Julie Laiskodat : Awalnya Pasti Susah

  • Whatsapp
Julie Laiskodat. Foto: hen
JULIE Laiskodat (kiri). Foto: hen

DENPASAR – Semua sisi kehidupan tidak ada yang tidak terdampak pandemi Covid-19, karena banyak restriksi menyebabkan ekonomi merosot drastis. Namun, bukan berarti ajakan membantu perajin kain endek Bali melalui Surat Edaran Gubernur Bali tidak berguna.

“Bagi saya itu terobosan bagus, sama dengan kami lakukan di NTT dulu. Kalau bukan orang Bali yang mengangkat budaya Bali, lalu siapa lagi?” kata Ketua DPW Partai Nasdem Bali, Julie Sutrisno Laiskodat, usai pengukuhan pengurus partainya di Jimbaran, Kamis (18/2/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut Julie, kebijakan serupa dijalankan di NTT sejak suaminya, Victor Laiskodat, menjabat Gubernur NTT. Khusus kepada ASN Pemprov NTT wajib mengenakan sarung tenun NTT setiap Selasa dan Jumat. Tujuannya, selain memberdayakan perajin lokal, juga agar terjadi perputaran ekonomi dari transaksi yang dilakukan ASN.

“Kalau ada pejabat di NTT yang sarungnya cuma itu saja dipakai terus, Pak Gubernur nanyain apa tidak malu punya sarung cuma satu? Akhirnya dia beli lagi,” kelakar anggota DPR RI tersebut.

Menurut Julie, awal-awalnya memang sulit mengajak orang memakai sarung NTT. Apalagi sarung diidentikkan dengan pakaian orang kampung, jelas tidak modis dan cocok untuk ASN. Hal itu tidak lepas dari kebiasaan, artinya jika sudah biasa maka akan terasa lebih mudah dijalankan.

Baca juga :  Harga Sewa Los Pasar Banyuasri Menyesuaikan Situasi Pandemi

Soal pandangan bahwa imbauan membeli kain endek ketika masa ekonomi sulit seperti sekarang seperti kurang tepat, dia berkata tidak bisa pemerintah hanya menyelamatkan nyawa, harus menyelamatkan ekonomi juga. Karena ASN masih punya gaji, itu disisihkan untuk membeli produk perajin agar ada perputaran uang yang kembali di masyarakat Bali juga.

“Kalau kita beri beras, itu tahan berapa lama? Tapi jika kita membeli hasil perajin, ada pergerakan ekonomi, dia bisa belanja. Awalnya pasti susah, sama seperti di NTT. Tapi sekarang perajin berlomba memamerkan asli tenun daerah. Pandemi ini justru momentum baik,” ulasnya.

“Kalau kita tidak memberdayakan potensi lokal, pariwisata mau cari apa ke Bali? (Kalau tidak dibiasakan sekarang) generasi berikutnya mau tidak pakai (kain endek) itu?” tutupnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.