Ganjarist, Simbol Perjuangan Menantang Oligarki

  • Whatsapp
Gus Hendra
Gus Hendra

Bima, itulah nama samaran Soekarno dalam artikel tulisannya kala muda. Bima, karakter wayang Purwa yang berani bicara keras kepada siapa saja, bahkan kepada para dewa. Bima dipakai simbol keberanian sekaligus ketidaksopanan, tapi juga berani berontak menantang ketidakadilan, plus mengajak kepada sikap egaliter atau setara.

BALI, yang pada Pilpres 2019 menyumbang 91,68 persen untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, masuk daftar pilih Ganjarist, gerakan relawan nasional mendukung Ganjar Pranowo sebagai calon Presiden untuk Pilpres 2024. Korwil Bali mendeklarasikan Ganjarist di Seminyak, Minggu (5/12) lalu. Isu utama yang dijual yakni Ganjarist menilai rakyat Bali tak sudi dipimpin sosok intoleran. Pun Ganjar diklaim sebagai calon suksesor terbaik Jokowi, sosok disukai di Bali seturut hasil Pilpres 2019.

Bacaan Lainnya

Memang, intoleransi yang dimaksud terkait suku, agama, ras; isu politik identitas yang relatif laku di Bali. Sebab, dalam tiga hal itu, Bali jelas minoritas di Indonesia. Kemenangan Jokowi di Bali besar disumbang isu ini, gegara Prabowo-Sandi didukung kelompok tertentu yang diopinikan sebagai pelaku, sekurang-kurangnya mendukung, intoleransi berbasis agama. Sentimen identitas itu membenam kuat di benak orang Bali, yang daerahnya pernah dibom tahun 2002 dan 2005 oleh golongan intoleran.

Namun, terselip pula makna kedua intoleran itu, yakni intoleransi atas perbedaan pendapat; baik di ranah publik maupun di internal partai. Memaksakan agar satu tujuan dengan alasan persatuan itu juga intoleransi atas kebinekaan berpendapat, sehingga terjadilah seperti dikatakan Bung Hatta yakni “persatean”. Di titik inilah diksi intoleran itu memiliki pesan jauh lebih menggema, dan bisa dilihat sebagai bentuk santun menantang hegemoni partai.

Baca juga :  Kepuasan Publik Terhadap Presiden Jokowi Meningkat meski Covid-19 masih Tinggi

Sejak dilahirkan, gagasan besar Ganjarist adalah menunjukkan ada yang tidak egaliter dan tidak demokratis di PDIP. Selain itu, dan ini dominan, bahwa Ganjar memiliki nilai jual sekaligus posisi tawar menjanjikan di gelanggang politik. Hasil survei sejumlah lembaga survei yang konsisten menempatkan Ganjar di posisi tiga besar menjadi alat tawarnya, tentu rekam kerja sebagai Gubernur Jateng sebagai indikator lainnya.

Jika dicermati, sesungguhnya magnet Ganjarist cukup kuat menarik perhatian partai lain, sekaligus mampu “menggertak” PDIP. Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, pada 12 November lalu menyindir Nurdin Halid, petinggi Partai Golkar, bahwa kepemimpinan lahir dari kaderisasi secara sistemik, bukan membajak kader lain sebagai jalan pragmatis kekuasaan. Pernyataan Nurdin yang bilang Golkar siap menampung Ganjar untuk maju Pilpres 2024, itu soalnya. Jika Ganjar sekadar petugas partai, rasanya berlebihan jika Hasto sampai harus bereaksi keras semacam itu.

Secara semiosis, Ganjarist mencoba menjadikan diri sebagai simbol perjuangan, dalam hal ini kepada “demokrasi terpimpin” ala Soekarno di internal PDIP. Kehidupan manusia memang penuh simbol, seperti kebiasaan Soekarno, meski bukan tentara, memakai seragam Presiden dengan lima bintang di pundak sebagai simbol penguasa angkatan perang. 

Sulit dielakkan pula Ganjarist mengirim pesan PDIP tidak lagi nyaman untuk kader yang punya mimpi lompatan besar menjadi pemimpin negeri. Dulu PDIP dibesarkan oleh simbol penindasan rezim Orde Baru, tapi kini justru terlihat putar haluan menjadi partai yang menggencet kader sendiri. Salah satu tugas partai, yakni mencetak kader sebagai pelanjut ideologi dan perjuangan partai, seakan disuntik mati.

Baca juga :  DKPP Rehabilitasi Komisioner Bawaslu Bali, Penyelenggara Pemilu bak Manusia Setengah Dewa

Ganjarist mengusung gagasan bahwa Jokowi berhasil membuat demokrasi di Indonesia membaik, dan pilihan tepat memastikan itu dirawat adalah dengan memilih Ganjar. Pernyataan ini dapat dimaknai sebagai sinyal sejauh ini Ganjar merupakan sedikit figur, jika bukan satu-satunya, yang lahir dari perasan aspirasi rakyat bawah, termasuk para kader PDIP sendiri. Pada saat yang sama, pernyataan itu secara halus menuding kader lain sampai hari ini belum ada yang mampu menyaingi sinar Ganjar; termasuk Puan Maharani yang disodorkan menjadi cawapres ke Prabowo Subianto.

Hanya, karena Ganjarist lebih sebagai alat posisi tawar, pertanyaan terbesarnya adalah apakah Ganjar berani keluar dari PDIP untuk serius maju menjadi capres pada Pilpres 2024?

Terlepas dari alasan idealis, ciri khas politisi adalah sulit menganggur dan selalu ingin jabatan lebih tinggi. Mengutip pendapat Abraham Maslow, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia ingin memenuhi kebutuhan puncaknya yakni aktualisasi diri. Jika berdasarkan itu, Ganjar bisa saja maju ke Pilpres, dengan atau tanpa dukungan PDIP. Masalahnya, Pilpres berlangsung ketika dia selesai menjabat Gubernur Jateng, dan itu juga berarti akan kehilangan akses kebutuhan logistik. Masalah lain, popularitas dan elektabilitas dia saat itu juga diragukan tetap stabil, mengingat tidak lagi menjadi pejabat publik yang selalu dipublikasi media.

Melihat fenomena Ganjarist, kita bisa melihatnya seperti apa ingin dilakukan Bung Hatta terkait taktik kemerdekaan dari kolonialisme Belanda. Dia ingin mencetak ribuan kader sekaliber Soekarno yang jago orasi, sehingga dapat membangkitkan semangat menyatukan berbagai kelompok pergerakan. Sebab, meski dijuluki Singa Podium, kekurangan Soekarno adalah tidak mampu menciptakan kader sekualitas dirinya untuk mengajak tetap bersatu sebagai bangsa. Ketidaksukaan Soekarno dengan multipartai sejatinya juga penanda dia tidak suka ada pesaing alami, apalagi sengaja menciptakan orang menjadi pesaing.

Baca juga :  Pemerintah Siapkan Skenario Kembali Produktif di Tengah Pandemi Covid-19

Kondisi serupa seperti samar-samar mulai terlihat di PDIP. Satu hal lagi, yang luput dari perhatian, yang mendapat porsi keuntungan terbesar di polemik ini tetap PDIP. Mereka sukses jadi media darling dengan permainan dramaturgi Erving Goffman, dalam drama perjuangan simbolik menantang oligarki. Airlangga yang Ketua Umum Partai Golkar saja masih jauh popularitas dan elektabilitasnya di bawah Ganjar. PDIP punya dua keuntungan. Pertama, punya kader sangat menjanjikan sebagai capres atau cawapres; kedua, dengan kekuatan 19 persen suara lebih di parlemen, ah tinggal batuk aja PDIP beres sudah mengusung paslon sendiri di Pilpres 2024 itu. Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.