Harga Babi Naik, Peternak Belum Bisa Nikmati Untung

MESKI harga babi di Bali mengalami kenaikan hingga rata-rata Rp41 ribu per kilogram sejak dua minggu terakhir, peternak belum bisa menikmati keuntungan. Foto: ist
MESKI harga babi di Bali mengalami kenaikan hingga rata-rata Rp41 ribu per kilogram sejak dua minggu terakhir, peternak belum bisa menikmati keuntungan. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Meski harga babi di Bali mengalami kenaikan hingga rata-rata Rp41 ribu per kilogram sejak dua minggu terakhir, peternak belum bisa menikmati keuntungan. Kenaikan harga jual tersebut tergerus tingginya harga pakan di pasaran. Ketua Gabungan Peternak Babi Indonesia (Gupbi) Bangli, Sang Putu Adil, membenarkan terjadinya kondisi tersebut, Rabu (14/10/2026). Dia menyebut kenaikan harga jual belum sebanding dengan pembengkakan biaya operasional.

“Meski harga naik, peternak belum bisa menikmati untung mengingat harga pakan ikut naik. Paling hanya bisa balik modal saja,” ucapnya.

Read More

Lebih jauh disampaikan, harga pakan melambung sejak hampir sebulan terakhir, akibat naiknya harga bahan baku seperti jagung dan dedak yang terdampak anomali cuaca. Harga pakan jadi tercatat naik Rp10 ribu per sak, sedangkan konsentrat naik Rp15 ribu per sak setelah mengalami tiga kali penyesuaian harga.

“Dengan kondisi pakan yang naik, harga babi idealnya berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram agar peternak bisa meraih untung,” terangnya.

Selain persoalan pakan, peternak di Bangli masih dibayangi ancaman African Swine Fever (ASF) yang belum memiliki obat. Di sisi lain, kualitas bibit babi di tingkat lokal juga menjadi kendala.

Bibit berkualitas kurang baik memerlukan pakan lebih banyak untuk mencapai berat ideal. Babi dengan bibit unggul umumnya membutuhkan 250 kilogram pakan untuk mencapai bobot 100 kilogram. Namun, kondisi saat ini, babi justru menghabiskan hingga 350 kilogram pakan untuk mencapai bobot yang sama.

“Kondisi ini jelas menambah beban biaya produksi peternak,” bebernya.

Adil berharap pemerintah turun tangan menekan kenaikan harga pakan melalui program pertanian terintegrasi, seperti perluasan tanaman jagung dan padi untuk menjamin ketersediaan dedak. Pemerintah juga diharap membantu penyediaan bibit unggul berkualitas tinggi, seperti yang dikembangkan di Denmark maupun Belgia.

Di samping itu, dia mendorong para peternak di Bali melirik pemeliharaan babi lokal. Menurut analisisnya, beternak babi lokal lebih menguntungkan karena dapat memanfaatkan pakan lokal, sehingga menekan modal usaha. “Rekan saya di wilayah Tegal Asah yang bekerja sama dengan wisatawan asing sudah mulai mengembangkan babi lokal ini,” pungkasnya. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.