Ekonomi NTB Tumbuh 7,76 Persen, Sebagian Besar Ditopang Konsumsi Rumah Tangga

KEPALA BPS NTB, Wahyudin. Foto: ist

MATARAM – Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan I tahun 2022 mengalami pertumbuhan sebesar 7,76 persen dibandingkan triwulan I tahun 2021 (y-on-y). Sebagian besar pertumbuhan tersebut digerakkan konsumsi rumah tangga, bukan sektor produktif.

Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengatakan, merujuk pertumbuhan Q-to-Q, bila dibandingkan dengan triwulan IV 2021, pertumbuhan ekonomi di triwulan I 2022 hanya mengalami pertumbuhan 0,92 persen (q-to-q).

Bacaan Lainnya

‘’Di mana, dari sisi produksi, pertumbuhan terjadi pada sembilan lapangan usaha. Sedangkan delapan lapangan usaha lainnya terkontraksi atau menurun,’’ ujarnya, Selasa (10/5/2022).

Menurutnya, lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai 14,28 persen. Selanjutnya, sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,00 persen.

Jasa lainnya sebesar 7,53 persen. Berikutnya, pertambangan dan penggalian sebesar 6,88 persen. ‘’Serta, jasa keuangan dan asuransi sebesar 6,61 persen,’’ kata dia.

Menurut Wahyudin, sektor lapangan usaha yang mengalami kontraksi terdalam adalah konstruksi sebesar 19,44 persen. Selanjutnya, industri pengolahan sebesar 16,89 persen. Berikutnya, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 12,20 persen.

Meski demikian, lanjut dia, dari sisi pengeluaran, ekonomi Provinsi NTB triwulan I-2022 dibanding triwulan IV-2021 tumbuh sebesar 0,92 persen (q-to-q).

Baca juga :  Hari Ini, 33 PMI Asal Jembrana Dites Cepat Kedua

‘’Pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen ekspor LN yang tumbuh sebesar 61,29 persen. Selanjutnya, komponen lain yang mengalami pertumbuhan positif adalah komponen PKRT tumbuh sebesar 1,26 persen dan komponen PK-LNPRT tumbuh sebesar 1,14 persen,’’ jelasnya.

Terkait beberapa komponen yang mengalami kontraksi, yakni komponen PKP yang mengalami kontraksi sebesar 11,85 persen, komponen PMTB mengalami kontraksi sebesar 12,04 persen. Selanjutnya, komponen impor LN yang merupakan faktor pengurang dalam PDRB menurut pengeluaran tumbuh sebesar 46,34 persen.

‘’Tapi memang, dari angka itu, terlihat tren pertumbuhan ekonomi ini memberikan optimisme menatap tahun 2022. Ini karena, selama dua tahun pertumbuhan ekonomi menurun akibat pandemi Covid-19,’’ ungkap Wahyudin.

Ia menyatakan, bahwa pengeluaran atas dasar harga berlaku triwulan I-2022 tidak menunjukkan perubahan signifikan. Sebab, perekonomian Provinsi NTB masih didominasi komponen PK-RT sebesar 60,51 persen.

Selanjutnya, ada komponen PMTB sebesar 35,73 persen, komponen ekspor LN sebesar 20,73 persen. Berikutnya, komponen PKP sebesar 13,53 persen, dan komponen PK-LNPRT sebesar 1,62 persen. ‘’Sedangkan, komponen Impor LN memiliki share sebesar 1,94 persen,’’ tandas Wahyudin. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.