Dihantam Corona, Perajin “Raab Buyuk” Menjerit

  • Whatsapp
PERAJIN raab buyuk (atap tradisional yang terbuat dari daun nipah) di Lingkungan Samblong, Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana. Foto: man
PERAJIN raab buyuk (atap tradisional yang terbuat dari daun nipah) di Lingkungan Samblong, Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana. Foto: man

JEMBRANA – Pandemi Corona bukan hanya berdampak pada sektor kesehatan, namun juga berimbas pada keberlangsungan usaha kerajinan. Seperti dialami perajin raab buyuk (atap tradisional yang terbuat dari daun nipah) di lingkungan Samblong, Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, menjerit akibat pandemi Covid-19.

Ni Ketut Londri mengutarakan, pekerjaan membuat raab buyuk ini sudah turun-temurun dilakoni para ibu rumah tangga di Kelompok Mekar Sari Lingkungan Samblong. Selain untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mempertahankan tradisi di lingkungannya. Namun akibat Covid-19 orderannya menurun drastis.

Bacaan Lainnya

Ia bercerita, sebelum Covid-19 orderan bisa mencapai 5 ribu sampai 6 ribu batang. Tapi sekarang, order berkurang jauh. Saat ini hanya menerima order 400 batang, itu pun dikerjakan banyak orang. ‘’Saya hanya dapat jatah 25 batang,’’ akunya sembari berharap keadaan kembali normal seperti sebelum Covid-19.

Londri mengatakan, sebelum Covid-19  yang mencari raab buyuk sangat banyak, biasanya dari Gilimanuk, Denpasar, dan Buleleng untuk bahan atap vila. “Per batang saya jual Rp6 ribu. Untuk bambu saya beli per 50 batang ukuran 3 meter seharga Rp35 ribu, untuk bahan buyuk (nipah) didapatkan di wilayah Desa Budeng, Kecamatan Jembrana,’’ sebutnya.

Baca juga :  Pasien Sembuh Covid-19 di Denpasar Bertambah 21 Orang, Kasus Positif 33 Orang

Meskipun sepi oderan, ia tetap membuat raab buyuk untuk stok. Siapa tahu ada yang mencari mendadak.

Hal senada juga diungkapkan Luh Tarni. Ia berujar sebelum pandemi sampai kewalahan menerima order raab buyuk. ‘’Sekarang orderannya sepi, ini tumben ada orderan. Jika sepi orderan saya ngambil pekerjaan nenun,’’ ujarnya.

Para perajin raab buyuk meskipun sudah tradisi turun temurun, masih tersandung masalah klasik yakni permodalan. Terlebih di masa Covid-19 ini. man

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.