Hama Gayas, Dulu Dibenci Sekarang Dicari, Jadi Lauk dan Teman Minum Tuak

  • Whatsapp
HAMA ulat gayas (Lepidiota stigma) umumnya menyerang tanaman dengan memakan sistem perakaran, sehingga tanaman jadi layu dan mati, kini diburu warga Abang Kelod sebagai lauk makanan dan camilan untuk menikmati saat minum tuak dan arak. Foto: nad
HAMA ulat gayas (Lepidiota stigma) umumnya menyerang tanaman dengan memakan sistem perakaran, sehingga tanaman jadi layu dan mati, kini diburu warga Abang Kelod sebagai lauk makanan dan camilan untuk menikmati saat minum tuak dan arak. Foto: nad

KARANGASEM – Ladang di kawasan Dusun Abang Kelod, Desa Abang, Karangasem selama ini banyak dihinggapi hama ulat gayas (Lepidiota stigma). Gayas umumnya menyerang tanaman dengan memakan sistem perakaran, sehingga tanaman jadi layu dan mati. Kalau dulu gayas dibenci warga Abang Kelod, sekarang justru dicari. Kok bisa?

Belakangan ini, warga “membalas” sifat merusak gayas dengan menjadikan gayas sebagai lauk makanan. Juga dijadikan camilan untuk menikmati saat minum tuak dan arak. Usai musim hujan yang berganti ke musim panas, gayas menjadi buruan sebagian warga.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan satu video di salah satu akun media sosial, terlihat seorang warga Dusun Desa Abang, I Nyoman Sutirtayana, mengungkapkan kegagalannya dalam bercocok tanam di lahan tegalan miliknya. Bermaksud menanam ubi dan undis (gude atau kacang hitam), tapi dia justru “panen” gayas di ladangnya. “Bagaimana petani bisa berhasil kalau tanamannya habis dimakan gayas?” serunya dalam bahasa Bali dengan nada kesal.

Sutirtayana yang juga Perbekel Desa Abang itu mengatakan, sebagian besar ladang di wilayahnya berisi hama gayas. Hingga saat ini belum ada solusi nyata untuk pemberantasan hama tersebut. Petani ladang yang biasanya menanam ketela pohon lebih cenderung membiarkan lahannya terbengkalai, hanya digemburkan ketika waktu tertentu saja.

Baca juga :  Tanpa Tujuan Jelas, Duktang Asal Surabaya Langsung Dikarantina

“Kalau waktu untuk menentukan mencari gayas biasanya setelah berganti musim hujan ke musim panas. Setelah beberapa minggu cuaca panas lalu muncul hujan gerimis, besoknya pasti muncul gayas. Waktu itulah warga di sini mencari gayas,” tutur Sutirtayana, Jumat (28/5/2021).

Dia mengisahkan, selain sebagai hama, gayas juga dijadikan makanan favorit sebagian besar masyarakat di Kecamatan Abang. Dia mengklaim beberapa waktu lalu Bupati Karangasem, I Gede Dana, memesan lauk gayas kepadanya. “Beliau sangat suka dengan gayas, rasanya enak dan gurih. Saya bawakan sekantong plastik untuk dipakai lauk,” ungkapnya.

Seorang warga setempat, I Nyoman Kantun, mendaku gayas memang sangat sulit dimusnahkan. Entah itu dipengaruhi oleh kondisi struktur tanah atau ada sebab lain, dia tidak tahu pasti. Selain dipakai lauk, juga dipakai teman minum tuak. Menurutnya yang paling enak bukan yang digoreng, melainkan yang dicampur bumbu santan atau diistilahkan bumbu menyatnyat.

“Rata-rata lahan di sini sudah tidak bisa optimal untuk ditanami tanaman cabai atau sayuran. Hanya bisa diisi keladi dan ketela rambat saja, itu pun dengan hasil yang tidak tentu dan memuaskan,” cetus Kantun. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.