Kalau Bisa, Marilah Kita Kurangi Atau Hentikan Hukuman Mati!

Mr Joger
Mr Joger

Oleh: Mr. Joger
(Untuk 50 tahun ke atas)

“ORANG ini adalah residivis yang sudah berkali-kali bolak-balik keluar masuk penjara, tapi tetap saja dia kembali melakukan kejahatan yang makin lama makin bejat terus! Apakah orang semacam ini menurut Anda tidak layak segera dihukum mati!?”, gugat teman penulis (yang dosen dan tokoh masyarakat yang cukup terkenal kehebatannya di hampir semua bidang kehidupan termasuk di bidang urusan agama maupun urusan akhirat).

Read More

Dengan tenang campur hati-hati, dan tahu diri, penulis pun menjawab, “Saya memang melihat dan mengerti niat baik yang ada di balik hukuman mati terhadap residivis yang sudah bolak-balik keluar masuk penjara itu, yaitu agar si residivis yang luar biasa bejat itu tidak lagi punya kemungkinan maupun kesempatan untuk mengulangi melakukan kejahatan-kejahatan berikutnya, tapi mungkin sangat amat pantas dan perlu kita sadari juga, bahwa ketika si penjahat yang luar biasa jahat itu kita cabut kesempatan maupun kemungkinannya untuk berbuat jahat, maka pada saat atau detik yang sama sebenarnya kita juga sudah secara sangat jahat dan arogan menutup pintu tobatnya, dengan mencabut nyawanya, dan bahkan kalau, toh kita hubungkan dengan rasa hormat kita kepada Tuhan kita Yang Maha Esa, Mahabaik, Mahaadil, Mahabijaksana, Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahakuasa, Mahabesar, dan Yang juga Mahapengampun, siapa, sih diri kita ini?! Dalil dan dalih apa kira-kira yang akan kita pakai untuk membela diri kita di hadapan Tuhan Yang Mahamelihat, Mahamendengar, dan Mahapengamat yang sudah berani merebut hak prerogatif Beliau untuk mencabut nyawa sesama manusia sebelum waktunya atau sebelum ajalnya?”.

“Wah, ngomong dengan Anda ini repot dan tidak mungkin bisa menang he..he..he”, tangkis teman penulis yang sebenarnya juga pejabat yang sangat berkuasa itu.

Lalu sambil tersenyum geli, penulis pun berusaha mengakhiri dialog santai tapi serius itu dengan kalimat penutup yang tidak terlalu pendek, yaitu, “Lho, maaf Pak, Bapak ini sebenarnya ingin mengajak saya berbicara atau ingin menang? kalau Bapak memang ingin menang, berarti kita tidak usah repot-repot dan banyak-banyak bicara, karena saya akan dengan senang hati mempersilakan Bapak menang, tapi kalau kita memang ingin berdialog untuk bertukar tambah pikiran maupun sudut pandang, marilah kita bicara, bicara, bicara, dan/atau bahkan berdebat terus sampai makin banyak hasil positif maupun negatif yang bisa sama-sama kita ambil hikmahnya, dan tampaknya Bapak, kan tidak perlu khawatir berdialog dengan saya yang, toh bukan siapa-siapa dan juga bukan apa-apa ini. Dan rasa-rasanya, kan hanya orang super-suci atau super-bersih yang sama sekali tidak pernah salah, tidak pernah khilaf, dan/atau 100% sempurna saja lah yang berhak dan/atau bahkan wajib menghukum mati sesama manusia….. Dan/tapi kalau sekiranya pendapat saya ini menurut Bapak memang mengandung kebenaran, silakan diambil dan dipakai, setidak-tidaknya untuk melengkapi isi otak maupun isi hati Bapak yang mungkin saja sebenarnya sudah sangat penuh dengan berbagai pendapat maupun sudut pandang yang beraneka ragam, he..he..he.”.

Dan/tapi untuk selanjutnya, walaupun hanya dalam hati, penulis pun tetap saja menolak adanya hukuman mati di wilayah “Balinesia” atau di pulau Bali yang tak terpisahkan dari Indonesia, dari Asean, dari Asia, dari Dunia, maupun dari alam semesta kita yang sama dan yang satu ini, apalagi kalau hukuman mati itu hendak benar-benar diberlakukan pada diri saya, istri saya, anak saya, menantu saya, teman-teman saya, maupun pada mereka yang bukan teman saya yang tanpa dihukum mati pun pada saatnya atau pada ajalnya, pasti akan mati juga, he..he..he. Atau bagaimana kalau kita buat saja “hukuman setengah mati” yang benar-benar berat dan benar-benar menimbulkan efek jera bagi para residivis super-jahat maupun bagi para koruptor super-bejat yang tega melakukan korupsi di masa pandemi berkepanjangan seperti sekarang ini?

Selamat jalan Bapak Artidjo Alkostar “sang pahlawan penegakan hukum yang juga algojo bagi para koruptor yang sok coba-coba naik banding ke Mahkamah Agung”, semoga ketegasan Bapak yang sangat amat baik, jujur, adil, berani, tegas, dan bertanggungjawab benar-benar mau dan mampu dipahami, diingat, ditiru, dan diikuti oleh makin banyak penegak hukum di negeri kita tercintai ini. Selamat jalan Pak Artidjo Alkostar! Terima kasih Pak Artidjo Alkostar! Terima kasih! Matur suksema! Merdeka!
Joger, Kuta, Balinesia, 01032021. Sore. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.