Demi Pulihkan Pariwisata NTB, Sumbawa Technopark Temukan Sistem Deteksi Covid-19

GUBERNUR Zulkieflimansyah saat bersama para peneliti dan pimpinan Sumbawa Technopark di Kabupaten Sumbawa yang berhasil menemukan alat dan sistem deteksi dan surveilans virus SARS-Cov2. Foto: ist
GUBERNUR Zulkieflimansyah saat bersama para peneliti dan pimpinan Sumbawa Technopark di Kabupaten Sumbawa yang berhasil menemukan alat dan sistem deteksi dan surveilans virus SARS-Cov2. Foto: ist

MATARAM – Di tengah situasi pandemi Covid-19, para ilmuwan dan ahli di seluruh dunia terus berinovasi untuk menemukan cara menangani virus tersebut. Salah satunya juga dilakukan oleh Sumbawa Technopark dari Nusa Tenggara Barat.

Lembaga yang menginisiasi pengetahuan dan teknologi diantara lembaga penelitian dan pengembangan, universitas dan industri itu membuat sistem deteksi dan surveilans virus SARS-Cov2. Penemuan tersebut dipresentasikan pada Senin (14/6/2021) di Bandara Sultan M Salahudin Bima oleh Direktur Sumbawa Technopark, Kiki Yulianto, di depan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno; dan Gubernur NTB Zulkieflimansyah.

Read More

Kiki mengatakan hadirnya sistem itu di antaranya untuk memulihkan sektor pariwisata di NTB. Terlebih, NTB akan menjadi tuan rumah sejumlah agenda internasional seperti World Superbike dan MotoGP Mandalika. Dari presentasi tersebut, Kiki berharap Kemenparekraf dapat memberikan bantuan berupa penambahan fasililitas alat yang dibutuhkan untuk menjalankan program sistem deteksi dan surveilans virus SARS-Cov2.

‘’Alat yang kami ciptakan ini kami dedikasikan untuk mendukung program pariwisata di NTB dan mengembalikan kepercayaan wisatawan untuk berwisata di NTB,’’ Kiki.

Penemuan itu merupakan hasil kontribusi Ali Budhi Kusuma lulusan S-3 Mikrobiologi dari Newcastle University, Ari Pribadi lulusan S3 Air Pollution and Environmental Science King’s College London & Imperial College dan Haryandi ahli madya lingkungan kerja. Sistem tersebut menggunakan seperangkat alat pengecekan keberadaan partikel virus SARS-Cov2, termasuk deteksi varian baru dari virus tersebut. ‘’Sistem ini menggunakan serangkaian alat yang terdiri dari air quality sampler, Real-time Polymerase Chain Reaction (RT- PCR) dan Ilumina Sequencer,’’ jelasnya.

Menurut Kiki, alat Ilumina Sequencer itu  harganya bervariasi antara Rp2 miliar sampai Rp4,5 miliar. Fungsinya untuk mengetahui cetak biru (blue print) suatu makhluk hidup dalam bentuk urutan kode genetik (DNA). Alat tersebut juga berfungsi untuk memetakan keseluruhan materi genetik virus SARS-cov2 dan memantau keberadaan varian baru dengan mengacu kepada cetak biru virus SARS-Cov2 yang ditemukan pertama kali. Karena mahalnya alat ini, pihaknya membutuhkan bantuan dari pemerintah.

Penggunaan sistem itu diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan untuk kembali datang ke NTB. Dengan begitu, jelas akan berdampak pada ekonomi masyarakat. Khususnya, yang berada di sekitar destinasi wisata di NTB. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.