MANGUPURA – Event Vespa World Days 2022 usai sudah, tapi semangat dan gelora hal itu diharap dapat terus berlanjut. Besarnya komunitas Vespa di Indonesia dinilai jadi potensi menjanjikan bagi sektor pariwisata, yang perlu digarap maksimal. Apalagi dampak perputaran ekonomi kegiatan tersebut sangat merata.
Salah seorang Vespities asal Garut, Ali Mursyd (50), berharap event yang melibatkan komunitas Vespa bisa terus dilaksanakan secara berkelanjutan. VWD 2022 menjadi semacam cikal bakal adanya konsep wisata baru, yaitu wisata riding atau berkendara. Terlebih komunitas motor di Indonesia cukup banyak, dan anggotanya tidak sedikit.
“Saya sebenarnya berharap Bali bisa ada wisata riding. Konsep itu sangat cocok bagi para biker dan vespities. Kenapa demikian? Karena di Bali jalannya bagus, akomodasi bervariasi, dan obyek wisatanya terkelola dengan baik. Sambil riding, kita berwisata ke Bali,” tuturnya.
Bagi anak motor, kata dia, yang penting bukanlah acaranya, melainkan pengalaman yang diterima ketika berwisata dengan langsung menunggangi motor. Sebab, tentu memiliki suatu cerita tersendiri dan cukup menarik bagi para biker. Apalagi jika ada pemandu yang juga merupakan biker. Sayang, di Bali belum ada konsep wisata semacam itu. Makanya kedatangan komunitas ke Bali untuk riding dan berwisata masih mengandalkan koneksi rekan yang ada di Bali.
Pemerintah daerah, sambungnya, diharap membuat semacam paket wisata berkendara, yang bisa dikerjasamakan dengan IMI Bali atau Vespa World Club. Bisa ditawarkan secara online atau daring, dengan kemasan paket wisata yang terjadwal dan fasilitas pendukungnya. Mulai dari pemandu bermotor yang akan mendampingi komunitas berwisata, akomodasi murah seperti rumah kos, serta akses ke DTW.
Dengan begitu, urainya, akan ada variasi paket yang dipilih para biker. Komunitas bisa nyaman berwisata tanpa takut tersesat. Selain itu, keluarga juga akan lega melepas para biker berwisata ke Bali. “Bagi kami yang sudah berumur, kami ingin yang pasti-pasti saja. Kami suka riding, uang ada, tapi kadang sulitnya di perencanaan. Kalau wisata ini ditakutkan terlalu ramai di jalan, bisa dibuat kuota untuk jumlah rombongan,” sarannya.
Salah seorang pemilik penginapan di wilayah Tuban, Made Sumasa, mengaku bersyukur dengan adanya WWD. Belasan kamar kos yang dia kelola laris manis dipesan biker. Hal itu sangat membantu, di tengah lesunya akomodasi wisata berbintang dan ekonomi akibat pandemi. Singkat tutur, ini jadi pangsa pasar tersendiri bagi pemilik kos-kosan.
“Jika ada wisata riding semacam itu, tentu kami menyambut gembira. Kami punya pangsa pasar tersendiri,” ucapnya bergairah.
Managing Director The Nusa Dua, IGN Ardita, menimpali, VWD yang berlokasi di Pulau Peninsula menjadi model baru pengembangan potensi pariwisata. Sebab, jumlah anggota komunitas di Indonesia cukup besar. Kawasan Pulau Peninsula sangat cocok dijadikan lokasi tempat berkumpul, reuni dan menjalin silaturahmi sesama anggota.
Selama ini, kisahnya, Nusa Dua dikenal dengan kawasan pariwisata terintegrasi. Kegiatan budaya, MICE, dan wisata lainnya terkenal ke mancanegara. Jika event komunitas bisa digarap baik secara berkelanjutan, dia optimis akan menambah segmen pasar Nusa Dua. gay
























