POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Dengan senter di tangannya, siswa baru SMP PGRI 2 Denpasar menyorot setiap genangan air, mencari jentik-jentik di rumahnya. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru menjadi juru pemantau jentik (jumantik) untuk mencegah timbulnya kasus demam berdarah dengue (DBD) di rumah sendiri.
Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Ayu Sri Wahyuni, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa selama ini warga sering melakukan jalan pintas saat ditemukan kasus demam berdarah dengue yaitu dengan cara pengasapan (fogging). “Padahal, nyatanya tindakan seperti itu hanya mematikan nyamuk dewasa, bukan jentik nyamuk. Oleh karena itu, kami mengarahkan siswa menjadi juru pemantau jentik,” katanya, Kamis (13/7/2023).
Ayu Sri Wahyuni menambahkan, pihaknya berupaya mengedukasi siswa dan dengan pembiasaan yaitu melakukan pemantauan lingkungan tempat tinggal yang rawan dijadikan sarang nyamuk. Pemutusan mata rantai penularan demam berdarah dengue, kata dia, di antaranya dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk seperti menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang menularkan demam berdarah.
“Pembiasaan terhadap pelajar tak hanya pada siswa baru, namun seluruh warga sekolah kami minta untuk menjadi juru pemantau jentik sebagai upaya meminimalisasi penularan DBD di lingkungan rumah,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, saat memantau pelaksanaan MPLS di SMP PGRI 2 Denpasar, mengatakan, pihaknya mendukung program pro lingkungan dan pro kesehatan yang dilakukan SMP PGRI 2 Denpasar dengan membentuk jumantik-jumantik mandiri. Dengan demikian, dalam memberantas jentik nyamuk tidak hanya mengandalkan petugas jumantik yang telah ada, karena diri kita sendiri harus menjadi jumantik.
“Selain menjadi jumantik, para siswa harus memiliki prinsip pola hidup sehat sehingga secara otomatis terbiasa dengan lingkungan rumah maupun sekolah yang bersih,” serunya.
Menurut Agung Wiratama, DBD masih menjadi masalah kesehatan dan ancaman serius. Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti ini tidak hanya berdampak terhadap sektor kesehatan, melainkan juga sektor sosial dan ekonomi masyarakat.
Selain menekankan pola hidup bersih, Agung Wiratama, juga menekankan pentingnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi remaja. Kurangnya edukasi terhadap hal yang berkaitan dengan reproduksi nyatanya bisa memicu terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.
“Salah satu hal yang sering terjadi karena kurangnya sosialiasi dan edukasi adalah penyakit seksual menular, kehamilan di usia muda, hingga aborsi yang berakibat pada hilangnya nyawa remaja,” katanya.
Karenanya, ia memandang arti penting pendidikan kesehatan reproduksi secara komprehensif. Momentum MPLS inilah dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi bahaya HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi remaja.
“Dengan begitu, sejak dini dapat menjaga diri para remaja dalam pergaulan bebas, lebih aware dengan perubahan pada dirinya dan juga dapat mendeteksi kelainan pada tubuhnya lebih dini,” sebutnya. tra
























