Kekeringan Kian Meluas di Loteng, DPRD NTB Sarankan Pemprov Perbanyak Sumur Bor

ANGGOTA Komisi IV DPRD NTB, Lalu Pelita Putra, menerima pengaduan masyarakat di wilayah selatan Loteng terkait dampak El-Nino yang meluas, dan memicu areal pertanian mengalami kekeringan serta gagal panen. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, LOTENG – Kekeringan melanda sejumlah daerah, dari warga kesulitan mendapat air bersih hingga ancaman gagal panen, terjadi di wilayah Provinsi NTB. Untuk Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), merujuk data hasil verifikasi yang dilakukan Tim Ditjen PSP, ada sekitar 70 hektar lahan pertanian mengalami kekeringan.

Salah satunya para petani dan nelayan petambak udang vaname di Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur. Tanaman cabai yang ditanam mulai layu, dan tambak udang setempat juga mengering.

Read More

Anggota DPRD NTB, Lalu Pelita Putra, berkata, dari 14 titik reses yang dilakukan di wilayah Loteng bagian selatan, umumnya masyarakat mengeluhkan dampak El-Nino yang meluas sampai menyebabkan kekeringan.

“Hampir semua titik yang saya kunjungi, warga mengalami kesulitan air bersih. Mereka bahkan sampai shalat lima waktu, sudah berulang kali melakukan tayamum karena ketiadaan air di masjid-masjid,” ujar Pelita, Selasa (31/10/2023).

Menurut Ketua PKB Loteng ini, penyaluran air bersih yang dilakukan pemda, termasuk oleh PDAM, tidak optimal sejauh ini. Hanya, Pelita memaklumi tidak optimalnya distribusi air bersih itu, lantaran kekeringan saat ini, dirasa sudah sangat meluas di wilayah Loteng bagian selatan. “Kita enggak tahu sampai kapan kekeringan ini bakal terjadi. Maka warga mengusulkan adanya pembangunan sumur bor di masing-masing wilayah,” jelasnya.

Menurutnya, pilihan pembangunan sumur bor dirasa sangat efektif mengatasi kekeringan ekstrem tahun ini. Hanya, pembangunan sumur bor itu perlu dilakukan di satu titik yang bisa diakses semua warga secara bergiliran.

Kalau di wilayah selatan, dia menilai rata-rata pengeboran untuk bisa keluar air bersih minimal butuh 70 meter. “Batas itu sudah bisa menjadi ranah provinsi jika merujuk aturan dan kewenangan perizinan pengeboran,” paparnya.

Dia berjanji akan menyuarakan aspirasi warga di wilayah selatan Loteng untuk bisa disuarakan dalam sidang paripurna laporan reses, dalam waktu dekat. “Ketimbang kita hanya bekerja menjadi pemadam kebakaran, jika musim kemarau kita droping air, kenapa tidak kita suarakan bangun sumur bor tapi itu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat?” serunya.

Data BMKG Stasiun Klimatologi NTB mencatat, curah hujan di wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa pada dasarian II Oktober secara umum dalam kategori rendah. Sifat hujan saat ini di wilayah NTB seluruhnya pada kategori Bawah Normal (BN). Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) NTB secara umum bervariasi dari Sangat Pendek dari 1-5 hari, hingga berada pada kategori Ekstrem Panjang atau lebih dari 60 hari.

Sementara data Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) NTB menyebutkan, jumlah warga yang terdampak kekeringan tersebar di sembilan kabupaten dan kota di NTB, terkecuali Kota Mataram yang menjadi pusat kota pemerintahan NTB.

Selain itu, sebanyak 577.025 jiwa yang terdiri dari 163.699 kepala keluarga (KK) di 70 kecamatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terdampak kekeringan akibat fenomena alam El Nino. Data itu terhitung per 21 Agustus 2023. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.