LOBAR – Konflik sosial yang sempat terjadi di Desa Mareje yang berujung pembakaran dan perusakan enam unit rumah warga telah melukai perasaan semua pihak. Tak ingin kejadian itu terulang kembali, masyarakat sekitar pun sepakat berdamai dalam beberapa kali kesempatan, dan terakhir warga difasilitasi pemerintah menggelar Gawe Rapah, Rabu (18/5/2022), hingga bersama-sama berikrar bahwa masyarakat Desa Mareje berasal dari satu rumpun atau ‘Sopoq Tundun’.
Gawe Rapah itu pun dihadiri para petinggi di NTB seperti Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah; Kapolda NTB, Irjen Djoko Poerwanto; Danrem 162/Wirabhakti, Kolonel CZI Lalu Rudy Irham Srigede. Tak hanya itu, jajaran petinggi di Kabupaten Lobar juga turut hadir seperti Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid; Wakil Bupati Hj. Sumiatun; Ketua DPRD Lobar, Hj. Nurhidayah; Kapolres Lobar, AKBP Wirasto Adi Nugroho; Dandim 1606 Lobar, Letkol Arm Arif Rahman; Sekda Lobar, H. Baehaqi, hingga jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemkab Lobar.
Lokasi Gawe Rapah masyarakat Desa Mareje, digelar halaman SDN Mareje. Ratusan masyarakat mengikuti acara tersebut. Masyarakat bahu membahu menyiapkan acara tersebut. Saat acara pun, secara bergiliran tokoh agama baik dari agama Islam dan agama Budha secara bergiliran membacakan doa demi terwujudnya perdamaian di daerah yang dijuluki Negeri di Atas Awan tersebut.
Dalam Gawe Rapah itu, masyarakat secara bersama-sama membacakan Ikrar Sopoq Tundun (Satu Rumpun) yang dipimpin oleh tokoh masyarakat adat Sasak H. Lalu Anggawa Nuraksi. Tujuan dari ikrar tersebut adalah untuk mempererat kembali tali silahturahmi dan tali persaudaraan masyarakat sekitar yang sebenarnya berasal dari satu rumpun dan Sebagian besar berhubungan kekerabatan.
Selain berikrar Sopoq Tundun, perwakilan dari dua agama itu juga diberikan Sembeq Kending (Tanda di dahi). Sembeq Kending itu sebagai simbol agar warga setempat selalu hidup rukun dan damai. Prosesi Sembeq Kending itu diberikan oleh para petinggi baik dari Propinsi NTB maupun Kabupaten kepada para perwakilan tokoh agama seraya menyampaikan pesan “Patuh patuh saling kangen”.
Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid, dalam sambutannya berharap agar ikrar dan proses yang telah dilakukan bisa diamalkan dengan baik. Menurutnya, jika ikrar Sopoq Tundun itu tidak dijalankan dengan baik, maka tentu akan memunculkan hal-hal yang kurang baik. “Kita berharap agar tetap damai, sesuai dengan ikrar yang dibacakan,” harapnya.
Fauzan meminta agar masyarakat yang sempat berseteru untuk melupakan apa yang sudah terjadi dan merajut Kembali masa depan yang lebih indah, yang jauh lebih menjamin masa depan generasi muda “Kegiatan ini simbol untuk menyatukan kita. Mari realisasikan dalam kehidupan kita, demi menjemput masa depan yang lebih baik,” singkatnya.
Sementara itu, Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah, dalam kesempatan itu menyatakan, sekarang ini masyarakat sangat gampang ribut, gampang berkelahi karena sosial media. Untuk itu, dia mengajak masyarakat NTB khususnya di Desa Mareje untuk sering-sering bersilahturahmi. “Perlu sering-sering ngopi bersama. Karena dengan cara yang selama ini lazim dilakukan masyarakat Lombok bisa lebih mempererat persaudaraan,” katanya.
Orang nomor satu di Bumi Gora itu juga menyampaikan pesan yang dia kutip dari cerita tokoh di Mongolia yakni Genghis Khan. Dalam kesimpulan cerita tentang perjalana Kaisar Mongolia itu, Gubernur NTB itu meminta agar masyarakat jangan sekali-kali mengambil keputusan di saat marah atau emosi.
“Ada yang mengambil keputusan saat marah. Karena emosi, kita melupakan kedamaian yang terjaga sejak dulu. Ketika ada miss komunikasi, mari tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk duduk bersama. Kasihan anak istri kita yang tidak tahu apa apa,” pesannya yang sebagai penutup acara tersebut. ade
























