Komisi III DPRD Badung Minta NJOP Diselaraskan

WAYAN Sandra (kanan) saat memimpin Raker Komisi III DPRD Badung bersama perangkat daerah terkait. Foto: ist

MANGUPURA – Komisi III DPRD Badung melaksanakan rapat kerja (raker) bersama Kepala Bapenda, Made Sutama; Kabag Hukum, AA Asteya Yudhya, dan para tenaga ahli DPRD Badung, Rabu (9/3/2022).

Rapat membahas tentang tindak lanjut terkait Perbup Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pencabutan Perbup Nomor 5 Tahun 2017 tentang Penetapan NJOP Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan untuk Wilayah Badung Utara dan Perbup Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penetapan NJOP Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan untuk Wilayah Badung Selatan.

Bacaan Lainnya

Komisi III yang dipimpin Wayan Sandra berharap, dengan perubahan Perbup tersebut ada penyelarasan. Supaya ada keseimbangan dan keadilan dalam penetapan NJOP tersebut.

‘’Boleh dikatakan ada kritik dari masyarakat bahwa NJOP terlalu tinggi. Kedua, tanah yang dipinggir dengan tanah yang jauh di dalam NJOP-nya sama. Ini yang perlu ada keselarasan agar ada keadilan dalam penetapan NJOP,’’ terang Sandra.

Hadir pula pada rapat tersebut sejumlah anggota Komisi III seperti Putu Alit Yandinata, Made Retha, I Gusti Ngurah Saskara, Made Suryananda Pramana, dan Komang Tri Ani.

Alit Yandinata menambahkan, ketika penetapan NJOP tentu Komisi III dari dulu memang satu visi dengan Bapenda bahwa tidak ada penurunan pajak NJOP. Tetapi, lakukan penyelarasan disesuaikan zona. Bila berbicara zona tidak serta merta mengambil sampel disesuaikan pada saat transaksi itu.

Baca juga :  Update Covid-19 di Denpasar: Pasien Sembuh Lebih Banyak dari Tambahan Kasus Positif

Di sini perlu mengedepankan kajian akademis, sosial, dan ekonomis. ‘’Dalam konteks penetapan NJOP tidak serta merta kita memikirkan pendapatan pajak BPHTB. Karena ini terintegrasi. Karena di Badung kita berbicara pariwisata tidak perumahan paling hanya yang mayoritas saja. Kita pyur berpikir komplek tidak satu step mendapatkan pajak. Dulu pernah mengalami, di Kuta ada hotel, di sebelahnya sawah, hotelnya mahal, sawahnya murah. Ini kontradiktif maka perlu ada penyelarasan,’’ paparnya.

Made Retha meminta, agar keputusan Bupati ini dikaji kembali, agar sesuai nomenklatur hukum. Dalam pemberian nilai, harus berdasarkan kajian dan perlu informasi dari berbagai pihak. Perlu disadari pengenaan pajak adalah pajak transaksi terutama yang melakukan BPHTB otomatis riil.

‘’Tidak mutlak menjadi acuan karena kondisi riil harus kita lihat ke depannya. Kami sarankan agar diselaraskan kembali. Berbeda aspek hukum yang dicabut. Karena ketika produk hukum dicabut akan tidak ada gunanya. Maka tetap harus diselaraskan,’’ tegasnya.

Sementara, Kepala Bapenda, Made Sutama, mengatakan, tahun 2022 akan dilakukan penyelarasan di Badung Utara, seiring terbentuknya UPTD akan dilakukan perbaikan kecamatan. Adanya perbedaan NJOP pajak di pinggir jalan dengan yang tidak mendapat jalan.

‘’Untuk wilayah Kuta Selatan misalnya, objek pajak pinggir jalan dengan satu kepemilikan NJOP-nya sama, nilainya masih tinggi. Perlu juga dipertimbangkan ada di bagian utara ada NJOP masih 10 juta. Ke depan bagaimana kesepakatan kita membedah NJOP, kami di Bapenda tidak ngotot yang penting sesuaikan kondisi sekarang,’’ katanya. nas

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.