberatan dengan lobi tersebut, Nurata menegaskan tidak mau memperpanjang persoalan. Terlebih Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Gianyar menyatakan bangunan lobi tersebut melanggar Perda RTRW. Dan, dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Gianyar menyarankan agar bangunan tersebut dibongkar.

“Saya berpikir agar masalah tidak berkepanjangan, sehingga kami bongkar saja. Kami meluruskan, dulu itu jaraknya bukan 2,5 meter, tapi 4 meter. Itupun atas permintaan krama dan prajuru Pura Subak Malung,” sambungnya menegaskan.

Setelah dibongkar, kata Nurata, lobi tersebut rencananya akan tetap dijadikan lobi dengan jarak sesuai rekomendasi TABG, yakni 10-15 meter. “Bentuknya akan berubah. Tapi biar nanti tidak menimbulkan persoalan lagi, kami akan konsultasikan lagi,” tandasnya. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.