Ditemukan Narkotika, Kalapastik Siap Dicopot

KEPALA BNPP Bali, Brigjen Gede Sugianyar Dwi Putra, mengunjungi Lapas Narkotika (Lapastik) Kelas II A Bangli, Selasa (15/6/2021). Foto: ist
KEPALA BNPP Bali, Brigjen Gede Sugianyar Dwi Putra, mengunjungi Lapas Narkotika (Lapastik) Kelas II A Bangli, Selasa (15/6/2021). Foto: ist

BANGLI – Peredaran narkotika saat ini sudah menjamah sampai ke pelosok desa. Bahkan di tengah masa pandemi Covid-19, pemakaian narkotika di Bali justru mengalami tren kenaikan.

“Jadi, semua pihak harus menyatakan perang terhadap peredaran narkotika,” seru Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNPP) Bali, Brigjen Gede Sugianyar Dwi Putra mengunjungi Lapas Narkotika (Lapastik) Kelas II A Bangli, Selasa (15/6/2021).

Read More

Perang terhadap peredaran narkoba demi terwujudnya Indonesia Bersih Narkoba (Bersinar), sebutnya, tidak cukup dengan menangkap bandarnya saja. Tetap harus dibarengi upaya lain, seperti edukasi untuk yang tidak kena narkoba. Bagi yang telanjur kena narkoba, kata dia, berupa rehabilitasi. Untuk lapas, harus menjadi perhatian berkaitan dengan bersih narkoba.

“Di lapas inilah para penyalahgunaan narkoba mesti digembleng dan dididik agar tidak masuk ke jurang yang sama. Dengan demikian, saat kembali ke masyarakat tidak memakai lagi, dan tidak dikejar aparat serta dikucilkan oleh masyarakat,” pesan alumnus Akpol 1987 tersebut.

Dia mengapresiasi keberanian Kalapastik Bangli yang berkomitmen bahwa jika menemukan barang bukti narkoba dan alat komunikasi dalam lapas, Kalapastik siap dikenakan sanksi. Dari pengecekan, jelas Sugianyar, dia melihat memang betul apa adanya. Pengawasan supermaksimum juga disiapkan hampir sama dengan di Nusa Kambangan. “Tahanan narkoba kelas kakap juga ada di sini. Mereka diisolasi, sehingga tidak bisa berbuat macam-macam lagi dia,” urainya.

Menurut Sugianyar, persoalan narkotika ibarat fenomena gunung es; di permukaan terlihat kecil tapi makin ke bawah jaringannya makin besar. Peredaran narkotika malah naik saat pandemi. “Pandemi narkoba adalah pandemi yang tidak kelihatan, tapi bisa mematikan, merugikan generasi muda,” ulasnya.

Meningkatnya peredaran narkoba saat pandemi, jelasnya, diduga lantaran banyak orang menganggur akibat PHK yang jadi stres, lalu memilih jalan pintas untuk dapat penghasilan dengan menjadi pengedar narkoba. Khusus di Bangli, Sugianyar menilai sudah tidak ada batas antara desa dan kota. Karena kemajuan teknologi, desa juga rawan. Sabu-sabu merambah ke desa, terutama di tempat penambangan pasir.

“Di sana kan perlu bekerja keras, di sana penyalahgunaan sabu itu mesti perlu diperhatikan. Bukan sudah ada, tapi harus diperhatikan. Karena di sini tidak ada BNN, saya harapkan BNN Gianyar memperhatikan ini,” katanya memberi instruksi.

Kalapas Narkotika Bangli, Agus Pritiatno, secara terpisah mengatakan, jumlah warga binaan di Lapastik Bangli sebanyak 426 orang. Kalau dimaksimalkan, daya tampung lapas sampai 800-900 orang. Dia meyakinkan tidak ada peredaran narkotika di Lapastik Bangli, sekaligus menjamin setelah di dalam lapas tidak akan berbuat lagi.

“Tiga bulan sekali ada tes urine. Kalau ada yang positif, tentunya barang itu ada. Kami sudah berkomitmen dari atas ke bawah, kalau ditemukan peredaran narkoba saya siap dicopot. Itu komitmen saya dengan semua,” tegasnya.

Dia menambahkan, Lapastik Bangli dipilih menjadi percontohan nasional, mengingat SOP pengamanan yang diterapkan sesuai standar nasional. Selain itu, kata dia, yang mendukung adalah faktor petugas dan alam. “Di desa ini siapa yang berani bermain-main? Kalau di (Lapas) Kerobokan mungkin masih bisa lempar-lempar, tapi di sini tidak,” pungkasnya. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.