Ganjar, Kilau Sinar Matahari Kembar

  • Whatsapp
Gus Hendra
Gus Hendra

WARTA mengejutkan muncul dari Jawa Tengah (Jateng), Minggu (23/5/2021). Puan Maharani selaku Ketua DPP PDIP memberi pengarahan seluruh kader di Jateng, Sabtu (22/5/2021) serangkaian HUT ke-48 PDIP. Ajaibnya, kader senior PDIP yang juga Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, tidak masuk daftar undangan! Tidak diundangnya Ganjar merupakan konsekuensi dari njomplangnya hasil sejumlah lembaga survei mengenai calon Presiden antara Ganjar dengan Puan. Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Wuryantoro, bahkan terang-terangan menuding Ganjar kelewatan karena terlalu ambisi mengejar kursi Presiden pada Pemilu 2024.

Dari perspektif budaya Jawa, peristiwa ini bisa dibaca bahwa elite PDIP melihat Ganjar melanggar prinsip tan hana srengenge kembar (tidak ada matahari kembar). Keduanya sama-sama berbasis di Jateng, dengan Puan meraup suara 404.034 saat Pileg 2019, juara di Indonesia. Hasil survei elektabilitas Ganjar di atas Puan, itu fakta. Namun, elite PDIP seperti ingin Ganjar mencontoh Jokowi, yang ketika menjabat Gubernur DKI tetap takzim kepada Mega walau hasil surveinya melampaui Ibu Ketua Umum. Berbeda dengan Ganjar yang terlihat “kurang hormat” terhadap Puan. Dan, mengingat Puan anak biologis Mega, sulit melihat peristiwa ini terjadi tanpa seizin, atau malah atas perintah, Mega.

Bacaan Lainnya

Baca juga :  Rekomendasi DPP PDIP untuk Bali Belum Keluar, Ini Penyebabnya

Dalam komunikasi politik, PDIP lumrah memakai bahasa simbolik. “Politik nasi goreng” ala Mega saat menjinakkan Prabowo usai riuh Pilpres 2019 sebagai contohnya. Pesan alienasi Ganjar itu lugas: Ganjar sebagai bawahan Puan harus tahu diri. Dia besar karena PDIP, berbeda dengan Anies Baswedan misalnya, yang jadi elite nasional karena jerih payah sebagai intelektual.

Jika Ganjar resisten, realitas politik seperti di Pemkot Denpasar saat Pilgub Bali 2018 bisa jadi terulang. Kala itu Fraksi PDIP sebagai pengusung saat Pilwali 2015, mendadak bersikap oposan terhadap Rai Mantra, yang menjadi seteru Koster di Pilgub 2018. Pada saat yang sama, fraksi selain PDIP yang sebelumnya rajin menyoroti kebijakan Rai Mantra justru tetiba membentenginya. Dalam konteks Ganjar, bisa jadi Keluarga Besar Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) terpicu memperjuangkan Ketua Umumnya itu mendapat modal politik pada 2024. Meski, jika itu berarti mereka akan berhadapan dengan PDIP.

Alienasi ala Ganjar ini bisa juga diimitasi di daerah lain, termasuk Bali. Jika ada kader berniat melawan senior, nanti “Diganjar-Pranowokan” oleh partai. Secara asosiatif opsinya hanya dua: tetaplah loyal sebagai bawahan, terlepas sekuat apa dilihat atau melihat diri sendiri; atau silakan terus maju dengan risiko terburuk diposisikan menjadi musuh bersama partai.

Uniknya, Ganjar bukan tanpa perlawanan. Dengan “polosnya” pada hari yang sama tidak diundang itu, dia justru bersepeda di jalur khusus road bike di JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta. Secara semiosis dia seperti berkata “aku baik-baik saja” dicueki Puan.

Baca juga :  Pasar Gotong Royong PDIP Bali Perkuat Pemasaran Petani

Filsuf Prancis, Michel Foucault, mencetuskan teori panopticon yakni mekanisme pendisiplinan tubuh oleh penguasa dengan mengkondisikan seseorang merasa selalu diawasi. Dengan kekuasaan besar, tidak mungkin PDIP tidak mengontrol internal. Malah kabarnya DPP punya tim intel di daerah untuk memata-matai kadernya, yang mustahil Ganjar tak tahu. Ganjar seakan lupa dia hanya “penumpang” di kapal besar dengan Megawati sebagai pemilik, yang niscaya punya agenda tersendiri melanggengkan kekuasaannya.

Pertanyaannya, apakah Ganjar bersalah dalam hal ini? Jawabnya bisa bermacam-macam, bergantung kepentingan yang ditanya. Satu hal, realitas ini menandakan dia sangat layak jual di mata publik. Sayang, itu pula mengusik zona nyaman pihak lain di partainya. Sebab, PDIP belum melansir resmi siapa calon potensial mereka, meski nama Puan kencang disuarakan berpasangan dengan Prabowo Subianto. Pun nama Puan sudah aktif diamplifikasi di medsos oleh DPP Gema Puan Maharani Nusantara dengan tagar #PuanTheNextPresident2024. Ini berarti manuver Ganjar melahirkan fenomena matahari kembar di partai.

Singkatnya, Ganjar dianggap ancaman potensial, karena selama ini belum ada ancaman seserius Ganjar bagi trah Soekarno di PDIP. Melepas liar hasil survei juga dapat dibaca bahwa Ganjar secara halus “memaksa” partai, minimal memasukkan namanya dalam kandidasi. Alienasi ini jawaban nyata atas pemaksaan itu, sekaligus mengirim pesan PDIP tidak kurang kader untuk diusung dalam suksesi pasca-Jokowi. Kalau tidak mau manut ya minggat saja. Ganjar juga seperti “mengajarkan” kader populer untuk perlahan-lahan mengurangi ketergantungan pada partai, suatu sikap yang membahayakan kekuasaan elite partai.

Baca juga :  Corona Membara, KPU Tetap Fasilitasi Kampanye Terbuka

Terlepas dari “dosa-dosa” Ganjar, belum ada catatan dia melalaikan kewajiban sebagai Gubernur, sesibuk apapun dia di media sosial. Baik untuk menyosialisasikan program Gubernur, maupun kampanye terselubung menuju kandidasi Presiden. Keadaan ini memudahkan publik berkesimpulan dua hal. Pertama, Ganjar hanya korban kecemburuan elite partainya. Kedua, Ganjar juga korban dari nafsu politiknya sendiri yang, ibarat di jalan raya ramai, tidak tengok kiri-kanan sebelum menyeberang.

Sebagai penutup, peristiwa ini juga menandakan Ganjar kurang berhasil membaca sikap diam Mega selama ini. “Mempermalukan” Puan sama saja mempermalukan Mega. Jokowi yang Presiden saja hormat ke Puan, ini kok sekelas Gubernur belagu amat? Kira-kira begitulah. Kepopuleran Ganjar di panggung survei cukup jadi alasan elite PDIP mencurigainya menghimpun kekuatan sendiri, dan itu berpotensi mengalihkan loyalitas kader dari Puan kepada dirinya.

Mungkin saja sikap Ganjar yang “senang-senang saja” dengan hasil survei itu adalah upaya dia membesarkan nama PDIP juga. Sayang, Puan dan elite PDIP melihat dari sudut berbeda. Maka, opsi paling logis jika hasrat Ganjar jadi Presiden masih membara, adalah mencari “perahu” baru.Ya, realitanya Ganjar terlempar karena menjadi kilau sinar matahari kembar. Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.