Gagal Panen karena Buah Busuk, Petani Cabai di Sukawati Minta PPL Turun Tangan

  • Whatsapp
PETANI cabai menunjukkan salah satu tanaman cabai yang buahnya busuk. Foto: adi

GIANYAR – Akibat buah yang masih muda busuk, petani cabai di Subak Laud dan Subak Abasan, Desa/Kecamatan Sukawati mengalami gagal panen. Petani berharap ada Penyuluh Petani Lapangan (PPL) yang turun tangan untuk bisa membantu. Permintaan itu diungkapkan Kelihan Dinas Banjar Gelumpang, Sukawati, Wayan Metra, Selasa (23/11/2021).

Lebih lanjut dikatakan, para petani mengeluh karena gagal panen; buah cabai yang masih muda membusuk. “Saya jalan lihat banyak sekali buah cabai busuk. Para petani mengeluh, tapi sepengetahuan saya belum ada PPL yang turun tangan,” ungkapnya bernada menyesalkan.

Bacaan Lainnya

Busuknya buah cabai itu, sebutnya, diduga karena faktor kelembapan udara tinggi, sehingga cabai cenderung jamuran. Di Banjar Gelumpang, dari 437 KK, 80 persen adalah petani.

“Kalau dilihat dari cuaca saat ini, dengan curah hujan dan kelembapan yang sangat rendah, kemungkinan penyakit ini disebabkan cendawan atau jamur. Penyakit ini menurut referensi yang saya baca dikenal dengan penyakit antroksa atau patek,” terangnya.

Salah satu petani, I Komang Mulastra (45) berkata panen cabai tidak lagi menjanjikan sejak pandemi Covid-19. Kini diperparah dengan faktor cuaca. “Buah cabai agak busuk karena lagi hujan, lagi panas. Ini berpengaruh kepada hasil di sawah,” keluhnya.

Baca juga :  Tergerus Longsor, Sejumlah Pelinggih di Desa Manggis Hancur

Harga petik saat pandemi berada kisaran Rp7.000 sampai maksimal Rp15.000. “Harganya tidak pernah baik, terus anjlok, padahal Agustus sampai Desember ini musim panen,” sambungnya dengan nada lesu.

Sebelumnya, harga cabai saat dipetik bisa mencapai Rp30.000 sampai Rp50.000. Namun, ketika memasuki musim panen, harga anjlok disertai buah busuk menyebabkan gagal panen. “Paling murah saat ini 6.000 per kilogram,” ungkap petani yang memiliki lahan cabai seluas 50 are ini.

Lebih jauh diungkapkan, cukup besar terjadi pada dua tahun terakhir. Dalam situasi normal dia bisa panen 150 kg sampai 200 kg sekali petik, dan pemetikan dilakukan maksimal lima kali sebulan. Namun, kini hanya 25 kg sekali petik. Memetiknya pun harus dipilih-pilih karena kebanyakan busuk.

Selain gagal panen dan harga anjlok, petani juga dihadapkan pada berkurangnya subsidi pupuk dari pemerintah. “Subsidi berkurang, nggak seperti dulu (dapat subsidi) pupuk NPK dan urea,” pungkasnya. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.