Mr. Joger
(Untuk orang-orang berakal-budi)
“Maaf Pak Joger, kapan, sih kita harus bersikap adil? Sebelum atau sesudah kita makmur?”, tanya Mr/Pak Tedatsa (te-man da-ri t-eman sa-ya/bukan nama sebenarnya) kepada penulis, padahal waktu itu penulis sudah dalam keadaan setengah tertidur dan setengah sadar.
Mendengar pertanyaan bernada filosofis seperti itu, penulis pun langsung bersemangat terutama karena merasa mendapat kesempatan berbagi dan/atau menyebarkan “kebaikan, kebajikan, dan/atau terutama kebijaksanaan yang benar-benar wajar, optimal, adil, beradab, dan/atau merdeka. “Wan, kalau menurut saya, sih, kemakmuran itu, kan sudah dan akan tetap menjadi dambaan semua orang normal atau semua orang biasa.
Makanya, kalau bisa, sebaiknyalah kemakmuran hidup kita itu kita rancang, bangun, bentuk, miliki, pupuk, rawat, dan tumbuhkembangkan secara benar-benar adil, beradab, bermoral, beretika, beragama, ber-Tuhan, berperikemanusiaan, berwawasan lingkungan, berwawasan kebangsaan, berwawasan kekeluargaan, pancasilais, berwawasan kegotong-royongan, berbudaya, berkemerdekaan, dan/atau secara benar-benar BAJU2RA6BERTETADI alias secara benar-benar (tidak secara seolah-olah saja) BA-ik, JU-jur, RA-mah, RA-jin, BER-tanggungjawab, BER-imajinasi, BER-inisiatif, BER-ani, BER-syukur, BER-manfaat, TE-kun, dan TA-hu DI-ri!”, jawab penulis sambil tersenyum penuh semangat.
“Karena apa, kok sebelum makmur?”, tanya Pak Tedatsa. “Ya, karena kalau sesudah makmur, biasanya orang cenderung gampang lupa atau enggan bersikap adil”, jawab penulis singkat. “Tapi, karena apa, kok sesudah makmur?”, tanyanya lebih lanjut. “Karena ketika sesudah hidup makmur, biasanya orang juga cenderung sibuk menikmati kemakmurannya”, jawab penulis juga singkat. “Tapi bagaimana kalau sedang makmur, apakah orang bisa tetap bersikap adil?”, tanya Pak Tedatsa sambil tersenyum cerdik.
“kalau menurut saya, hidup ini, kan sederetan kesempatan maupun kesempitan untuk memilah-milah dan kemudian memilih. Kalau Anda memilih makmur maupun tetap makmur sebagai tujuan hidup Anda, berarti Anda juga harus mau dan tetap memilih untuk bersikap adil. Karena kalau Anda yang sudah makmur dan ingin tetap makmur, tapi Anda malah bersikap tidak adil, berarti Anda akan makmur dan tambah makmur sendiri saja, tapi di atas ketidakmakmuran dan/atau bahkan di atas kemiskinan orang-orang yang hidup bersama Anda, dan/tapi karena mereka miskin dan merasa diperlakukan secara tidak adil, maka orang-orang yang semuanya miskin dan susah itu pun akan kecewa dan mulai gigit jari.
Lalu, kalau jari-jari mereka sudah habis mereka gigit semuanya, janganlah heran kalau mereka pun akan mencari obyek-obyek baru untuk mereka gigit dalam rangka melampiaskan kekecewaan mereka, dan kalau obyek-obyek lain sudah habis, bagaimana kalau mereka terpaksa menggigit jari-jari maupun diri kita secara keseluruhan. Kacau dong!”, itulah jawaban yang akhirnya malah membuat Pak Tedatsa bengong, tapi tampaknya dia mulai bisa menyadari maupun memahami bahwa sikap hidup yang adil atau beradab atau wajar atau sesuai dengan kesepakatan pihak-pihak yang terkait itu, adalah sikap hidup terbaik yang sebaiknya benar-benar dimiliki dan juga benar-benar dijalankan oleh semua orang normal atau semua orang biasa yang tidak mungkin punya keinginan maupun punya cita-cita untuk punya kehidupan yang tidak baik, tidak menyenangkan, tidak bahagia, maupun tidak sehat secara kejiwaan, raga, pikiran, perkataan, pergaulan, komunikasi, maupun secara “kantong” alias secara finansial.
Atau mungkin Anda punya pendapat lain? Silakan dengarkan dan perhatikanlah secara cermat “suara hati nurani Anda yang terdalam” di mana Tuhan kita Yang Maha Esa, Mahabaik, Mahabijaksana, Mahakuasa, dan Mahaadil sudah dan akan tetap menitipkan “Suara” atau “Bisikan” atau “Ajakan” atau “Anjuran” atau “Titah”, dan/atau bahkan “Perintah” Beliau untuk kita ikuti maupun kita tolak secara bebas dan/tapi bertanggungjawab penuh secara sangat amat pribadi. Tapi, bagaimana kalau orang yang kita ajak hidup bersama itu tidak punya “hati nurani”?
Wah, itu berarti benar-benar masalah, tapi janganlah berputus asa dan tetaplah bersikap wajar, adil, dan beradab, sambil agar dia cepat sembuh sehingga “hati nuraninya” bisa tumbuh dan berfungsi secara wajar kembali, he..he. Setuju? Setuju tidak setuju, tetap terima kasih! Matur Suksema! Matur Nuwun! Hatur Nuhun! Thank you! Danke! Arigato!
Joger. Kuta. Balinesia. 05032021. Subuh.
























