Dari Bali ke Tiongkok, Guru SMKN 1 Denpasar Dalami Transformasi Pendidikan Digital

PANDE Made Mahendri Pramadewi, S.Pd., M.Kom., Guru Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) SMK Negeri 1 Denpasar (kiri), berkesempatan mengikuti program pengembangan kompetensi pendidik di Republik Rakyat Tiongkok untuk memperluas wawasan mengenai literasi digital, kecerdasan artifisial (AI), dan transformasi pendidikan digital. Foto: ist
PANDE Made Mahendri Pramadewi, S.Pd., M.Kom., Guru Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) SMK Negeri 1 Denpasar (kiri), berkesempatan mengikuti program pengembangan kompetensi pendidik di Republik Rakyat Tiongkok untuk memperluas wawasan mengenai literasi digital, kecerdasan artifisial (AI), dan transformasi pendidikan digital. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, DENPASAR — Pepatah “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri China” menjadi pengalaman nyata bagi Pande Made Mahendri Pramadewi, S.Pd., M.Kom., Guru Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) SMK Negeri 1 Denpasar. Pada Juli 2026, ia berkesempatan mengikuti program pengembangan kompetensi pendidik di Republik Rakyat Tiongkok untuk memperluas wawasan mengenai literasi digital, kecerdasan artifisial (AI), dan transformasi pendidikan digital.

Mahendri merupakan salah satu peserta dari Indonesia dalam Seminar on Digital Literacy Improvement for Primary and Secondary School Teachers and Principals from BRICS Countries yang berlangsung selama 20 hari, 4–23 Juli 2026. Program tersebut diselenggarakan oleh Northeast Normal University dengan dukungan pendanaan dari Ministry of Commerce of the People’s Republic of China.

Read More

Sebanyak 24 guru dan kepala sekolah dari Indonesia, Irak, Afrika Selatan, dan Ethiopia mengikuti program tersebut. Selain memperoleh materi akademik, para peserta juga berkesempatan bertukar pengalaman mengenai perkembangan pendidikan digital di negara masing-masing.

Kegiatan berlangsung di tiga kota, yaitu Changchun, Beijing, dan Shanghai, dengan rangkaian sesi kuliah umum, studi kasus, kegiatan praktik profesional, serta kegiatan pengalaman budaya.

Bagi Mahendri, pengalaman tersebut memberikan perspektif yang lebih luas mengenai perubahan peran guru di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

AI dan Tantangan Guru di Era Digital

Salah satu topik yang mendapat perhatian dalam program tersebut adalah pemanfaatan AI dalam pendidikan. Peserta mempelajari penggunaan AI untuk mendukung pembelajaran, asesmen, pengembangan kompetensi guru, pengelolaan sumber daya pendidikan digital, hingga pengembangan konsep smart teacher.

Pembelajaran tersebut menjadi relevan dengan keseharian Mahendri sebagai guru kejuruan RPL yang juga aktif dalam pengembangan pembelajaran berbasis teknologi.

Menurutnya, perkembangan AI membuat guru perlu lebih dari sekadar menguasai berbagai aplikasi digital. Guru perlu memahami tujuan penggunaan teknologi agar kehadirannya benar-benar mendukung proses belajar.

“Teknologi terus berkembang, sehingga guru juga harus terus belajar. Yang paling penting bukan seberapa banyak teknologi yang kita gunakan, tetapi bagaimana teknologi tersebut benar-benar memberikan dampak pada proses belajar murid,” ujarnya.

Ia melihat perkembangan AI sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan. Kemudahan teknologi dalam menghasilkan teks, gambar, maupun kode program membuat guru perlu merancang pembelajaran yang tetap mendorong murid untuk memahami proses, bukan hanya memperoleh hasil.

Karena itu, pemanfaatan AI dalam pembelajaran perlu disertai penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kolaborasi, serta refleksi. AI dapat menjadi alat bantu pembelajaran, sementara guru tetap berperan dalam mengarahkan proses dan memastikan murid memahami apa yang mereka kerjakan.

Melihat Praktik Pendidikan Secara Langsung

Selain mengikuti pembelajaran di ruang kelas, peserta juga mendapat kesempatan mengunjungi sejumlah institusi pendidikan dan perguruan tinggi, di antaranya Beijing Institute of Technology (BIT), Shanghai Vancouver Film School (SHVFS), Northeast Normal University (NENU) & Affiliated High School, serta Huaze School.

Kunjungan tersebut memberikan pengalaman untuk melihat lebih dekat berbagai aspek pendidikan, mulai dari pengembangan kurikulum, tata kelola lembaga pendidikan, pengembangan kompetensi guru, hingga peluang beasiswa. Peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi secara langsung, termasuk hands-on teknologi dalam pembelajaran matermatika dan bahasa Inggris serta pembahasan mengenai perkembangan AI dan pengaruhnya terhadap industri kreatif, seperti perfilman.

Bagi Mahendri, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat penerapan teknologi dan inovasi dalam pendidikan sekaligus merefleksikannya sesuai kebutuhan pendidikan di Indonesia. Dalam pembelajaran RPL, ia memilih untuk tidak melarang penggunaan AI, tetapi menelaah bagaimana murid memanfaatkannya, misalnya dengan meminta murid menceritakan proses penggunaan AI atau mengumpulkan riwayat interaksinya. Dengan demikian, guru dapat melihat proses berpikir, pemahaman, dan tanggung jawab murid dalam menggunakan teknologi.

Rangkaian program tidak hanya berlangsung di lingkungan akademik. Peserta juga mendapat kesempatan mengenal budaya Tiongkok melalui kunjungan ke sejumlah destinasi, termasuk Great Wall dan Shanghai Circus World.

Pengalaman tersebut memperkaya pemahaman peserta mengenai sejarah, budaya, kreativitas, dan kehidupan masyarakat Tiongkok, sekaligus melengkapi pembelajaran akademik dengan perspektif lintas budaya.

Dari Pengalaman Menjadi Kontribusi

Kesempatan belajar di Tiongkok memperkaya perjalanan Mahendri dalam mengembangkan dan berbagi praktik pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Selain mengajar RPL di SMK Negeri 1 Denpasar, ia aktif sebagai Duta Teknologi Kemendikdasmen Provinsi Bali 2024 (Guru Pejuang Digital), Pandu Literasi Digital Kementerian Komdigi, serta fasilitator dan narasumber dalam berbagai program pengembangan kompetensi guru di tingkat daerah hingga nasional, termasuk Kelompok Kerja PM-KKA dan PembaTIK Keliling Disdikpora Provinsi Bali.

Berbagai peran tersebut memberinya kesempatan untuk berbagi pengetahuan, mendampingi guru, dan mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Pengalaman tersebut kemudian diperkaya melalui program pengembangan kompetensi sertifikasi, CS50x Indonesia–Harvard University dan Google for Education Certified Trainer.

Wawasan yang diperoleh di Tiongkok selanjutnya dibawa kembali ke ruang kelas dan komunitas guru melalui pembelajaran, berbagi praktik baik, pelatihan, dan pendampingan, khususnya dalam pemanfaatan teknologi digital dan AI yang relevan dengan kebutuhan murid.

Membuka Wawasan, Memperluas Jejaring

Program yang diikuti Mahendri juga memperluas jejaringnya dengan pendidik dari berbagai negara. Pertemuan dan diskusi selama program menjadi ruang untuk bertukar pengalaman mengenai tantangan pendidikan, pemanfaatan teknologi, serta berbagai pendekatan yang dapat menjadi bahan pembelajaran dan membuka peluang kolaborasi di masa mendatang.

Kesempatan tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak di dalam negeri. Dukungan dari satuan pendidikan, Dinas Pendidikan, dan Pemerintah Provinsi Bali turut memberikan ruang bagi Mahendri untuk mengikuti program pengembangan kompetensi tersebut. Sementara itu, program internasional ini dilaksanakan melalui mekanisme kerja sama resmi pemerintah, dengan keterlibatan Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri (KTLN) Kementerian Sekretariat Negara serta rekomendasi dari Kementerian Dalam Negeri.

Bagi Mahendri, dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengembangan profesional seorang guru. Kesempatan belajar di luar negeri tidak hanya menjadi ruang untuk meningkatkan kapasitas diri, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada lingkungan pendidikan tempatnya bertugas.

Sepulang dari Tiongkok, wawasan yang diperoleh selama program menjadi bekal untuk memperkaya pembelajaran di sekolah sekaligus dibagikan melalui berbagai forum pengembangan kompetensi dan komunitas guru. Pada akhirnya, pepatah “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri China” mendapat makna yang lebih nyata bagi Mahendri: kesempatan untuk belajar perlu diikuti dengan kemauan untuk berbagi, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat kembali memberi manfaat bagi murid, guru, dan lingkungan pendidikan di Bali. rls/tra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.