EKSPRESI Wakil Sekretaris Internal DPD PDIP Bali, Cokorda Gede Agung, terlihat semringah, Rabu (9/12/2020) begitu data perolehan suara Pilkada 2020 mulai masuk ke sistem hitung cepat di DPD PDIP Bali. Duduk di ruang rapat, sembari menanyakan data dari kabupaten/kota dan mencatat di selembar kertas, di hadapannya terdapat laptop dengan layar terbuka. “Bangli bagaimana? Oke ya, bagus,” ucapnya. Tak berapa lama datang anggota DPRD Bali, Made Budastra dan Yuniati, juga dengan mimik wajah gembira.
“Bangli sudah aman, menang kita,” cetus Budastra begitu masuk ruang rapat menemui Cok Agung. Tiga legislator DPRD Bali itu lalu terlibat obrolan santai sembari tetap menunggu data perolehan suara.
Budastra bertutur, sejak awal PDIP sangat optimis dengan kekuatan mereka di Bangli. Meski Made Subrata, kandidat Bupati yang diusung lawan, berasal dari Kecamatan Kintamani sebagai daerah dengan pemilih terbesar, tetap tidak menghalangi “Banteng” kembali menguasai Bangli. Membelotnya I Made Gianyar, kader PDIP yang juga Bupati Bangli, juga tak mampu mendatangkan kemenangan untuk Subrata, adik kandungnya itu.
“Pemecatan Pak Gianyar selaku kader juga berpengaruh terhadap konstelasi di Kintamani. Meski kami kalah tipis di Kintamani, selisih ratusan suara, tapi di tiga kecamatan lainnya menang,” ungkap Budastra santai. “Kalau pemecatan Pak Gianyar dilakukan lebih awal, bisa jadi perolehan suara di Kintamani menang PDIP. Tapi ya sudahlah, yang penting sudah menang,” imbuh Cok Agung.
Obrolan makin hangat ketika membincang soal Karangasem. Cok Agung dan Budastra tak bisa menyembunyikan kegembiraan ketika perolehan suara paslon Dana-Dipa yang diusung partainya terus menanjak, sedangkan IGA Mas Sumatri-Sukerana stagnan. Masuk pukul 16.30, suara dari Karangasem masuk di atas 70 persen dengan Dana-Dipa terus memimpin dengan selisih sekira 10 persen.
“Menang kita Bud,” sorak Cok Agung sembari tost siku dengan Budastra. “Kalau melihat pergerakan suara, dan kalau relatif sama seperti ini, ya hampir bisa dipastikan menang kami menang,” imbuh IB Kresna Dana, Kepala Sekretariat DPD PDIP Bali, sebelum naik ke ruang hitung suara BSPN di aula di lantai 3 DPD.
Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Macetnya suplai data perolehan suara dari Jembrana mendatangkan mendung di wajah Cok Agung. Beberapa kali dia mondar-mandir dari ruang staf ke ruang rapat. Dari balik pintu terdengar dia beberapa kali memanggil Jembrana, tapi tidak ada jawaban memuaskan. “Sebentar, sebentar, masih tunggu data,” sahutnya seraya bergegas melangkah ketika ditanya perolehan suara Jembrana. Sebelumnya, Cok Agung setengah memastikan komposisi hasil bisa diketahui paling lambat pukul 16.00.
Jawaban dari suramnya suasana sore itu baru terjawab sekitar pukul 18.00, ketika terdengar kabar paslon Kembang Hartawan-Sugiasa ditumbangkan rivalnya, Tamba-Ipat. Cok Agung yang sebelumnya murah komentar, mendadak irit bicara. Wajahnya tegang. Begitu juga wajah Kresna Dana.
“Ya, kalau melihat data sementara yang masuk, sepertinya (Tamba-Ipat yang menang) begitu,” kata Kresna Dana sambil memegang dua lembar kertas berisi corat-coretan angka perolehan suara hasil hitung cepat. “Tapi untuk hasil akhir kami masih menunggu penghitungan manual, masih ada kemungkinan perubahan. Ini kan baru hasil hitung cepat berdasarkan foto C1 hasil di TPS,” tambahnya, kali ini dengan gestur dan nada lesu. hen























