Karena Ini, Pasien OTG-GR di Buleleng Diharapkan Isolasi Mandiri

  • Whatsapp
RAPAT evaluasi penangan Covid-19 di Kabupaten Buleleng. foto: rik

BULELENG – Pasien terkonfirmasi Covid-19 dengan status Orang Tanpa Gejala-Gejala Ringan (OTG-GR) untuk di Kabipaten Buleleng, Bali, diharapkan untuk menjalani isolasi mandiri. “Koordinasi dengan Satgas di desa atau kelurahan, mana tempat yang layak untuk dijadikan tempat isolasi mandiri,” kata Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 yang juga Sekda Buleleng, Gede Suyasa.

Dengan isolasi mandiri, diharapkan Suyasa, mampu menurunkan Bed Occupancy Rate (BOR) di Buleleng yang merupakan salah satu kriteria untuk menentukan zona risiko dari suatu daerah. Selama ini, pasien yang dirawat di rumah sakit tidak hanya yang bergejala sedang dan berat saja, melainkan OTG-GR juga dirawat.

Bacaan Lainnya

Hal inilah menurutnya yang menyebabkan BOR di Buleleng kini mencapai 70 persen lebih. “Jadi, tentu harus dicermati, sehingga beberapa yang OTG-GR diminta menjalani isolasi mandiri sesuai dengan standar operasional prosedur yang ada,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, Satgas Kabupaten terus akan melakukan koordinasi lanjutan dengan seluruh rumah sakit yang ada di Buleleng agar dilakukan seleksi terhadap pasien OTG-GR yang ada di rumah sakit masing-masing. Selanjutnya akan dibuatkan aturan khusus untuk penerimaan pasien OTG-GR di rumah sakit, baik itu rumah sakit pemerintah maupun swasta.

Baca juga :  Disdikpora Bangli Perpanjang Siswa Belajar di Rumah

“Nantinya akan seperti harus ada rekomendasi dari Satgas Desa atau Kelurahan untuk pasien positif. Sehingga, nantinya kalau ada pasien dengan status OTG-GR tidak ada di rumah sakit lagi, tentunya BOR busa menjadi akan lebih kecil persentasenya,” jelas Suyasa.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD menegaskan, pasien dengan status OTG-GR sejatinya bisa isolasi mandiri di rumah. Namun selama ini banyak menyatakan tidak punya tempat sehingga pasien OTG-GR dirawat di rumah sakit. “Nanti harus dicek, apakah pasien punya tempat atau tidak. Jika punya, isolasi mandiri,” ucap Arya Nugraha.

Lanjut dia, RSUD tinggal menunggu aturan dari Satgas Kabupaten, entah itu berupa Surat Edaran (SE) atau bentuk aturan lain. Mengingat, RSUD sebagai rumah sakit pemerintah bekerja sesuai aturan dari Satgas Kabupaten. Jika ada aturan OTG-GR harus mendapatkan rekomendasi dari Satgas Desa atau Kelurahan, RSUD akan menerapkannya.

“Ini untuk menghindari kelelahan dari tenaga kesehatan juga, sehingga tenaga kesehatan bisa untuk lebih fokus kepada pasien yang memang bergejala berat dan sedang saja,” pungkas Arya Nugraha. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.