POSMERDEKA.COM, BANGLI – Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Desa adat yang sarat dengan keunikan budaya dan penerapan tata kelola berbasis Hindu warisan leluhur ini, resmi masuk dalam daftar The 53 Most Beautiful Small Towns in the World versi majalah perjalanan internasional Condé Nast Traveller, yang diterbitkan pada Maret 2026.
Pengakuan ini menambah deretan prestasi Penglipuran yang sebelumnya pernah dinobatkan sebagai desa terbersih ketiga di dunia—setelah Giethoorn di Belanda dan Mawlynnong di India—serta meraih predikat destinasi wisata terbaik dunia pada 2023. Condé Nast Traveller menilai desa adat ini menawarkan pengalaman mendalam menikmati kehidupan tradisional Bali melalui tata ruang yang terjaga rapi, jalan berbatu, arsitektur rumah yang seragam. Pun kawasan hutan bambu yang mencakup sekitar 40% wilayah desa.
Keunikan Penglipuran berpijak pada penerapan konsep tata ruang tradisional Tri Mandala, yang membagi wilayah desa menjadi tiga zona berdasarkan tingkat kesucian: utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Selain itu, bentuk arsitektur rumah adat termasuk angkul-angkul tetap dipertahankan secara konsisten. Untuk pengalaman budaya yang paling meriah, majalah tersebut merekomendasikan kunjungan saat Hari Raya Galungan, ketika jalan utama desa dihiasi deretan penjor yang indah.
Manajer Badan Usaha Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengaku bangga dan bersyukur atas apresiasi internasional tersebut. Kendati demikian, dia menyadari pengakuan ini menuntut tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga keaslian lingkungan dan nilai-nilai adat.
“Kami tidak ingin Penglipuran hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena kesungguhan masyarakatnya dalam menjaga warisan leluhur. Bagi kami, mempertahankan apa yang sudah baik sekaligus terus memperbaiki kekurangan adalah hal yang paling penting,” ujarnya.
Sementara itu, Kelian Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta, menambahkan, perjalanan desa wisata ini dimulai pada tahun 1990 ketika mahasiswa KKN Universitas Udayana memperkenalkan potensi desa tersebut. Tiga tahun berselang, tepatnya pada 1993, Pemkab Bangli menetapkan Penglipuran sebagai desa wisata berbasis masyarakat.
Transformasi besar terjadi pada 2012, ketika masyarakat setempat tidak lagi sekadar menjadi objek, melainkan bertransformasi menjadi pelaku utama pariwisata melalui pengelolaan homestay, atraksi budaya, hingga berbagai layanan wisata mandiri. “Jadi kami tidak lagi hanya menjadi objek yang dipandang saja, tetapi menjadi subjek atau pelaku pariwisata,” tegas Budiarta.
Berbagai penghargaan seperti Kalpataru, predikat desa terbersih, hingga pengakuan global ini semakin memperkokoh posisi Penglipuran. Sebagai komitmen ke depan, Budiarta menegaskan bahwa Penglipuran bukan sekadar destinasi rekreasi konvensional, melainkan sebuah museum hidup yang terus merawat keseimbangan antara pelestarian tradisi, kehidupan sosial masyarakat, dan pariwisata berkelanjutan. gia






















