Bupati/Wali Kota, Perbekel, Lurah, hingga Bandesa Adat Se-Bali Kompak Laksanakan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber

  • Whatsapp
PARA bupati/wali kota se-Bali berfoto dengan Gubernur Koster. Foto: ist
PARA bupati/wali kota se-Bali berfoto dengan Gubernur Koster. Foto: ist

DENPASAR – Mempercepat pelaksanaan program pengelolaan sampah berbasis sumber di desa/kelurahan dan desa adat sebagai implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019, Gubernur Bali, Wayan Koster, turun langsung menyosialisasikan pengelolaan sampah berbasis sumber secara maraton ke kabupaten/kota se-Bali.

Mengusung slogan “Desaku Bersih Tanpa Mengotori Desa Lain” sesuai dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, yang mengandung makna “Menjaga Kesucian dan Keharmonisan Alam Bali Beserta Isinya, untuk Mewujudkan Kehidupan Krama Bali yang Sejahtera dan Bahagia, Sakala-Niskala”.

Bacaan Lainnya

Gubernur Koster mengatakan, dalam melaksanakan pengelolaan sampah berbasis sumber, bupati/wali kota, perbekel/lurah, dan bendesa adat se-Bali, agar berpedoman pada Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber dan Keputusan Gubernur Bali Nomor 381/03-P/HK/2021 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Desa/Kelurahan dan Desa Adat, serta Instruksi Gubernur Bali Nomor 8324 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pengolahan Sampah Berbasis Sumber di Desa/Kelurahan dan Desa Adat. 

“Model dan tata cara pengelolaan sampah berbasis sumber telah dituangkan dalam Buku Pedoman Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Desa/Kelurahan dan Desa Adat,” kata Koster seperti rilis, Rabu (9/6/2021).

Baca juga :  Libatkan Ibu-ibu PKK, Kelurahan Sesetan Gelar Sosialisasi Serta Pasang Stiker Wajib Masker

Menurutnya, kebijakan ini bertujuan, yaitu membangun budaya hidup bersih, sehat, dan berkualitas bagi masyarakat desa/kelurahan dan desa adat. Menciptakan wilayah wewidangan desa/kelurahan dan desa adat yang bersih, sehat, dan berkualitas guna meningkatkan kualitas lingkungan hidup, dengan pembatasan penggunaan bahan plastik sekali pakai, larangan membuang sampah di danau, mata air, sungai dan laut, pembatasan aktivitas/perilaku yang menghasilkan banyak sampah, dan pengelolaan sampah berbasis sumber secara tuntas. 

Kemudian, lanjut Koster memanfaatkan hasil pengelolaan sampah organik yang berupa pupuk organik untuk mengembangkan pertanian organik. Dilanjutkan dengan memanfaatkan hasil sampah bukan organik untuk dikembangkan menjadi produk yang bernilai ekonomis. 

“Mengembangkan budaya gotong royong masyarakat desa/kelurahan dan desa adat dalam pengelolaan sampah berbasis sumber secara mandiri, dan membangun sinergitas desa/kelurahan dan desa adat dengan menerapkan nilai-nilai kearifan lokal (hukum adat) dalam program pengelolaan sampah berbasis sumber,” bebernya.

Gubernur menambahkan, strategi pengelolaan sampah berbasis sumber sesuai kewenangan masing-masing. Desa bertugas membuat Peraturan Desa (Perdes), desa adat bertugas membuat awig-awig/pararem, sedangkan kelurahan berperan untuk mendukung pelaksanaan program pengelolaan sampah berbasis sumber sesuai dengan kewenangannya. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.