Dikepung Pandemi, Kerajinan Anyaman Tikar Pandan di Bangli Lesu Darah

  • Whatsapp
PERAJIN anyaman tikar pandan di Banjar Tanggahan Talangjiwa, Desa Demulih, Kecamatan Susut, Bangli, lesu darah akibat dirundung pandemi Covid-19. Foto: gia
PERAJIN anyaman tikar pandan di Banjar Tanggahan Talangjiwa, Desa Demulih, Kecamatan Susut, Bangli, lesu darah akibat dirundung pandemi Covid-19. Foto: gia

BANGLI – Kerajinan menganyam tikar pandan dilakoni hampir seluruh rumah tangga di Banjar Tanggahan Talangjiwa, Desa Demulih, Kecamatan Susut, Bangli secara kecil-kecilan. Kolapsnya ekonomi secara umum akibat dirundung pandemi Covid-19 menyebabkan para perajin terpaksa banting harga untuk sekadar bertahan. Kondisi tersebut disampaikan salah seorang perajin, Ni Nengah Genah, ditemui pada Senin (28/12/2020).

Dia berkisah, usaha ini sangat didukung ketersediaan bahan baku. Rerata perajin memiliki ladang yang ditumbuhi pohon pandan, dan keadaan itu memberi peluang meraih keuntungan lebih untuk perajin. Namun, karena terkendala modal, usaha mereka susah berkembang.

Bacaan Lainnya

“Sekarang dari sisi permodalan sudah dibantu dana simpan pinjam Bumdes. Tapi tak cukup hanya dengan bantuan modal itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan, kini sudah ada Pasar Yadnya di Demulih yang menyerap produksi tikar pandan dengan lebih besar. Setidaknya hal itu memberi napas lebih bagi perajin untuk berproduksi.

Pemasaran tikar pandan, sebutnya, cukup baik meski bersaing dengan tikar pelantik . Tikar pandan diburu oleh warga Gianyar, selain dari warga Bangli sendiri. Hanya, karena perajin belum mendapat proteksi, mereka cenderung berjalan sendiri dan malah terkadang banting harga, karena terdesak kebutuhan hidup.

Baca juga :  Update Covid-19 di Denpasar: Pasien Sembuh 24 Orang, Kasus Positif 19, Meninggal Bertambah 1

“Yang namanya usaha dengan modal kecil, kalaupun barang laku terjual, cenderung dengan harga rendah. Sebab, prinsipnya asal laku saja dan lebih cepat dapat uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” ulasnya.

Hadirnya Pasar Yadnya, meski cukup membantu pemasaran, tapi perajin tidak mampu berkembang lebih jauh akibat kondisi pandemi seperti sekarang. Persoalan lain, karena terbentur modal, ketika ada permintaan banyak, perajin tak mampu memproduksi dalam jumlah besar. “Tikar pandan masih tetap laku, terutama untuk upacara agama atau keperluan acara adat,” katanya menandaskan. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.