Dapur Umum

  • Whatsapp
Umar Ibnu Alkhatab
Umar Ibnu Alkhatab

Oleh Umar Ibnu Alkhatab
Kepala Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Bali

SAYA mengunjungi sebuah dapur umum yang diinisiasi oleh Kepolisian Daerah (Polda) Bali dan sejumlah elemen masyarakat. Dapur umum itu dibuat untuk membantu warga yang terdampak pendemi Covid-19. Harus diakui, pendemi Covid-19 telah membuat banyak orang kesulitan, khususnya kesulitan ekonomi. Kita semua terdampak, tetapi skala dampak masing-masing kita berbeda. Ada yang langsung kehilangan pekerjaan dan karena itu tidak mampu membiayai hidupnya, apalagi menafkahi keluarganya. Itu sebabnya kita memberi apresiasi atas hadirnya dapur umum ini. Dapur umum yang diinisiasi oleh Polda Bali dan beberapa elemen masyarakat menyiapkan kurang lebih 1.000 bungkus yang akan disebar ke titik-titik kumpul di mana terdapat warga yang membutuhkan. Semua warga yang dapat kiriman nasi bungkus ini tentunya telah didaftar oleh para relawan yang tergabung dalam dapur umum itu.

Kita yakin bahwa dapur umum semacam yang diinisiasi oleh Polda Bali ini banyak tersebar di kota Denpasar dan kota-kota lain di pulau Dewata. Namun demikian, terasa masih kurang. Kita ingin agar dapur umum semakin banyak dibuat semua pihak, tidak cukup oleh pihak Kepolisian Bali saja guna mengurangi kesulitan warga yang terdampak pendemi. Dalam tulisan singkat ini, kita ingin mengambil contoh jika dapur umum itu dibuat oleh pihak kepolisian Bali. Sebagai ilustrasi, jika sembilan kepolisian resort (Polres) punya semangat yang sama dengan apa yang dilakukan Polda Bali, maka akan ada sembilan dapur umum baru yang bisa diakses oleh warga yang membutuhkan asupan makanan. Setidak-tidaknya, sembilan Polres itu telah ikut meringankan beban warga. Jika kemudian dapur umum itu dibuat juga pihak kepolisian sektor (Polsek), maka berapa puluh dapur umum lagi yang akan muncul. Artinya, jika semua kelompok bergerak, seperti yang dilakukan Polda Bali, maka akan banyak dapur umum yang dapat diakses warga. Keberadaan dapur umum dengan demikian mencerminkan jiwa kegotongroyongan yang dipunyai bangsa ini. Dapur umum adalah social capital yang dimiliki bangsa ini yang bisa membuat bangsa ini mampu menghadapi krisis akibat pendemik.

Baca juga :  Rektor UNR Tutup Usia, “Makingsan di Gni” 25 Mei 2020

Dari sisi pendekatan keamanan, maka dapur umum bisa mengurangi kerawanan sosial yang bakal timbul akibat pendemik yang cukup panjang ini. Kerawanan sosial akan banyak ongkosnya jika tidak diantisipasi dengan cepat dan tepat. Hemat kita, dapur umum adalah alat yang tepat untuk mencegah kerawanan sosial itu. Harus kita akui, pendemi telah menyebabkan banyak korban, dan korban itu akan semakin banyak jika tidak diantisipasi dengan baik. Dalam konteks itu, keamanan masyarakat tidak akan terganggu karena kerawanan sosial telah dicegah sedari awal. Secara teknis, dapur umum tidak membutuhkan banyak biaya, dapur umum hanya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Semakin banyak yang terlibat, kebutuhan dapur umum akan bisa diatasi. Dalam kunjungan ke dapur umum yang diinisiasi Polda Bali, penulis melihat beberapa calon donatur datang menawarkan bantuan, baik donatur asing maupun donatur lokal.

Baca juga :  Deteksi Corona, Ratusan JT NTB Diminta Aktif Periksa Kesehatan

Poin kita adalah kerawanan sosial yang ditimbulkan oleh pendemik ini. Dan pihak Polda Bali cukup cermat melihat potensi itu. Kita tidak ingin kesulitan ekonomi warga memicu kerawanan sosial, yang bentuknya bisa saja penjarahan, kerusuhan, dan ketidakpatuhan pada hukum. Paling tidak, dapur umum ini berkontribusi pada upaya pencegahan bunuh diri personal. Individu yang tidak kuat menghadapi beban ekonomi dan sosial yang terus menumpuk, tentu mengambil jalan keluar yang praktis, berupa bunuh diri personal itu. Dari sisi ini, kita melihat bahwa dapur umum ini punya peran ganda yakni mencegah bunuh diri sosial (penjarahan, dan lain-lain) dan bunuh diri personal.

Akhirnya, dapur umum adalah sebuah gejala sosial yang kecil tetapi menarik. Setiap yang kecil itu selalu menarik, small is beautiful, kata Schumacher. Wallahualam bish-shawab. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.