POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Gebrakan perdana dilakukan Pengprov Pelti Bali periode 2026–2030 di bawah nakhoda Dr. I Wayan Sudana, dengan gelaran akbar Bali Open Tennis Tournament 2026 memperebutkan Piala Gubernur Bali.
Setelah resmi dilantik sebagai Ketua Umum Pengprov Pelti Bali periode 2026–2030, Dr. I Wayan Sudana langsung gerak cepat mengusung visi regenerasi dan kebangkitan prestasi tenis Bali di tingkat nasional.
Bali Open Tennis Tournament 2026 memperebutkan Piala Gubernur Bali, menjadi pembuktian perdananya.
Bukan sekadar turnamen musiman, ajang yang digelar pada 6–13 November 2026 ini merupakan pernyataan sikap bahwa tenis Bali siap melompat menuju peta persaingan di tingkat nasional dan persiapan menuju PON 2028 di NTB dan NTT.
Event yang dirancang kepengurusan Pelti bali periode 2026-2030, ternyata menyedot perhatian jagat tenis tanah air. Terbukti dengan membludaknya peserta yang ikut serta, tak tanggung-tanggung sebanyak 225 petenis dari seluruh Indonesia ambil bagian pada ajang yang menyediakan hadiah total ratusan juta rupiah.
Pertandingan babak awal penyisihan di sebar di empat lapangan tenis yang ada di wilayah Denpasar, seperti, lapangan tenis KONI Bali Kreneng Denpasar, lapangan Tenis Lumintang, lapangan tenis DPRD Bali dan lapangan tenis Prajaraksaka Kepaon Denpasar.
Direktur turnamen Tenis Nasional Piala Gubernur Bali 2026, I Nyoman Darwis Susila Kembar menyatakan antusias peserta ambil bagian dalam turnamen seri kejurnas ini, memaksa panitia membatasi hingga dua ratus tiga puluh peserta dengan katagori pertandingan junior dan senior tunggal dan ganda putra-putri KU 10, 12, 14, 16 tahun.

”Turnamen seri kejurnas yang diakui PB Pelti ini sengaja dikemas KU 10 hingga 16 tahun, dalam upaya memberi ruang terhadap atlet junior Bali untuk berkompetisi, menambah pengalaman bertanding dengan pemain luar Bali. Dengan demikian Pelti dengan mudah memantau talenta talenta potensial untuk dibina lebih lanjut menuju prestasi ke tingkat lebih tinggi,” ungkapnya.
Langkah awal kepengurusan baru Pelti Bali ini terbukti sukses memicu magnet tenis nasional. Lapangan-lapangan di Denpasar mendadak menjadi wadah bertemunya talenta terbaik dari berbagai penjuru tanah air seperti petenis binaan Tenis Club yang ada di pulau Jawa, petenis binaan Pelti DKI Jakarta, Kalimantan, dan Sumatera,” lanjut Darwis.
Ketua umum Pelti Bali Wayan Sudana menyatakan turnamen nasional piala Gubernur Bali dikemas khusus untuk menarik minat regenerasi potensial yang ada diluar Bali mulai dari Kelompok Umur junior dari usia dini 8, 10, 12, 14, hingga 16 tahun.
Di sisi lain, persaingan ketat akan terjadi di nomor senior yang menjadi ajang adu gengsi petenis langganan internasional. “Gebrakan perdana ini memiliki dua sisi dampak positif dapat mendongkrak peningkatan prestasi atlet dan pariwisata Bali melalui sport tourism,” ujarnya.
Menurut Wayan Sudana misi besar kepengurusan Pelti Bali adalah mengaktifkan kembali atmosfer kompetisi nasional yang kompetitif secara berkala sebagai salah satu jalan mematangkan mental atlet-atlet muda Bali, sehingga apa yang menjadi target jangka panjang yakni mengembalikan kejayaan tenis Bali di kancah PON 2028.
Wayan Sudana menambahkan, turnamen yang dulu bernama Gubernur Bali Cup ini, mendapat apresiasi tinggi dari Gubernur Bali Wayan Koster. Bahkan gubernur dua periode ini mengisyaratkan agar turnamen ini dapat dilaksanakan berkesinambungan setiap tahun dengan tetap pada peningkatan kualitas turnamen dan kuantitas jumlah peserta.
Dengan demikian akan dapat menjaga regenerasi atlet potensial untuk dibina secara terprogram yang akan dipersiapkan mengikuti berbagai turnamen tenis baik regional maupun skala nasional. yes























