Demer Ajak Milenial Bermedsos untuk Raup Cuan, Jangan Jadi Penonton di Negeri Sendiri

DEMER diskusi dengan salah seorang peserta dari generasi milenial dalam dialog publik Empat Pilar Kebangsaan Sebagai Karakter Milenial dalam Mewujudkan Ekonomi Kreatif yang Berkeadilan, di Sanur. Foto: hen

DENPASAR – Era digital memberi banyak kemudahan kepada semua orang untuk menemukan apa yang dicari di internet, termasuk mencari cuan atau uang menggunakan media sosial (medsos). Namun, jika tak bijak bermain medsos, selain waktu terbuang percuma, kesempatan untuk mendapat pekerjaan atau membuka lapangan kerja bisa terbuang percuma.

“Zaman sekarang sangat mudah, tidak perlu punya warung tapi bisa jualan makanan lewat Gojek misalnya. Itu bukti kita sangat dimudahkan jika mudah beradaptasi dengan keadaan,” kata anggota Komisi VI DPR RI, I Gde Sumarjaya Linggih, Senin (28/3/2022).

Bacaan Lainnya

Demer, sapaan akrabnya, mengatakan itu saat dialog publik Empat Pilar Kebangsaan Sebagai Karakter Milenial dalam Mewujudkan Ekonomi Kreatif yang Berkeadilan, di Sanur. Dalam sosialisasi dengan moderator Ketua DPD Partai Golkar Denpasar, I Wayan Mariyana Wandhira itu, turut hadir wirausaha dari kalangan milenial, Arsa Linggih.

Menurut Demer, modal membuka usaha tidak identik dengan uang. Dalam dialog yang dijejali puluhan milenial dan wirausaha muda itu, dia menyebut modal pertama justru modal sosial atau pertemanan. Misalnya makelar tanah; dia tidak punya uang atau tanah, tapi punya kenalan yang ingin beli tanah, atau yang punya uang untuk beli tanah.

Baca juga :  Jamin Kesejahteraan Atlet, Menpora akan Perjuangkan RUU SKN

Hari ini, sambungnya, medsos menjadi modal sosial bagi seseorang. Apalagi jika mempunyai follower atau pengikut banyak, ada berdatangan pemilik usaha yang ingin produknya didukung dan di-endorse. Tinggal unggah barang itu di akun medsos, selesai sudah. Barangnya dapat, uangnya juga dapat.

“Perusahaan hotel sekarang banyak berkembang karena medsos, tidak perlu seperti dulu harus pakai brosur dan dipasarkan langsung ke luar negeri, ketemu agen, baru dapat tamu. Gunakan medsos dengan baik, itu sebagai modal berusaha untuk ekonomi kreatif,” saran Korwil Bali-Nusa Tenggara DPP Partai Golkar tersebut.

Selain modal sosial, dia mengingatkan modal intelektual juga menentukan. Mencontohkan Nadiem Makarim yang sebelumnya pemilik usaha Gojek, Demer berkata Gojek bisa meraksasa saat ini karena kemampuan mengeksplorasi intelektual diri. “Modalnya Nadiem itu di sini,” kata dia sembari menunjuk kepalanya sendiri.

“Selain modal ekonomi, modal satu lagi adalah modal spiritual, yakni kita jangan aneh-aneh atau berbuat curang agar mudah orang mereferensikan kita. Maka, masa muda gunakan waktu bermedsos untuk jadi kekuatan mencapai tujuan hidup,” pesannya.

Menguatkan 4 Pilar Kebangsaan yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945, Demer berujar Indonesia diberkahi sangat kaya sumber daya alam. Jika tidak diimbangi kekuatan sumber daya manusia, generasi milenial Indonesia bisa kalah gesit dengan negara lain dan hanya jadi penonton di negeri sendiri.

Baca juga :  Wisuda Secara Daring, Unud Lepas 670 Wisudawan

“Tidak bisa kita memblok orang luar kerja di sini tapi kita sendiri tidak bisa kerjakan, nanti orang lari ke negara tetangga,” ulasnya.

Dalam sesi diskusi, seorang peserta mengeluhkan sulit mendapat kredit di bank karena dia bekerja di industri kreatif sebagai content creator. Demer mengakui bank konvensional belum bisa menyetujui kredit itu karena harus lihat prospek dan aset debitur, yang dalam hal ini tidak dimiliki content creator.

Ini merupakan anomali ekonomi, karena aset usaha industri kreatif terkadang intangible (tidak berwujud). “Contoh Gojek itu, asetnya tidak tapi kalau dijual nilainya triliunan. Ini pertanyaan bagus, kami akan sosialisasi ekonomi ultra mikro untuk memudahkan masyarakat mendapat modal,” tegasnya.

Di sesi akhir, Arsa Linggih mengajak peserta yang rerata seusianya jeli melihat ceruk peluang berwirausaha. Dia bertukar cerita tentang pengalaman tentang keinginan buka usaha kuliner Indonesia saat kuliah di Amerika Serikat, karena sulitnya mendapat makanan khas Tanah Air.

“Kita generasi milenial bisa kok sukses juga, tentu dengan kerja keras dan tidak berhenti untuk terus mencoba hal baru dan kreatif. Indonesia ini luas, banyak hal bisa kita kerjakan,” ajak pengusaha muda industri kreatif bidang sinematografi tersebut. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.